This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Bagaimana Anda mempraktikkan Mindfulness di kelas?


Menerapkan praktik mindfulness di kelas, baik harian atau mingguan tidak harus memakan waktu atau rumit. Intinya bukanlah menambahkan lebih banyak stres untuk Anda, tetapi belajar bagaimana mengelola stres saat itu muncul. Berikut adalah beberapa latihan cepat dan mudah yang dapat Anda tambahkan ke dalam kelas hari ini:

Latihan pernapasan - Sebelum meminta siswa memulai tes atau kuis, atur pengatur waktu selama satu menit dan praktikkan pernapasan penuh perhatian. Bersama siswa, tarik napas dalam hitungan dua dan embuskan hingga hitungan kedua.

Diskusikan emosi - Luangkan waktu sebentar di awal setiap kelas untuk meminta siswa melakukan pemeriksaan emosi. Ini bisa menjadi saat yang tenang bagi siswa untuk berpikir atau membuat jurnal untuk diri mereka sendiri. Atau, ini bisa menjadi kesempatan bagi siswa untuk menyuarakan perasaannya dengan lantang.

Berikan tempat untuk siswa yang stres - Kosongkan sebagian ruang kelas Anda untuk menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk memiliki waktu sejenak untuk diri mereka sendiri. Jika Anda melihat siswa terlihat kesal atau kewalahan, tawarkan mereka waktu di tempat tersebut. Untuk anak-anak kecil, ini bahkan bisa menjadi tenda bermain atau area semi-pribadi lainnya.

Jurnal rasa syukur - Sisihkan waktu 5 menit sekali seminggu bagi siswa untuk membuat jurnal tentang hal-hal yang mereka syukuri.

Perkenalkan perhatian - Bawa latihan pernapasan ke tingkat berikutnya dengan membimbing siswa melalui latihan kesadaran singkat.

Bicarakan tentang manfaat perhatian penuh - Membahas manfaat perhatian penuh dan bahkan berbagi pengalaman dari kehidupan Anda sendiri akan membantu siswa mengadopsi praktik mereka sendiri.

Konsistensi adalah kuncinya, jadi jadikan perhatian sebagai bagian dari rutinitas kelas harian Anda!

Kesadaran adalah kualitas yang kita semua miliki dan dapat ditingkatkan melalui latihan. Sebagai pendidik, penting untuk mengajarkan siswa cara untuk menyeimbangkan tingkat stres mereka dan mempelajari nilai merawat kesehatan mental dan emosional mereka setiap hari.

25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 3

Pada artikel sebelumnya, 25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 1 dan 25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 2 telah dibahas 10 aktivitas pembelajaran sosial emosional beserta ketampilan SEL yang terkait. kali ini saya akan memaparkan 5 aktivitas lain yang mungkin dapat menjadi insprirasi bagi Anda.


11. Sudut Ketenangan

Keterampilan SEL: Kesadaran diri, manajemen diri

Bahan: Aneka gelisah, perabot dan barang lainnya sesuai kebutuhan

Menjadi anak, bahkan pada usia taman kanak-kanak bisa menimbulkan stres - mereka menghadapi pengalaman baru, teman baru, dan lingkungan yang asing. Ciptakan sudut yang tenang untuk membantu siswa menghadapi emosi yang sulit. Sudut ketenangan dapat terlihat berbeda di setiap kelas. Sebagai inspirasi, beberapa hal yang mungkin bisa ditambahkan pada "Sudut Ketenangan" misalnya: Buku, Fidgets (Mainan yang membantu mengatasi stres, seperti slime, squisy, rubiks, dsb), Tempat duduk fleksibel (misalnya arpet, stool, dsb), Stoples penenang, dsb.

Stoples penenang


Arahkan siswa ke sudut ketenangan ketika mereka membutuhkan waktu tenang sendirian, dan dorong siswa untuk memperhatikan emosi mereka sendiri dan menggunakan sumber daya mereka sendiri.


12. Dorong pembicaraan diri yang positif

Ucapan positif


Keterampilan SEL: Kesadaran diri, pengaturan diri

Bahan: Hanya sikap positif!

Familier kah Anda dengan ungkapan-ungkapan berikut?

"Ini terlalu sulit."

“Kurasa ini cukup bagus, tidak perlu susah-susah .” 

"Semua orang lebih baik dalam hal ini daripada aku!"

Sebagai seorang guru, Anda memiliki kesempatan dan peran penting untuk membangun siswa dan memengaruhi cara mereka berpikir tentang diri mereka sendiri. Koreksi siswa dengan lembut ketika Anda mendengar self-talk negatif sepanjang hari, dan gunakan itu sebagai kesempatan untuk menyarankan pemikiran yang baik, seperti:

"Saya akan bekerja keras dan melakukan ini dengan benar."

“Saya bisa melakukan lebih baik.”

“Bagaimana teman sekelas saya memecahkan masalah ini?”

Terapkan ini untuk diri Anda sendiri, juga - jika Anda membuat kesalahan, jangan mencaci diri sendiri. Gunakan itu sebagai kesempatan untuk mendemonstrasikan pembicaraan diri yang positif dan coba lagi.


13. Bingo Minat



Contoh kartu Bingo >DOWNLOAD DISINI

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan

Bahan: Kartu Bingo dengan deskripsi

Bangun koneksi antar siswa dengan permainan bingo yang menyenangkan! Bagikan kartu kepada siswa dan minta mereka untuk menemukan teman sekelas yang cocok dengan deskripsi di setiap kotak.

Gunakan kartu bingo seperti pada contoh di atas untuk menyesuaikan set kartu bingo Anda dengan deskripsi seperti:

  • Bermain sepakbola
  • Suka bayam
  • Memiliki dua atau lebih saudara kandung
  • Lebih menyukai kucing daripada anjing
  • Berbicara lebih dari satu bahasa
  • Lebih suka pancake dari pada wafel
  • Rasa es krim favoritnya adalah coklat

Dan apa pun yang dapat Anda pikirkan! Tidak hanya memperkenalkan siswa pada berbagai latar belakang dan pengalaman, ini juga merupakan pengalaman di sekolah yang luar biasa.


14. Lakukan tindakan kebaikan secara acak

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan, kesadaran sosial
Bahan: Daftar  ide tindakan kebaikan acak!

Promosikan tindakan kebaikan secara acak di kelas Anda untuk membangun budaya sekolah yang positif dan membantu siswa mengembangkan empati.

Beberapa ide yang dapat Anda pertimbangkan adalah:
  • Bicaralah dengan teman sekelas yang terlihat kesepian
  • Pinjamkan buku atau film favorit Anda kepada teman
  • Tulis catatan terima kasih untuk petugas kebersihan sekolah
  • Buka pintu untuk orang di belakang Anda
  • Sumbangkan handuk dan selimut tua ke penampungan hewan setempat
  • Siswa akan mempelajari nilai bersikap baik kepada orang lain dan membangun hubungan di dalam dan di luar kelas!

15. Menulis cerita bersama

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan, kesadaran sosial
Bahan: Kartu dengan petunjuk tertulis atau visual

Bagikan kartu petunjuk dengan berisi teks atau gambar. Mulailah cerita dengan "Pada suatu ketika", lalu lanjutkan ke siswa berikutnya. Siswa harus menggunakan petunjuk pada kartu dan keterampilan kesadaran sosial mereka untuk bekerja sama dan membangun cerita yang menarik.

Dokumentasikan cerita yang dihasilkan siswa! Setelah itu, ajukan pertanyaan seperti
  • Bagaimana perasaan Anda dari cerita itu?
  • Apa bagian cerita yang paling membahagiakan?
  • Apa bagian cerita yang paling menyedihkan?
Itu tadi 5 ide tambahan untuk pembelajaran Sosial Emosional di kelas Anda

Artikel terkait:

Sumber :https://www.prodigygame.com/main-en/blog/social-emotional-learning-activities/

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

  1. Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1?

