This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label PGP. Show all posts
Showing posts with label PGP. Show all posts

Aksi Nyata Modul 3.3 Program yang Berdampak pada Murid

 

PENGUATAN KARAKTER DAN PENGETAHUAN KEBAHASAAN
MELALUI PROGRAM “YOUTUBER CERDAS DAN BERKARAKTER”

 

Aksi Nyata Modul 3.3 Program yang Berdampak pada Murid


A.  Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Upaya mewujudkan tujuan tersebut tidak akan lepas dari tokoh utama pendidikan, yaitu para pendidik. Upaya para pendidik dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas belajar lah yang menjadi harapan bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Banyak pendidik di lembaga-lembaga pendidikan masing-masing telah mengembangkan sistem dan pendekatan dalam proses belajar mengajar, visi dan misi yang harus diperjuangkan, kurikulum, bahan ajar berupa buku-buku, majalah, dan sebagainya, gedung-gedung tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan lengkap dengan sarana prasarananya, tradisi dan etos keilmuan yang dikembangkan, sumber dana dan kualitas lulusan yang dihasilkan. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan sebagai tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, artinya pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Manusia merdeka merupakan tujuan pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Pendapat Ki Hajar Dewantara lainnya, seorang pendidik hendaknya mendidik anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Mendidik sesuai kodrat alam berarti mendidik anak sesuai kodrat dasar Kodrat anak  sebagai makhluk hidup yang merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan dengan jagad raya ciptaan Illahi lainnya di bumi ini. Dimana manusia harus senantiasa mengatur dan menempatkan diri dalam hubungan yang harmonis dengan alam dan lingkungan sekitar. Keharmonisan hubungan tersebut akan mendukung tercapainya kesejahteraan kehidupan bersama (Koranto, 2018). Ki Hajar Dewantara juga mengungkapkan, “agar supaya kita dapa memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya” (Dewantara, 1977, p. 15).  Menurut beliau, kita boleh mengikuti perkembangan zaman asalkan kita tetap bersikap  selektif.

Salah satu tantangan zaman yang dihadapi anak-anak pada saat ini adalah pesatnya perkembangan teknologi serta arus informasi. Kemajuan bidang teknolgi dan informasi yang merupakan aspek penting dalam globalisai mendorong masyarakat dunia menjadi masyarakat pengetahuan dan informasi (Suryadi, 2020). Membekali anak dengan literasi teknologi adalah hal yang sangat penting, namun kita juga perlu waspada akan dampak negatifnya. Salah satu damapak negatif dari derasnya arus informasi adalah masuknya budaya atau gaya hidup asing yang menyebabkan tergantikannya budaya lokal. Tidak hanya di perkotaan, bahkan anak-anak pedesaan seperti siswa SDN 2 Banaran juga mengalami hal yang sama. Dewasa ini sebagian besar tokoh publik yang menjadi panutan anak adalah para artis dan pembuat konten (content creator) di berbagai media sosial. Sangat disayangkan, apa yang ditampilkan para pembuat konten tidak selalu positif. Tidak mengherankan jika banyak anak yang tercerabut dari akar budayanya. Mereka tidak mengenal apalagi bangga dengan budaya bangsa Indonesia yang luhur dan syarat dengan nilai. Dalam sudut pandang ketahanan nasional, ketidaktahuan generasi muda akan budaya bangsanya sendiri juga merupakan ancaman. Jika anak bangsa tidak mengenal budayanya sendiri, maka akan lebih sulit untuk memupuk rasa cinta tanah air dalam diri mereka. Hal tersebut tentu sangat berbahaya. Hampir mustahil mewujudkan cita-cita nasional Bangsa Indonesia jika sumber daya manusianya tidak memiliki nasionalisme yang tinggi.

Salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang luhur, namun hampir tidak dikenal lagi oleh generasi muda adalah peribahasa. Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang menyatakan suatu maksud, keadaan sesorang, atau hal yang mengungkapkan kelakuan, perbuatan atau hal mengenai diri seseorang (Bangsawan, 2018).  Peribahasa telah menjadi salah satu sarana enkulturisasi dalam proses penanaman nilai-nilai adat dari waktu-ke waktu, di dalamnya terdapat berbagai pesan moral yang dapat membimbing seseorang agar menjadi insan yang berbudi pekerti luhur. Sayang sekali jika budaya bangsa yang luhur tersebut terkikis habis dari bangsa Indonesia.