Alhamdulilah, di masa pandemi ini, saya berkesempatan menjadi peserta program Pendidikan Guru Penggerak yang diluncurkan kemdikbud dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia dengan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik.

Sebelum mengikuti PGP dan mempelajari modul 1.1 khususnya pada materi “Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara” dalam pembelajaran saya banyak dipengaruhi pendapat Dale dan Piaget. Saya merasa sepaham dengan Piaget yang mengatakan bahwa dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Juga pendapat bahwa pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial sehingga jika anak tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Selama ini, saya lebih banyak melihat dan menilai pembelajaran dari sisi kognitif, namun meskipun sepakat dalam hal tersebut, saya kurang sependapat pada pendapat Piaget bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik semata, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Sebagai individu yang berkembang di lingkungan yang cukup religius, saya merasa pendapat tersebut agak bertentangan dengan kepercayaan saya akan campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia. Saya percaya bahwa Tuhan, menciptakan alam semesta dengan keteraturan (hukum alam), namun demikian jika Dia berkehendak, sangat mudah bagi Tuhan untuk membuat sesuat di luar hukum alam tersebut.

Dari Dale saya menjadi percaya pentingnya media dan aktivitas yang tinggi dalam pembelajaran. Hal tersebut juga yang melatarbelakangi saya mencoba mengembangkan beberapa media pembelajaran dan mempraktekkan berbagai strategi pembelajaran yang berbeda. Namun demikian dalam praktek nyata di kelas, saya menemukan tidak sepenuhnya teori-teori tersebut bisa memberi dampak yang diharapkan. Dengan pemanfaatan media dan strategi pembelajaran yang sama, sering kali menimbulkan hasil belajar yang sangat bervariasi pada setiap siswa. Pada siswa yang sama pun terkadang hasil belajar berbeda, ketika ada faktor psikologis yang mempengaruhi.

 

2.    Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini? 

 

Setelah mempelajari Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, saya mendapatkan banyak tambahan wawasan. Salah satu yang cukup membekas di benak saya adalah mengenai pentingnya peran keluarga dalam proses pembelajaran, juga pembelajaran yang berazaskan kekeluargaan (asah, asih, asuh). Saya sangat terkesan mendengar kisah Ki Hajar yang dibagikan Ki Priyo Dwiarso pada salah satu sesi Video Confrence mengenai bagaimana sikap beliau pada para siswa. Ki Hajar mencetuskan sistem among yang berazaskan kekeluargaan agar anak tidak merasa tercerabut dari perasaan kasih sayang keluarga yang ikhlas suci dari orang tua. Peran orang tua tersebut diharapkan dapat digantikan guru di sekolah.

Dalam sistem among, KHD lebih mengedepankan pedagogi. Peran guru layaknya seorang pengasuh (fasilitator) yang membimbing dan mengasuh anak didiknya dengan ikhlas, sesuai minat dan bakat anak yang diasuh. Untuk itu, guru harus dapat mencermati minat, bakat dan kemampuan masing-masing siswa agar jiwa sang anak tetap merdeka lahir batin dalam belajar. Dengan kata lain, sistem among itu bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan.

Menurut KHD dalam mendidik seorang guru harus dapat membaca kodrat alam siswa. Meskipun kodrat alam tersebut terus maju, seiring olah budaya manusia, ada beberapa kodrat alam yang dapat dimanfaatkan dalam KBM. Salah satu kodrat alam anak menurut beliau adalah tenteram dan nyaman di alam kekeluargaan, maka sistem among membawa suasana kehangatan keluarga dalam KBM. Selain itu, kodrat alam yang juga dimiliki anak adalah bermain. Kodrat alam tersebut perlu difasilitasi dengan muatan dolanan anak dan simulasi. Dengan membaca dan memfasilitasi kodrat alam anak, guru dapat mengembangkan minat dan bakat anak, sehingga anak lebih aktif encari tahu, dibadingkan menunggu diberi tahu.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa Ki Hajar Dewantara Sang Bapak Pendidikan Indonesia melihat manusia lebih pada sisi psikologisnya. Menurut beliau manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.

Menurut KHD, guru hendaknya memiliki kepribadian dan kerohanian yang bermutu, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan. Guru juga diharapkan dapat menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Bisa dikatakan bahwa menurut KHD, yang diutamakan dari seorang pendidik adalah fungsinya sebagai model atau figur keteladanan bagi siswa, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Nama Ki Hajar Dewantara sendiri memiliki kaitan erat dengan pendapat di atas. Nama tersebut mengandung makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, dan keutamaan. Seorang pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

Semboyan “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” sesungguhnya mengandung makna yang mendalam. “Tut wuri handayani” yang maknanya “Dari belakang memberikan dorongan dan arahan”, sedangkan “Ing madya mangun karsa” yang artinya “Di tengah menciptakan prakarsa dan ide”, dan “Ing ngarsa sung tulada” yang artinya “Di depan memberi teladan atau contoh tindakan baik” menggambarkan peran ganda guru dalam mendidik. Guru harus bisa membaca keadaan, kapan ia harus berperan sebagai seorang panutan yang memiliki peran dominan dalam memberikan teladan, kapan ia harus membersamai siswa dan berada ditengah-tengah mereka untuk menciptakan prakarsa dan ide, dan kapan harus berada di belakan para siswa dan memberikan dorongan dan arahan.

 Ki Hajar Dewantara juga pernah melontarkan konsep belajar 3 dinding. Sebuah konsep pendidikan mencerminkan tidak adanya batas atau jarak antara pembelajaran di kelas dengan realita di masyarakat.  Belajar bukan sekedar teori dan praktek disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Dengan demikian diharapkan para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak di masyarakat setelah lulus dari sekolah.

Pandangan lain Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan adalah bahwa pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam arti bahwa menjadi manusia yang mandiri agar tidak tergantung kepada orang lain baik lahir maupun batin. Namun demikian kemerdekaan disini tidak berarti kebebasan tanpa batas, melainkan bebas yang mejaga tertib dan damainya hidup bermasyarakat. Sistem among melarang hukuman dan pemaksaan dalam KBM karena akan menghambat pertumbuhan jiwa merdeka sang anak. Namun demikian, pemberian sanksi dibolehkan, selama sifatnya seimbang, netral dan adil.

 

3.    Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD

Pengetahuan mengenai Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, merupakan informasi berharga yang bisa saya bawa kembali ke kelas saya. Sistem among berazaskan kekeluargaan dengan “asah, asih, dan asuh” mengingatkan saya kembali akan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Banyaknya beban kurikulum, tuntutan pengembangan karir, administrasi, dan banyak masalah lain sepertinya cukup menghabiskan energi keikhlasan dalam diri saya selama ini. Mugkin inilah saatnya untuk kembali “merdeka”. Kembali meluruskan niat, kembali membenahi diri agar menjadi pribadi yang bermutu kepribadian dan kerohaniannya, sehingga dapat menjadi sosok teladan bagi siswa.

Selain langkah di atas, dari pandangan KHD mengenai bagaimana memfasilitasi kodrat alam anak dalam KBM, saya ingin mencoba menerapkan pembelajaran bermuatan dolanan anak. Dengan langkah tersebut siswa lebih menikmati proses belajarnya, belajar berbagai karakter posittif, juga dapat mencapai hasil belajar yang diamanahkan kurikulum. dengan  kata lain anak juga akan "Merdeka Belajar"

“Merdeka!!!!”

 

 

 


25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 2



Tulisan ini merpakan lanjutan sebelumnya 25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 1.

5 tambahan aktivitas berikut semoga menginspirasi Anda dalam melaksanakan pembelajaran Sosial Emosional (SEL)

 6. Membaca buku

membaca buku
Membaca buku


Keterampilan SEL: Manajemen diri, kesadaran sosial

Bahan: Buku SEL favorit Anda (coba daftar ini sebagai tambahan referensi)

Tingkatkan pemahaman membaca dan pembelajaran emosional sosial dengan buku-buku yang dirancang untuk mengajarkan keterampilan belajar emosi sosial utama. Menggunakan buku yang membantu berbicara tentang perasaan dapat membantu membuka pintu untuk pertanyaan dan percakapan yang memungkinkan guru  mendapatkan wawasan tentang perasaan siswa, dan bagaimana guru dapat merencanakan lebih banyak pelajaran dan kegiatan untuk membantu mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka. 

Gunakan buku pembelajaran sosial emosional sebagai kesempatan untuk memperkenalkan siswa Anda pada penulis, karakter, dan emosi yang beragam. Untuk siswa yang lebih muda, gunakan "membaca nyaring" untuk mencontohkan emosi dan mendorong siswa untuk menanggapi dengan perasaan mereka sendiri. Siswa yang lebih tua dapat menanggapi dalam diskusi kelas atau menulis makalah.


7. Jam komunitas online


Keterampilan SEL: Keterampilan hinteraksi sosial

Bahan: Platform konferensi video dan komputer

Sulit untuk membangun komunitas jika Anda tidak dapat terlibat dengan siswa secara langsung. Jadi cobalah sisihkan beberapa menit seminggu di mana siswa (dan orang tua mereka) dapat mampir dan mengobrol tentang: 

  • Hal-hal non-sekolah
  • Klarifikasi tentang tugas atau pelajaran terbaru
  • Tantangan atau peluang dari seminggu terakhir

Jika Anda mau, berikan beberapa pertanyaan ice breaking atau game "ramah" online yang Anda yakin akan disukai siswa Anda. Siswa Anda akan mempelajari nilai hubungan, dan Anda akan mengenal siswa Anda serta mempelajari cara terlibat dengan mereka dengan cara yang bermakna.


8. Icebreakers


Keterampilan SEL: Kesadaran diri, keterampilan hubungan

Bahan: Daftar icebreking kelas terbaik kami

Icebreakeing adalah cara yang menyenangkan dan mudah bagi siswa dari segala usia untuk berbagi sedikit tentang diri mereka sendiri di lingkungan dengan tekanan rendah. Ice breaking juga memberi siswa kesempatan untuk merefleksikan emosi dan keinginan mereka sendiri di kelas, dan membantu mereka membangun hubungan satu sama lain.


9. Salam harian

Keterampilan SEL: Kesadaran diri, membangun hubungan

Bahan: Bagan atau kartu dengan pilihan ucapan (opsional)

Buat siswa bersemangat tentang hari sekolah baru dan beri mereka kesempatan untuk menetapkan batasan pribadi.

Ketika siswa tiba di kelas - baik secara virtual atau secara langsung - beri mereka daftar pilihan sapaan yang berbeda. Ketika Anda memberi siswa pilihan, mereka dapat berhenti dan mengevaluasi keinginan dan kebutuhan mereka, serta suasana hati mereka saat memasuki kelas.


10. Pengidentifikasi emosi

Keterampilan SEL: Kesadaran diri, kesadaran sosial

Bahan: Piring kertas, krayon, batang es loli

Ini adalah salah satu strategi pembelajaran sosial emosional terbaik yang bisa diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran di kelas. 

Cobalah kerajinan sederhana ini: Bagikan piring kertas dan mintalah siswa menggambar wajah yang mewakili emosi sederhana - senang, sedih, marah, dan bingung bisa menjadi tempat yang baik untuk memulai.

Tempelkan piring ke stik es krim dan gunakan sebagai topeng saat membaca cerita dengan nyaring. Saat Anda membaca sebuah cerita, tanyakan kepada siswa Anda bagaimana menurut mereka perasaan karakter dalam cerita tersebut. 

Anda juga dapat menggunakan topeng tersebut sebagai check-in di pagi hari untuk memahami emosi siswa di awal hari.


Artikel Terkait:


Sumber: https://www.prodigygame.com/main-en/blog/social-emotional-learning-activities/

25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 1

Kompetensi inti Ketrampilan Sosial Emosional (KSE) dapat diajarkan dengan banyak cara dan lintas pengaturan. Pengajaran SEL sering berfokus pada kecerdasan emosional anak-anak. Tujuan utamanya adalah mengajari anak-anak untuk memahami dan menghargai diri sendiri dan orang lain. Ini secara alami mengarah pada perilaku yang lebih positif yang mendorong penerimaan sosial dan persahabatan. Keterampilan tersebut bersama-sama sering disebut sebagai perilaku prososial.

Anda dapat menggunakan instruksi eksplisit untuk menguraikan tujuan pembelajaran untuk kegiatan khusus SEL dan menjelaskan keterampilan SEL kepada siswa, diajarkan melalui kegiatan rutin dengan mengambiol waktu di luar jam pelajaran (misalnya sebelum atau sesuadah pembelajaran biasa). Anda juga dapat mengintegrasikannya dalam pembelajaran yang menjadi muatan kurikulum. Tetapi pembelajaran sosial-emosional dapat dilaksanakan lebih dari sekedar pelajaran sehari-hari. Anda dapat memberikan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan ini sebagai protokol di kelas atau area konten mana pun, pada momen-momen tertentu, dimana pembelajaran sosial emosional sangat pas untuk dilaksanakan, misalnya saat terjadi konflik di sekolah, saat peringatan hari keluarga, hari kesetiakawanan sosial, dsb.




Tidak peduli di kelas berapa Anda mengajar, kegiatan ini dapat disesuaikan untuk membantu mengajarkan keterampilan sosial dan emosional inti.

1. Kegiatan seni

Anak-anak menggunakan cat, gunting, dan perlengkapan kerajinan lainnya di kelas.


Keterampilan SEL: Kesadaran diri

Bahan: Perlengkapan seni, musik

Seni adalah cara yang tepat bagi siswa dari segala usia untuk menghilangkan stres dan mengekspresikan emosi mereka dengan cara yang positif dan sehat.

Mulailah dengan memilih karya seni, seperti musik (atau bahkan puisi atau cerita) agar siswa bereaksi. Minta mereka menggunakan perlengkapan seni untuk menanggapi. Mungkin perlu dapat membantu/ memancing respon siswa dengan memberikan petunjuk, misalnya berupa pertanyaan seperti:

  • Bagaimana perasaan kamu?
  • Apakah musik ini bahagia atau sedih?
  • Musik mengingatkan kamu warna apa yang cocok untuk menggambarkannya?


2. Memberi siswa pekerjaan

Keterampilan SEL: Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, manajemen diri

Bahan: Bagan pekerjaan, label nama, instruksi dan persediaan untuk setiap tugas

Ruang kelas Anda adalah tempat yang sibuk, dan ada banyak hal yang terjadi. Jaga agar tetap teratur dengan bagan yang mendorong siswa untuk mengambil tanggung jawab dan menyelesaikan tugas kelas yang sederhana dan sesuai usia seperti:

  • Menyiram tanaman
  • Merautkan Pensil
  • Menghapus papan tulis
  • Mengumpulkan lembar kerja
  • Melaporkan absensi ke kantor
  • Menjaga perpustakaan kelas tetap teratur
  • Menyalakan dan mematikan lampu di dalam kelas

Jika Anda mengajar dari jarak jauh, minta siswa untuk bertanggung jawab atas:
  • Melacak kehadiran
  • Memoderasi bagian obrolan
  • Memberikan laporan cuaca singkat
  • Memilih dari daftar icebreaking

Meminta siswa bertanggung jawab atas diri mereka sendiri dalam berbagai cara cukup mampu mengajarkan manajemen diri, serta mendorong siswa memiliki rasa bertanggung jawab.

Anda mungkin bisa membuat poster atau kartu daftar pekerjaan menjadi lebih menarik. Seperti gambar di bawah ini, atau mungkin jauh lebih baik.