Salah satu upaya yang dilakukan penulis untuk melestarikan peribahasa sebagai salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang luhur adalah dengan melaksanakan program “Youtuber Cerdas dan Berkarakter”. Program “Youtuber Cerdas dan Berkarakter” merupakan sebuah program yang diharapkan dapat menjadi kegiatan penguatan karakter yang membuat siswa lebih mengenal dan mencintai budaya bangsa Indonesia, sekaligus menjadi pembelajaran literasi teknologi dan literasi kebahasaan bagi siswa SDN 2 Banaran pada khususnya dan generasi muda Indonesia pada umumnya.

Uraian tentang pelaksanaan dan hasil dari program tersebut dapat dibaca pada file di bawah ini:


Untuk tampilan yang lebih nyaman dibaca, Anda juga dapat mengakses DISINI

Hasil aksi nyata yang dilaksanakan adalah berupa video yang diunggah pada kanal Youtube sekolah, SDN 2 Banaran. Yuk kita saksikan bersama. Jangan lupa like, share dan subscribe ya!

Video Kelompok 1




Video Kelompok 2


Video Kelompok 3


Video Kelompok 4



Aksi Nyata Modul 3.1 Guru Penggerak



Dalam modul 3.1 program Guru Penggerak, Calon Guru Penggerak(CGP) mempelajari materi "Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran". Di dalam modul tersebut, CGP mempelajari "Dilema Etika" dan "prinsip-prinsip pengambilan keputusan" serta "9 Langkah pengambilan dan pengujian keputusan".

Materi yang telah dipelajari tersebut selanjutnya diaplikasikan dalam "Aksi Nyata", untuk memberi dampak langsung materi yang dipelajari pada murid. Uraian mengenai aksi nyata yang saya laksanakan, dapat di baca pada artikel berikut:

Artikel dalam format pdf dapat Anda baca pada DISINI 


Terima kasih sudah singgah di blog saya. Mohon kritik dan saran anda terkait aksi nyata di atas, ya!!!!


Pembelajaran sosial dan emosional (Social and Emotional Learning)

Pembelajaran sosial dan emosional
Pembelajaran sosial dan emosional


Pembelajaran sosial dan emosional atau Social and Emotional Learning(SEL) merupakan bagian integral dari pendidikan dan perkembangan manusia. SEL adalah proses di mana semua orang, muda maupun dewasa memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk mengembangkan identitas yang sehat, mengelola emosi dan mencapai tujuan pribadi maupun kolektif, merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain, membangun dan memelihara hubungan yang mendukung, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab dan penuh perhatian.

SEL memajukan kesetaraan dan keunggulan pendidikan melalui kemitraan sekolah-keluarga-komunitas yang otentik untuk membangun lingkungan dan pengalaman belajar yang menampilkan hubungan saling percaya dan kolaboratif, kurikulum dan pengajaran yang ketat dan bermakna, dan evaluasi berkelanjutan. SEL dapat membantu mengatasi berbagai bentuk ketidaksetaraan dan memberdayakan kaum muda dan orang dewasa untuk bersama-sama menciptakan sekolah yang berkembang dan berkontribusi pada komunitas yang aman, sehat, dan adil.


Manfaat SEL

Penelitian menegaskan, para guru, orang tua, dan kepala sekolah setuju: Kompetensi sosial dan emosional dapat diajarkan, diteladani, dan dipraktikkan dan mengarah pada hasil yang positif bagi siswa yang penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah dan dalam kehidupan.

  • Peningkatan keterampilan sosial dan emosional siswa, sikap, hubungan, kinerja akademik, dan persepsi kelas juga iklim sekolah
  • Penurunan kecemasan siswa, masalah perilaku, dan penggunaan zat adiktif
  • Peningkatan jangka panjang dalam keterampilan, sikap, perilaku prososial, dan kinerja akademik siswa
  • Investasi keuangan yang bijaksana - menurut penelitian finansial 


Diterjemahkan dari: https://casel.org/what-is-sel/

RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA BERDASARKAN PEMIKIRAN KHD



Pengetahuan mengenai Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, merupakan informasi berharga yang bisa saya bawa kembali ke kelas saya. Sistem among berazaskan kekeluargaan dengan “asah, asih, dan asuh” mengingatkan saya kembali akan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Banyaknya beban kurikulum, tuntutan pengembangan karir, administrasi, dan banyak masalah lain sepertinya cukup menghabiskan energi keikhlasan dalam diri saya selama ini. Mugkin inilah saatnya untuk kembali “merdeka”. Kembali meluruskan niat, kembali membenahi diri agar menjadi pribadi yang bermutu kepribadian dan kerohaniannya, sehingga dapat menjadi sosok teladan bagi siswa.