Daftar pekerjaan kelas


3. Mindfulness

Keterampilan SEL: Kesadaran diri, manajemen diri

Bahan: Tidak ada! Hanya daftar aktivitas perhatian favorit Anda

Berikan instruksi berikut!

Baiklah, mari jeda.

Tarik napas, dan keluarkan.

Turunkan bahu Anda dan duduk tegak.

Bukankah itu terasa lebih baik?



Mindfulness dapat membantu siswa dari segala usia belajar bagaimana mengidentifikasi dan mengatur emosi mereka ketika mereka sedih, takut atau stres.

Luangkan waktu sejenak di kelas Anda dan cobalah beberapa aktivitas berikut:

Ajari siswa untuk melakukan aktivitas STOP ketika mereka menghadapi situasi emosional. Mainkan peran berkaitan dengan beberapa situasi stres dan ajarkan siswa untuk:

  • Stop, berhenti dari semua aktivitas yang sedang dilakukan
  • Take a breath to calm down, tarik napas dalam-dalam, rilekskan tubuh
  • Observe the situation, amati apa yang terjadi pada tubuh, suasana sekitar, seperti hembusan angin, suara alam dan sebagainya
  • Proceed with a solution, setelah hati tenang kembali, lanjutkan aktivitas

Mintalah siswa untuk mengidentifikasi moment di mana mereka menahan stres di tubuh mereka. Misalnya, bahu tegang, cemberut atau bahkan kaki yang melambung. Bimbing mereka untuk melepaskan stres dan mencapai tubuh yang lebih seimbang.

Perhatikan indra. Mintalah siswa untuk mengidentifikasi:

  • Lima hal yang bisa mereka lihat
  • Empat hal yang bisa mereka sentuh
  • Tiga hal yang bisa mereka dengar
  • Dua hal yang bisa mereka cium
  • Satu hal yang bisa mereka rasakan

Anda belum memiliki gambaran jelas, bagaimana mempraktekkan mindfullness? Simak video berikut!



4. Tetapkan Tujuan

Keterampilan SEL: Manajemen diri

Bahan: Jurnal atau checklist tujuan

Bagian besar dari pembelajaran emosional sosial adalah menumbuhkan mindset berkembang - Jadi.... cara apa yang lebih baik untuk melakukannya selain menetapkan tujuan?

Mengapa penting bagi guru, untuk melibatkan siswa dalam menetapkan tujuan?

Jawabannya dapat Anda temukan dalam video berikut!

Jadikan penetapan tujuan sebagai bagian rutin dari rutinitas kelas Anda, Mungkin Anda bisa melakukan hal-hal berikut:

  • Selenggarakan konferensi yang dipimpin siswa - Tetapkan tujuan akademik dan perilaku
  • Mulai unit baru - Gunakan bagan KWL (Know, Whan to Know, Learned) untuk membantu siswa mengidentifikasi keterampilan mana yang ingin mereka kembangkan.
  • Memberi umpan balik untuk sebuah proyek - Apa yang berhasil dilakukan siswa? Apa yang harus mereka fokuskan di lain waktu?

Dalam menetapkan tujuan, penting bagi kita untuk menerapkan prinsip SMART

Penjelasan lebih lanjut mengenai hal tersebut ada dalam video berikut:


5. Check-in dengan siswa Anda

Keterampilan SEL: Manajemen diri, kesadaran sosial

Bahan: Tidak ada

Ketika siswa belajar, mereka membawa emosi mereka.Direkomendasikan untuk memulai hari Anda dengan check-in untuk memahami apa yang siswa rasakan.

Video di bawah ini mungkin memberi Anda lebih banyak ide.

Video di bawah ini, mungkin memberi Anda ide, bagaimana melakukannya di kelas daring


Mungkin video di bawah ini juga cukup membantu:


To be continued ....


Baca juga:

25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 2


Sumber: https://www.prodigygame.com/main-en/blog/social-emotional-learning-activities/

Pengaturan Kelompok Belajar yang Produktif dan Mendukung SEL

Pengaturan Kelompok Belajar yang Produktif dan Mendukung SEL
Pengaturan Kelompok Belajar yang Produktif


Dalam pembelajaran sosial emosional, pembelajaran kooperatif adalah sesuatu yang sangat esensial. Mampu bekerja dalam kelompok merupakan kecakapan hidup yang penting. Siswa akan belajar bagaimana bernegosiasi dengan orang lain, mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan mengetahui kekuatan mereka sendiri sehingga mereka dapat memberikan kontribusi terbaik untuk kelompok. Apakah tujuan tesebut dapat tercapai bila kita sebagai guru mengatur pengelompokan secara serampangan?

Jawabannya adalah "TIDAK!"

Diperlukan strategi pengatura kelompok yang jitu agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Berikut adalah beberapa pedoman yang dapat Anda gunakan dalam mengatur pengelompokan di dalam kelas.


Bukan Hanya Kerja Kelompok - Kerja Kelompok yang Produktif!

Untuk memastikan kerja kelompok yang produktif, guru harus mengkomunikasikan harapan, membangun kelompok secara strategis, menyusun kegiatan, pekerjaan perancah dengan budaya kelas yang mendukung, dan menekankan akuntabilitas individu.

Kita tahu bahwa kerja kelompok dapat dikatakan efektif secara instruksional, hanya jika kelompok tersebut produktif. Kita tidak hanya ingin menyibukan siswa ketika siswa bekerja dalam kelompok - kita ingin mereka belajar! Dan kenyataannya, "Tugas tidak selalu menciptakan pembelajaran," Sebagian guru mungkin berasumsi sebagaimana instruksi yang diberikan dengan jelas, kerja kelompok akan meningkatkan produktifitas. Sebaliknya, banyak guru yang beranggapan bahwa dengan membangun budaya kelas, kerja kelompok juga akan serta merta menjadi produktif. Sebenarnya, banyak faktor mengarah pada kerja kelompok yang efektif dan produktif, tetapi semua harus dipenuhi untuk mewujudkan hal tersebut. Jadi bagaimana kita membuat struktur itu untuk kerja kelompok yang produktif?


Tujuan yang Jelas

Tujuan kerja kelompok perlu dijelaskan tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru. Apakah siswa tahu hasil yang diharapkan, dari mengapa mereka ditugaskan untuk bekerja dalam kelompok? Apakah ekspektasi tersebut telah ditetapkan dengan jelas? Sudahkah siswa menetapkan sendiri ekspektasi itu? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dipertimbangkan pendidik saat mereka menyusun kerja kelompok. Selain itu, ada banyak cara untuk melakukan kerja kelompok, mulai dari pengelompokan acak hingga pengelompokan yang ditentukan oleh guru, atau jalan tengah dari kedua strategi tersebut. Semua pilihan itu bagus, asalkan niat Anda jelas. Pengelompokan pilihan guru dapat menjadi efektif ketika idenya memandu instruksi berdasarkan kebutuhan yang dinilai. Pilihan siswa sangat bagus untuk proyek dan tugas tambahan. Apa pun alasan yang mendorong pilihan tersebut, tujuan pengelompokan harus jelas dahulu.


Heterogen vs.Homogen

Mirip dengan niat yang jelas, pengelompokan yang heterogen dan homogen harus disengaja dalam pilihan. Ada sisI positif maupun negatif dari kedua pilihan tersebut. Menyatukan siswa dengan kemampuan serupa mungkin tidak selalu menghasilkan hasil yang diinginkan. Jika siswa dalam kelompok yang berprestasi rendah tidak memiliki akses ke sumber daya (guru, materi, dll.) Untuk menyelesaikan tugas, mereka tidak akan mencapai hasil yang diinginkan. Sebaliknya, terkadang, anggota kelompok berprestasi gagal berinteraksi satu sama lain, jadi guru harus memastikan bahwa iklim yang positif dibangun untuk itu. Demikian pula, tim yang heterogen seharusnya tidak hanya diterjemahkan menjadi "anak-anak yang lebih tinggi dan lebih rendah", tetapi diatur dengan cermat. Terkadang siswa yang berprestasi akan mengambil alih dan mengeluarkan orang lain dari proses pembelajaran. Pendidik perlu memikirkan dengan sangat hati-hati tentang konstruksi pengelompokan yang homogen dan heterogen, dan niat keduanya.


Pentingnya Struktur

Perhatikan video berikut!


Seperti yang dijelaskan dalam video tentang PBL di atas, kolaborasi terstruktur adalah kuncinya. Anda tidak boleh menempatkan siswa dalam kelompok dan hanya meminta mereka untuk menyelesaikan tugas. Seiring dengan tujuan yang jelas, guru perlu mempertimbangkan protokol dan struktur untuk memfasilitasi kerja kelompok yang efektif. Apakah itu protokol kritik atau pengajaran timbal balik, struktur ini dapat membantu memastikan bahwa kerja kelompok berjalan secara efisien dan dengan tujuan.


Budayakan Scaffolding

Bagaimana Anda membangun budaya kolaborasi di kelas Anda? Guru hendaknya tidak melupakan pentingnya perancah (scaffolding) keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk bekerja dalam kelompok. Dipasangkan dengan rubrik kolaborasi yang baik, di mana siswa mengetahui apa yang diharapkan dari mereka dalam hal perilaku, guru perlu mengembangkan keterampilan seperti membangun konsensus, komunikasi yang efektif, dan kemampuan untuk mengkritik. Pendidik perlu secara eksplisit mengajar dan menilai kolaborasi, keterampilan penting abad ke-21, jika mereka ingin kerja kelompok mereka produktif.


Akuntabilitas Individu

Ini bisa berhasil dalam banyak hal. Jika Anda membatasi ukuran kelompok, hal itu dapat mengarah pada akuntabilitas individu yang lebih besar, karena pekerjaan harus disebarkan kepada sejumlah orang yang terbatas. Peran yang jelas dan otentik juga dapat mengarahkan siswa tidak hanya untuk menghargai pekerjaan satu sama lain, tetapi juga untuk menyadari bahwa tugas atau proyek hanya dapat diselesaikan ketika setiap orang melakukan perannya dan bekerja secara efektif. Penting juga bahwa seorang pendidik membangun penilaian formatif dan sumatif dari sesi kerja kelompok ini sehingga dia dapat memeriksa pemahaman dan memastikan bahwa pembelajaran individu terjadi.


Kerja kelompok yang produktif menciptakan pembelajaran kolaboratif, model di mana semua siswa berkontribusi. Ini benar-benar membangun tim di mana pembelajaran dan pelajar saling bergantung. Lebih banyak dari pekerjaan bersama ini perlu dilakukan di kelas, tetapi hanya jika langkah-langkah yang cermat telah diambil untuk memastikan keberhasilan.


Sumber: https://www.edutopia.org/blog/productive-group-work-andrew-miller

21 Cara Sederhana Melaksanakan Pembelajaran Sosial Emosional

Berikut adalah 21 cara sederhana yang dapat Anda terapkan untuk mendukung pembelajaran sosial-emosional bagi siswa Anda:

1. Mulailah hari dengan check-in.

Agendakan untuk memulai setiap hari dengan koneksi pribadi. Tidak perlu prosedur yang memakan waktu atau rumit. Bisa sesederhana memberikan salam hangat untuk menyambut setiap orang saat mereka tiba di pagi hari.


2. Gunakan waktu cerita untuk momen yang penuh pembelajaran.

Membaca nyaring adalah alat yang sempurna untuk menjelajahi tema sosial-emosional bersama kelas Anda. Bukan hanya untuk anak kecil — ada banyak sekali buku bergambar dengan tema dan kosakata rumit yang akan disukai anak-anak yang lebih besar juga. 


3. Bekerja berpasangan.

Beri anak banyak kesempatan untuk bekerja secara ber1    pasangan. Bekerja dengan mitra membantu anak-anak belajar untuk bekerja sama dan membangun komunitas di kelas Anda. Variasikan antara penentuan pasangan secara strategis oleh guru dan mengizinkan anak-anak membuat pilihan sendiri.


4. Ajari mereka bagaimana bekerja dalam kelompok.

Mampu bekerja dalam kelompok merupakan kecakapan hidup yang penting. Siswa akan belajar bagaimana bernegosiasi dengan orang lain, mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan mengetahui kekuatan mereka sendiri sehingga mereka dapat memberikan kontribusi terbaik untuk kelompok. 


5. Memupuk budaya kebaikan.

Di awal tahun, bacalah cerita-cerita tentang kekuatan kata-kata yang bijak. Kemudian buat keranjang Anda sendiri untuk kelas. Sediakan keranjang kecil dari toko dan sediakan kartu berukran 10x10 cm. Anak-anak dapat menulis pesan kebaikan, penghargaan, dan cinta di kartu tersebut setiap hari untuk mengisi ember. Di akhir setiap minggu, luangkan beberapa menit untuk membagikan catatan penyemangat ini untuk mengakhiri minggu dengan catatan positif.


6. Beri mereka kata-kata baru untuk diucapkan.

Berikut adalah poster gratis, “8 Frase yang Memupuk Pola Pikir Pertumbuhan,” yang memberikan frase positif kepada siswa yang dapat mereka gunakan untuk menumbuhkan ketahanan dan mengatasi kegagalan. Buatlah menjadi poster besar di dinding, atau berikan versi  yang lebih kecil untuk disimpan siswa.

8 Frase yang Memupuk Pola Pikir Pertumbuhan
8 Frase yang Memupuk Pola Pikir Pertumbuhan


7. Siapkan Tempat Damai.

Ciptakan tempat khusus di kelas Anda untuk anak-anak beristirahat saat mereka kesal atau marah atau perlu menenangkan diri. Ruangan ini harus memiliki suasana yang damai dan mungkin memiliki bantal yang nyaman untuk diduduki, headphone peredam bising, aquarium, bahan bacaan, gambar yang menenangkan dan / atau buku tentang perdamaian.


8. Ajari anak-anak Anda bagaimana mengelola konflik dengan mediasi teman sebaya.

Mediasi teman adalah proses pemecahan masalah yang membantu siswa yang terlibat dalam perselisihan untuk bertemu di tempat yang tertutup, aman dan rahasia untuk menyelesaikan masalah dengan bantuan mediator siswa. .


9. Gunakan poster untuk mengajarkan keterampilan sosial-emosional.

Anda dapat membuat poster bersama siswa di kelas Anda tentang banyak topik yang berbeda, dari "Aturan di dalam kelas", "Memahami Diri Sendiri" hingga "Seperti Apa Cara Menghormati?" dan "Jadilah Pemecah Masalah". Perhatikan contoh berikut ini!

Contoh Poster Sosem
Contoh Poster Sosem


10. Berlatih melalui banyak permainan peran.

Terkadang Anda harus menempatkan diri Anda pada posisi orang lain untuk benar-benar memahami suatu situasi. Meluangkan waktu untuk bermain peran dalam situasi yang rumit atau meresahkan yang muncul di kelas Anda membantu anak-anak mengembangkan empati dan memahami perasaan orang lain. Misalnya, ini adalah strategi yang bagus untuk digunakan saat mendiskusikan perundungan atau semacamnya. 


11. Berikan waktu bicara.

Beri anak banyak kesempatan — baik yang terstruktur maupun tidak — untuk berbicara satu sama lain sepanjang hari. Memantulkan ide satu sama lain atau mencari tahu masalah dengan sedikit memberi-dan-menerima akan membantu siswa Anda membangun pemahaman dan kepercayaan diri. 


12. Mainkan game untuk membangun tim

Permainan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keterampilan sosial dan menjalin hubungan. 