Selain langkah di atas, dari pandangan KHD mengenai bagaimana memfasilitasi kodrat alam anak dalam KBM, saya ingin mencoba menerapkan pembelajaran bermuatan dolanan anak. Dengan langkah tersebut siswa lebih menikmati proses belajarnya, belajar berbagai karakter posittif, juga dapat mencapai hasil belajar yang diamanahkan kurikulum. dengan  kata lain anak juga akan "Merdeka Belajar". Berikut adalah Rancangan Aksi Nyata yang akan dilaksanakan:


Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara



Alhamdulilah, di masa pandemi ini, saya berkesempatan menjadi peserta program Pendidikan Guru Penggerak yang diluncurkan kemdikbud dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia dengan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik.

Sebelum mengikuti PGP dan mempelajari modul 1.1 khususnya pada materi “Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara” dalam pembelajaran saya banyak dipengaruhi pendapat Dale dan Piaget. Saya merasa sepaham dengan Piaget yang mengatakan bahwa dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Juga pendapat bahwa pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial sehingga jika anak tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Selama ini, saya lebih banyak melihat dan menilai pembelajaran dari sisi kognitif, namun meskipun sepakat dalam hal tersebut, saya kurang sependapat pada pendapat Piaget bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik semata, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Sebagai individu yang berkembang di lingkungan yang cukup religius, saya merasa pendapat tersebut agak bertentangan dengan kepercayaan saya akan campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia. Saya percaya bahwa Tuhan, menciptakan alam semesta dengan keteraturan (hukum alam), namun demikian jika Dia berkehendak, sangat mudah bagi Tuhan untuk membuat sesuat di luar hukum alam tersebut.

Dari Dale saya menjadi percaya pentingnya media dan aktivitas yang tinggi dalam pembelajaran. Hal tersebut juga yang melatarbelakangi saya mencoba mengembangkan beberapa media pembelajaran dan mempraktekkan berbagai strategi pembelajaran yang berbeda. Namun demikian dalam praktek nyata di kelas, saya menemukan tidak sepenuhnya teori-teori tersebut bisa memberi dampak yang diharapkan. Dengan pemanfaatan media dan strategi pembelajaran yang sama, sering kali menimbulkan hasil belajar yang sangat bervariasi pada setiap siswa. Pada siswa yang sama pun terkadang hasil belajar berbeda, ketika ada faktor psikologis yang mempengaruhi.

Setelah mempelajari Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, saya mendapatkan banyak tambahan wawasan. Salah satu yang cukup membekas di benak saya adalah mengenai pentingnya peran keluarga dalam proses pembelajaran, juga pembelajaran yang berazaskan kekeluargaan (asah, asih, asuh). Saya sangat terkesan mendengar kisah Ki Hajar yang dibagikan Ki Priyo Dwiarso pada salah satu sesi Video Confrence mengenai bagaimana sikap beliau pada para siswa. Ki Hajar mencetuskan sistem among yang berazaskan kekeluargaan agar anak tidak merasa tercerabut dari perasaan kasih sayang keluarga yang ikhlas suci dari orang tua. Peran orang tua tersebut diharapkan dapat digantikan guru di sekolah.

Dalam sistem among, KHD lebih mengedepankan pedagogi. Peran guru layaknya seorang pengasuh (fasilitator) yang membimbing dan mengasuh anak didiknya dengan ikhlas, sesuai minat dan bakat anak yang diasuh. Untuk itu, guru harus dapat mencermati minat, bakat dan kemampuan masing-masing siswa agar jiwa sang anak tetap merdeka lahir batin dalam belajar. Dengan kata lain, sistem among itu bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan.