13. Berteman dengan kelas yang lebih tua atau lebih muda.

Memiliki hubungan khusus dengan kelas lain adalah cara yang bagus untuk membangun hubungan berkelanjutan yang positif di komunitas sekolah Anda. Anak-anak selalu kagum pada betapa mudahnya menemukan kesamaan dengan siswa yang lebih muda atau lebih tua. Anak-anak besar merasa penting dan anak-anak kecil merasa istimewa. 


14. Bangun komunitas dengan tim.

Pertimbangkan pengaturan tempat duduk alternatif yang memungkinkan anak-anak duduk dalam tim. Biarkan setiap tim membuat nama, moto, dan bendera masing-masing. Ini adalah cara yang bagus bagi siswa untuk merasakan rasa memiliki, dan mendorong kolaborasi dan kerja sama. Ubah tim setiap 6 hingga 12 minggu.


15. Ajari mereka untuk memantau kemajuan mereka sendiri.

Jadikan penetapan tujuan pribadi (akademis, emosional, sosial, dll.) Sebagai aktivitas rutin dengan siswa Anda. Ini akan memperkuat keterampilan intrapersonal mereka dan memberi mereka kepemilikan atas pembelajaran mereka sendiri. Bantulah mereka mengembangkan kebiasaan meninjau kembali dan menyesuaikan tujuan mereka sesering mungkin untuk memantau kemajuan. Apakah saya memenuhi tujuan saya? Apa yang harus saya kerjakan selanjutnya? Bagaimana saya ingin tumbuh? 


16. Mengadakan pertemuan kelas.

Sering-seringlah "check in" untuk merayakan apa yang berhasil dan membahas hal-hal yang perlu diubah dalam komunitas kelas Anda. Berdayakan masing-masing siswa Anda dengan memberi mereka hak suara dan hak pilih untuk memberi mereka kepemilikan atas lingkungan mereka.


17. Beri ruang untuk tulisan reflektif.

Beri waktu siswa Anda untuk menulis jurnal dan menulis bebas. Putar musik yang tenang. Redupkan lampu. Jadikan waktu menulis sebagai jeda yang tenang dan menenangkan dari kesibukan yang akan dinantikan oleh siswa Anda. Untuk pemula yang "kesulitan", Anda dapat menyediakan menu perintah opsional. 


18. Mendorong ekspresi melalui seni.

Terkadang siswa berpikir dan merasakan hal-hal yang tidak dapat mereka ungkapkan dengan kata-kata. Seni adalah alat yang hebat untuk memungkinkan mereka menjelajahi topik dari perspektif yang berbeda. Buat sketsa pikiran dan perasaan Anda sebagai aktivitas sebelum menulis. Buat lukisan sebagai interpretasi dari musik atau puisi.


19. Tetapkan proyek wawancara.

Mintalah siswa Anda mewawancarai satu sama lain sepanjang tahun tentang topik seperti latar belakang budaya, tradisi keluarga atau opini tentang peristiwa terkini. Instruksikan wawancara formal, berbeda dari percakapan biasa dan ajarkan keterampilan seperti keterampilan mendengarkan dan percakapan yang terfokus. Selain itu, mempelajari teman sekelas akan memperluas perspektif mereka karena mereka menganggap bahwa latar belakang dan pengalaman setiap orang belum tentu sama dengan mereka.


20. Biarkan mereka bekerja.

Tugas kelas mengajarkan tanggung jawab dan memberi anak kepemilikan kelas mereka. Kebanggaan atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik adalah pembangun kepercayaan diri yang hebat. 


21. Akhiri setiap hari dengan checkout.

Luangkan beberapa menit saja di penghujung hari untuk merenungkan hari Anda bersama. Tanyakan bagaimana perasaan siswa Anda, bicarakan tentang apa yang berjalan dengan baik, baca beberapa catatan dari ember kebaikan dan tetapkan beberapa tujuan pembelajaran untuk besok.


Sumber: https://www.weareteachers.com/21-simple-ways-to-integrate-social-emotional-learning-throughout-the-day/

Mewujudkan Merdeka Belajar Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

 A.   Apa dan Mengapa Harus Berdiferensiasi

Salah satu bukti Kemahakuasaan Tuhan adalah bahwa setiap individu yang diciptakan Tuhan adalah unik. Meskipun memiliki beberapa kesamaan, tak ada satu individu pun yang benar-benar sama dengan orang lain, (baik dalam ciri fisik, minat maupun karakter. Keberagaman tersebut juga pasti akan ditemukan guru di kelas. Setiap murid memiliki kebutuhan belajar yang berbeda, baik dalam kesiapan, minat, maupun gaya belajar. Keunikan setiap murid di kelas, harus menjadi pertimbangan guru dalam merancang strategi pembelajaran. Penentuan kegiatan pembelajaran dalam pelaksanaan kurikulum haruslah bertolak dari pemetaan kebutuhan belajar murid, dengan demikian strategi, metode, maupun media yang dimanfaatkan memungkinkan setiap individu aktif belajar di kelas berkembang secara optimal.

Mewujudkan Merdeka Belajar  Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi
Apa dan Mengapa Harus Berdiferensiasi


Menurut ASDC (Assosiation of Supervisor and Curiculum Development) bentuk pengajaran yang berusaha memaksimalkan pertumbuhan setiap murid dengan berusaha mengerti murid itu sampai tingkat dimana dan lalu membantunya untuk maju disebut pembelajaran berdiferensiasi (ASDC dalam Kaufeld: 2005). Lebih lanjut, Tomlinson dan Eidson (2003) menyatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi pada jenjang Sekolah Dasar adalah pembelajaran yang secara proaktif melibatkan murid selama prosesnya, serta memandang kelas-kelas Sekolah Dasar sebagai kelas yang memadukan berbagai kesiapan, minat, dan bakat belajar murid. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, dapat diketahui, salah ciri pembelajaran berdiferensiasi adalah berpusat pada murid. Pembelajaran direncanakan dengan cermat dan strategis berdasarkan upaya memahami murid secara utuh, serta menempatkan gaya belajar, intelegensi, kemampuan awal, dan berbagai karakteristik belajar murid sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran.

Dalam sejarah pendidikan di Indonesia, sesungguhnya pembelajaran berdiferensiasi bukanlah hal yang baru. Sejak masa awal kemerdekaan ide yang sama sudah diusung Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai berikut: “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”. Selain pria bernama asli Soewardi Surjaningrat itu berulang kali menekankan apa yang disebutnya 'kemerdekaan dalam belajar'.

Mewujudkan Merdeka Belajar  Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi
Differensiasi Pembelajaran


Menurut Ki Priyo Dwiyarso, makna kemerdekaan belajar yang diusung Ki Hadjar Dewantara yakni bagaimana membentuk manusia harus dimulai dari mengembangkan bakat. "Jadi yang punya kehendak itu muridnya, bukan pamong gurunya, dosennya, yang memaksakan kamu harus jadi hijau, harus jadi merah. Untuk itu kemudian timbul Tut Wuri Handayani” demikian ungkap Anggota Majelis Luhur Taman Murid, tersebut. Masih menurut Ki Priyo, Tut Wuri Handayani berarti mendorong dan menguatkan. Namun, menurut beliau, cara mendorong dan memberi kekuatan belajar tak boleh sembarangan. Rentang kendali harus tetap ada, karena bagaimanapun anak masih memerlukan bimbingan, dan arahan.

Berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara, bakat lah yang menjadi kiblat bagi seorang pendidik. Guru harus jeli menelisik kebutuhan anak didik, potensi apa yang harus didorong, dikuatkan dan dikembangkan dari murid-muridnya. Disitulah pembelajaran berdiferensiasi berperan. Berdasarkan pemetaan kebutuhan belajar setiap peserta didiknya, guru dapat menerapkan diferensiasi pembelajaran. Penerapan diferensiasi dalam proses pembelajaran tidak berarti seorang guru harus melayani setiap keberagaman secara individu. Diferensiasi dapat dilakukan dengan memberikan beberapa pilihan berdasarkan pertimbangan karakteristik murid dalam kerangka kurikulum. Pemberian pilihan-pilihan disini diharapkan tetap mengacu pencapaian kurikulum, namun kemerdekaan murid untuk belajar sesuai minat, bakat, dan kesiapannya tetap terjamin.

 

B.    Ragam Diferensisi Pembelajaran

Diferensiasi pembelajaran dapat dilaksanakan melalui beberapa strategi. Beberapa strategi pembelajaran berdiferensiasi diantaranya diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

 

1.    Diferensiasi Konten

Konten adalah apa yang kita ajarkan kepada murid. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadap minat atau profil belajar murid yang berbeda. Diferensiasi konten juga dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan kombinasi dari ketiga faktor tersebut.

Dalam hal kesiapan, saat memasuki kelas, mungkin sebagian murid kita sudah dibekali pengetahuan prasarat yang dibutuhkan untuk mempelajari yang akan kita ajarkan, tapi mungkin sebagain tidak. Sebagian yang lain, bahkan mungkin memiliki beberapa hambatan, misalnya cacat fisik, keterbelakangan mental, atau hambatan lainnya. Menghadapi kondisi semacam itu, kita sebagai seorang guru dapat melaksanakan diferensiasi konten. Kita dapat memberikan materi dengan tingkat kesulitan yang berbeda, sesuai kesiapan anak. Dengan demikian guru telah menerapkan diferensiasi konten berdasarkan kesiapan belajar murid.

Diferensiasi konten juga dapat dilakukan berdasarkan minat, misalnya dengan menghubungkan meteri pelajaran dengan minat murid. Sebagai contoh saat akan mengajarkan mengenai energi kalor, guru dapat menghubungkannya dengan pemanfaatan kalor dalam pembuatan gamelan untuk menarik murid yang memiliki minat dalam bidang seni musik, menghubungkan dengan proses pembuatan makanan, untuk murid yang memiliki minat berkaitan dengan kuliner, atau menghubungkan dengan kegiatan olah raga untuk anak-anak ang memiliki minat dalam bidang tersebut.

 Strategi diferensiasi konten sesuai gaya belajar murid dilakukan dengan memastikan murid dapat mengakses materi dengan cara yang mereka sukai. Murid yang auditori dimungkinkan mengakses meteri pelajaran melalui audio. Murid yang visual, disediakan materi dalam bentuk grafik atau gambar, sedangkan murid yang kinestetik diberikan kesempatan untuk menanggapi materi yang sedang dipelajari dengan respon tubuh tertentu.

 

 

2.    Diferensiasi Proses

Setelah memetakan kebutuhan belajar murid, langkah selanjutnya yang harus dilakukan guru adalah merancang strategi pembelajaran yang tepat. Guru perlu memikirkan bagaimana kebutuhan belajar siswa harus dipenuhi. Guru perlu mempertimbangkan cara terbaik yang dapat memastikan siswa belajar, apak itu melalui pembelajaran individu, atau kooperatif. Guru perlu juga memikirkan seberapa banyak bantuan yang perlu diberikan. Oleh karena siswa dalam kelas beragam, maka guru perlu mempertimbangkan untuk mengkombinasikan berbagai kegiatan belajar, sehingga strategi embbelajaran yang dirancang dapat mengakomodasi berbagai kebtuhan belajar.

 

3.    Diferensiasi Produk

Strategi diferensiasi yang ke tiga adalah diferensiasi produk. Produk dapat mencerminkan pemahaman, dan aplikasi dalam bentuk yang luas, juga merupakan elemen kurikulum yang paling langsung dapat dimiliki oleh murid. Untuk mengakomodasi ragam kebutuhan belajar siswa, guru dapat memberikan beberapa pilihan penugasan bagi murid. Diferensiasi produk meliputi dua hal, yakni: memberikan tantangan dan keragaman/ variasi, serta memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan hasil pembelajaran dengan cara yang diingikan. Satu hal yang penting dalam diferensiasi produk adalah bahwa guru perlu menentukan dan mengkomunikasikan apa sebenarnya ekspektasi yang diharapkan dari murid, misalnya kualitas seperti apa yang diharapkan, konten apa yang harus ada dalam produk, bagaimana mereka harus mengerjakannya, dan apa sifat produk akhir yang diharapkan.

  

Referensi

Kaufeldt, Martha. (2008). Wahai Para Guru Ubahlah Cara Mengajarmu: Perintah pengajaran yang Berbeda – beda Sesuai dengan otak. Jakarta:PT.Indeks

Contoh Kegiatan Pembelajaran Sosial Emosional: Mindset Tumbuh vs Minset Tetap

Mindset Tumbuh vs Minset Tetap
Mindset Tumbuh vs Minset Tetap


Pembelajarn Sosial Emosional dapat dilaksanakan sebagai kegiatan rutin, terintegrasi dalam pembelajaran, maupun sebagai protokol di sekolah. Berikut ini adalah salah satu contoh penerapan pembelajaran sosial emosional sebagai kegiatan rutin atau pembiasaan


Tujuan pembelajaran

Siswa akan menonton video, berpartisipasi dalam diskusi, dan menyelesaikan kegiatan agar dapat mendefinisikan dan mempraktikkan mindset tumbuh.

 

Langkah Pembelajaran (20 menit)

  • Satukan kelas dalam lingkaran, baik berdiri atau duduk.
  • Jelaskan bahwa hari ini, kita akan melihat cara-cara kita menghadapi tantangan dan akan memulai kelas dengan suatu kegiatan.
  • Beri semua siswa tali yang diikat menjadi simpul.
  • Beri tahu mereka bahwa tujuan mereka adalah melepaskan setiap simpul dari tali dalam dua menit.
  • Mintalah siswa untuk memulai, dan mengatur penghitung waktu.
  • Opsional: Putar lagu "Eye of the Tiger" oleh Survivor.
  • Sewaktu siswa berusaha melepaskan ikatan, mintalah mereka untuk memperhatikan pikiran dan pola pikir mereka. Apakah mereka berpikir "Saya tidak bisa melakukan ini" atau "Ini mudah"?
  • Beri tahu mereka saat mereka memiliki sisa 20 detik.
  • Matikan musik setelah dua menit berlalu, dan beri tahu kelas untuk berhenti saat itu juga.
  • Minta mereka untuk memperhatikan apakah mereka merasa kecewa, atau jika mereka memiliki pemikiran yang mengecewakan karena mereka belum menyelesaikannya. Atau apakah mereka merasa bangga karena berhasil menyelesaikan tugas?
  • Jelaskan bahwa hari ini mereka akan mempelajari dan mendiskusikan "mindset berkembang".
  • Mintalah mereka untuk mengangkat tangan jika mereka pernah mendengar istilah "mindset berkembang" sebelumnya.
  • Tulislah "Pola Pikir Pertumbuhan" di papan tulis.
  • Tanyakan kepada siswa menurut mereka apa arti kata tersebut.
  • Selanjutnya, tulislah "Pola Pikir Tetap" di papan tulis, dan tanyakan kepada anggota kelas apakah mereka pernah mendengar istilah ini sebelumnya.
  • Tanyakan kepada mereka apa yang menurut mereka berarti "mindset tetap".
  • Putar video "Mindset Pertumbuhan vs. Pola Pikir Tetap".
  • Saat mereka menonton video, mintalah siswa untuk membuat catatan yang menjelaskan setiap pola pikir.
  • Setelah video, mintalah setiap orang untuk maju ke papan tulis dan menulis setidaknya satu hal yang mereka pelajari tentang masing-masing pola pikir (di bawah tempat Anda sebelumnya menulis "Pola Pikir Pertumbuhan" dan "Pola Pikir Tetap").
  • Mintalah sukarelawan siswa untuk maju dan memberi pendapat tentang apa yang kelas tulis di papan tulis.
  • Bagikan dan tulis definisi mindset berkembang berikut ini: Ketika seseorang yakin mereka dapat berkembang dan belajar dengan kerja keras dan dedikasi, dan mereka melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar.