Menurut KHD dalam mendidik seorang guru harus dapat membaca kodrat alam siswa. Meskipun kodrat alam tersebut terus maju, seiring olah budaya manusia, ada beberapa kodrat alam yang dapat dimanfaatkan dalam KBM. Salah satu kodrat alam anak menurut beliau adalah tenteram dan nyaman di alam kekeluargaan, maka sistem among membawa suasana kehangatan keluarga dalam KBM. Selain itu, kodrat alam yang juga dimiliki anak adalah bermain. Kodrat alam tersebut perlu difasilitasi dengan muatan dolanan anak dan simulasi. Dengan membaca dan memfasilitasi kodrat alam anak, guru dapat mengembangkan minat dan bakat anak, sehingga anak lebih aktif encari tahu, dibadingkan menunggu diberi tahu.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa Ki Hajar Dewantara Sang Bapak Pendidikan Indonesia melihat manusia lebih pada sisi psikologisnya. Menurut beliau manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.



Menurut KHD, guru hendaknya memiliki kepribadian dan kerohanian yang bermutu, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan. Guru juga diharapkan dapat menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Bisa dikatakan bahwa menurut KHD, yang diutamakan dari seorang pendidik adalah fungsinya sebagai model atau figur keteladanan bagi siswa, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Nama Ki Hajar Dewantara sendiri memiliki kaitan erat dengan pendapat di atas. Nama tersebut mengandung makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, dan keutamaan. Seorang pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

Semboyan “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” sesungguhnya mengandung makna yang mendalam. “Tut wuri handayani” yang maknanya “Dari belakang memberikan dorongan dan arahan”, sedangkan “Ing madya mangun karsa” yang artinya “Di tengah menciptakan prakarsa dan ide”, dan “Ing ngarsa sung tulada” yang artinya “Di depan memberi teladan atau contoh tindakan baik” menggambarkan peran ganda guru dalam mendidik. Guru harus bisa membaca keadaan, kapan ia harus berperan sebagai seorang panutan yang memiliki peran dominan dalam memberikan teladan, kapan ia harus membersamai siswa dan berada ditengah-tengah mereka untuk menciptakan prakarsa dan ide, dan kapan harus berada di belakan para siswa dan memberikan dorongan dan arahan.

 Ki Hajar Dewantara juga pernah melontarkan konsep belajar 3 dinding. Sebuah konsep pendidikan mencerminkan tidak adanya batas atau jarak antara pembelajaran di kelas dengan realita di masyarakat.  Belajar bukan sekedar teori dan praktek disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Dengan demikian diharapkan para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak di masyarakat setelah lulus dari sekolah.

Pandangan lain Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan adalah bahwa pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam arti bahwa menjadi manusia yang mandiri agar tidak tergantung kepada orang lain baik lahir maupun batin. Namun demikian kemerdekaan disini tidak berarti kebebasan tanpa batas, melainkan bebas yang mejaga tertib dan damainya hidup bermasyarakat. Sistem among melarang hukuman dan pemaksaan dalam KBM karena akan menghambat pertumbuhan jiwa merdeka sang anak. Namun demikian, pemberian sanksi dibolehkan, selama sifatnya seimbang, netral dan adil.

Pengetahuan mengenai Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, merupakan informasi berharga yang bisa saya bawa kembali ke kelas saya. Sistem among berazaskan kekeluargaan dengan “asah, asih, dan asuh” mengingatkan saya kembali akan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Banyaknya beban kurikulum, tuntutan pengembangan karir, administrasi, dan banyak masalah lain sepertinya cukup menghabiskan energi keikhlasan dalam diri saya selama ini. Mugkin inilah saatnya untuk kembali “merdeka”. Kembali meluruskan niat, kembali membenahi diri agar menjadi pribadi yang bermutu kepribadian dan kerohaniannya, sehingga dapat menjadi sosok teladan bagi siswa.

Selain langkah di atas, dari pandangan KHD mengenai bagaimana memfasilitasi kodrat alam anak dalam KBM, saya ingin mencoba menerapkan pembelajaran bermuatan dolanan anak. Dengan langkah tersebut siswa lebih menikmati proses belajarnya, belajar berbagai karakter posittif, juga dapat mencapai hasil belajar yang diamanahkan kurikulum. dengan  kata lain anak juga akan "Merdeka Belajar"

 

“Merdeka!!!!”