Rencana Pembelajaran Lengkapnya adalah sebagai berikut:




Video Mindset Tetap vs Mindset Tumbuh dalam bahasa Indonesia:




Sumber: https://www.education.com/lesson-plan/growth-mindset/



Bagaimana Sekolah Dapat Mendukung Pembelajaran Sosem

 

 Skema Srategi Pembelajaran Sosem


Peran Sekolah

Di tingkat sekolah, strategi Pembelajaran Sosem biasanya dalam bentuk kebijakan, praktik, atau struktur yang terkait dengan iklim dan layanan dukungan siswa (Meyers et al., In press). Iklim dan budaya sekolah yang aman dan positif secara positif mempengaruhi hasil akademik, perilaku, dan kesehatan mental bagi siswa (Thapa, Cohen, Guffey, & Higgins-D'Alessandro, 2013). Pimpinan sekolah memainkan peran penting dalam mendorong aktivitas sekolah dan kebijakan yang mempromosikan lingkungan sekolah yang positif, seperti membentuk tim untuk menangani iklim bangunan; pemodelan dewasa kompetensi sosial dan emosional; dan mengembangkan norma, nilai, dan harapan yang jelas bagi siswa dan anggota staf.


Kebijakan disiplin yang adil dan merata serta praktik pencegahan intimidasi lebih efektif daripada metode perilaku murni yang mengandalkan penghargaan atau hukuman (Bear et al., 2015). Pimpinan sekolah dapat mengatur kegiatan yang membangun hubungan positif dan rasa kebersamaan di antara siswa melalui struktur seperti pertemuan pagi yang dijadwalkan secara teratur atau nasihat yang memberikan siswa kesempatan untuk terhubung satu sama lain.


Komponen penting dari Pembelajaran Sosem di seluruh sekolah melibatkan integrasi ke dalam sistem dukungan bertingkat. Layanan yang diberikan kepada siswa oleh para profesional seperti konselor, pekerja sosial, dan psikolog harus selaras dengan upaya universal di kelas dan gedung. Seringkali melalui kerja kelompok kecil, profesional dukungan siswa memperkuat dan melengkapi instruksi berbasis kelas untuk siswa yang membutuhkan intervensi dini atau perawatan yang lebih intensif.



Membangun Kemitraan Keluarga dan Komunitas dalam Pembelajaran Sosem

Kemitraan keluarga dan komunitas dapat memperkuat dampak pendekatan sekolah untuk memperluas pembelajaran ke rumah dan lingkungan sekitar. Anggota masyarakat dan organisasi dapat mendukung upaya kelas dan sekolah, terutama dengan memberikan siswa kesempatan tambahan untuk menyempurnakan dan menerapkan berbagai keterampilan Pembelajaran Sosem (Catalano et al., 2004).


Kegiatan setelah sekolah juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk terhubung dengan orang dewasa dan teman sebaya yang mendukung (Gullotta, 2015). Itu adalah tempat yang bagus untuk membantu kaum muda mengembangkan dan menerapkan keterampilan baru dan bakat pribadi. Penelitian telah menunjukkan bahwa program setelah sekolah yang berfokus pada perkembangan sosial dan emosional dapat secara signifikan meningkatkan persepsi diri siswa, keterhubungan sekolah, perilaku sosial yang positif, nilai sekolah, dan nilai tes prestasi, sekaligus mengurangi perilaku bermasalah (Durlak et al., 2010).


Pembelajaran Sosem juga dapat dibina di banyak tempat selain sekolah. Pembelajaran Sosem dimulai pada anak usia dini, sehingga pengaturan keluarga dan penitipan anak usia dini penting (Bierman & Motamedi, 2015). Pengaturan pendidikan tinggi juga memiliki potensi untuk mempromosikan Pembelajaran Sosem (Conley, 2015).


Sumber: https://www.edutopia.org/blog/why-sel-essential-for-students-weissberg-durlak-domitrovich-gullotta

Membangun Keterampilan Pembelajaran Sosem di Kelas

Membangun Keterampilan Pembelajaran Sosem di Kelas


Mempromosikan perkembangan sosial dan emosional untuk semua siswa di kelas melibatkan pengajaran dan pemodelan keterampilan sosial dan emosional, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan dan mengasah keterampilan tersebut, dan memberi siswa kesempatan untuk menerapkan keterampilan ini dalam berbagai situasi.


Salah satu pendekatan pembelajaran sosial emosional yang paling umum berupa pelatihan guru untuk menyampaikan pelajaran eksplisit yang mengajarkan keterampilan sosial dan emosional, kemudian menyisipkan peluang bagi siswa untuk memperkuat penggunaan ketrampilan tersebut pada saat itu. Pendekatan kurikuler lain menyisipkan instruksi pembelajaran sosial emosional ke dalam muatan pelajaran seperti seni, bahasa, IPS, PKN atau matematika. Ada sejumlah program pembelajaran sosial emosional berbasis penelitian yang meningkatkan kompetensi dan perilaku siswa dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dari prasekolah hingga sekolah menengah (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning, 2013, 2015).


Guru juga dapat secara alami memupuk keterampilan pada siswa melalui interaksi instruksional interpersonal dan berpusat pada siswa dalam proses pembeajaran. Interaksi orang dewasa-siswa mendukung pembelajaran sosial emosional ketika interaksi tersebut menghasilkan hubungan siswa-guru yang positif, hal tersebut memungkinkan guru untuk mencontohkan kompetensi sosial-emosional pada siswa, dan mempromosikan keterlibatan siswa (Williford & Sanger Wolcott, 2015). Praktik guru yang memberikan dukungan emosional kepada siswa dan menciptakan peluang untuk pendapat siswa, otonomi, dan pengalaman penguasaan mendorong keterlibatan siswa dalam proses pendidikan.


Sumber: https://www.edutopia.org/blog/why-sel-essential-for-students-weissberg-durlak-domitrovich-gullotta

Manfaat Jangka Pendek dan Jangka Panjang Pembelajaran Sosial Emosional



 Manfaat Jangka Pendek dan Jangka Panjang Pembelajaran Sosial Emosional


Siswa lebih berhasil di sekolah dan kehidupan sehari-hari ketika mereka:

  • Tahu dan bisa mengatur diri sendiri
  • Memahami perspektif orang lain dan berhubungan secara efektif dengan mereka
  • Mampu membuat pilihan yang tepat tentang keputusan pribadi dan sosial

Keterampilan sosial dan emosional di atas adalah beberapa dari beberapa hasil  jangka pendek siswa yang dipromosikan pembelajaran Sisial Emosional (Durlak et al., 2011; Farrington et al., 2012; Sklad et al., 2012). Manfaat lainnya termasuk:

  • Sikap yang lebih positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan tugas-tugas termasuk peningkatan kemampuan diri, kepercayaan diri, ketekunan, empati, koneksi dan komitmen untuk sekolah, dan rasa tujuan
  • Perilaku dan hubungan sosial yang lebih positif dengan teman sebaya dan orang dewasa
  • Mengurangi masalah perilaku dan perilaku pengambilan risiko
  • Penurunan tekanan emosional
  • Peningkatan nilai ujian, nilai, dan kehadiran

Dalam jangka panjang, kompetensi sosial dan emosional yang lebih besar dapat meningkatkan kemungkinan lulus SMA, kesiapan untuk pendidikan pasca sekolah menengah, kesuksesan karir, hubungan keluarga dan pekerjaan yang positif, kesehatan mental yang lebih baik, perilaku kriminal yang berkurang, dan keterlibatan kewarganegaraan (Hawkins, Kosterman , Catalano, Hill, & Abbott, 2008; Jones, Greenberg, & Crowley, 2015).


Sumber: 

https://www.edutopia.org/blog/why-sel-essential-for-students-weissberg-durlak-domitrovich-gullotta