This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label GURU. Show all posts
Showing posts with label GURU. Show all posts

Prinsip Pemberian Umpan Balik dalam Proses Pembelajaran

Umpan balik adalah komentar atau respon terhadap hasil karya dan proses belajar murid yang relevan dengan teknik penilaian formatif yang diberikan

umpan balik menggambarkan apa saja yang sudah dicapai, dan apa yang seharusnya lebih baik dalam mencapai kompetensi yang dimaksud, selain itu, dapat berisi saran terkait apa saja yang dapat diterapkan oleh murid untuk meningkatkan hasil belajar.

Umpan balik yang tepat akan berpengaruh pada motivasi belajar murid, oleh karena itu umpan balik harus diberikan dengan segera. 


Prinsip pemberian umpan balik

Fokus-Umpan balik harus fokus paada isi yang relevan dengan kriteria tugas, indikator pencapaian kompetensi, dan tujuan pembelajaran

Bermakna - umpan balik tidak sebatas skor berupa angka atau nilai, tetapi juga deskripsi terkait pencapaian murid dan motivasi terkait apa yang perlu ditingkatkan

Adaptif-sesuai karakteristik murid, jenis, dan kompleksitas tugas serta jenis kesalahan

Spesifik - Sampaikan secara spesifik informasi tentang apa yang murid telah lakukan dengan baik, dan apa yang mungkin masih perlu perbaikan.


Tangga Umpan balik:

Salah satu cara memberikan umpan balik adalah dengan menerapkan tangga umpan balik, yang dilakukan melalui 5 langka:

  1. Klarifikasi: ajukan pertanyaan klarifikasi
  2. Nilai- berikan komentar atas kekuatan yang terlihat
  3. Perhatian - Berikan komentar jika ada hal yang kurang sesuai/ kurang lengkap dan menjadi perhatian guru
  4. Saran - Berikan saran untuk pengembangan
  5. Apresiasi - Pujian atas usaha yang dilakukan.


Belajar Organ Pernapasan melalui Lagu

 

Belajar melalui lagu telah banyak diterapkan dalam dunia pendidikan, terutama pada jenjang PAUD. Pada jenjang sekolah, strategi tersebut mulai jarang digunakan, padahal strategi tersebut cukup efektif, terutama pada materi pembelajaran yang membutuhkan kemampuan menghafal. Berikut ini salah satu contohnya:

LAGU PROSES PERNAPASAN
Dinyanyikan seperti lagu “Bintang Kecil”

Kubernapas menggunakan hidung
Tenggorokan juga paru-paru
Dalam hidung udara disaring
Sesuaikan suhu kelembapannya

Dari hidung masuk tenggorokan
Tenggorokan yang bercabang dua
Cabang itu bronkuslah namanya
Masing-masing menuju paru-paru

Paru-paru ada dua buah
Kiri dua, kanan tiga lobus
Di dalamnya ada alveolus
Disinilah pertukaran udara

Paru-paru gerak kembang kempis
Karena otot dada berkontraksi
Atau juga otot diagfragma
Karenya udara keluar masuk

Oksigenlah yang kita butuhkan
Kita buang karbondioksida
Oksigennya diedarkan darah
Diikatnya oleh hemoglobin

Lagu tersebut saya buat dalam pembelajaran IPA mengenai organ pernapasan. Semoga bermanfaat juga untuk para pembaca dalam mempelajari organ pernapasan manusia.



Bagaimana Seorang Pemimpin Pembelajaran Mengejawantahkan Patrap Triloka

Bagaimana Seorang Pemimpin Pembelajaran  Mengejawantahkan Patrap Triloka
Bagaimana Seorang Pemimpin Pembelajaran  Mengejawantahkan Patrap Triloka



 

Tugas 3.1.a.8. Koneksi Antar materi Modul 3.1  Pelatihan Guru Penggerak: “Bagaimana Seorang Pemimpin Pembelajaran  Mengejawantahkan Patrap Triloka”


Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya- Refleksi Diri

 

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya- Refleksi Diri
Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya- Refleksi Diri


3.2.a.7. Demonstrasi Kontekstual
Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

REFLEKSI DIRI


Selain perannya sebagai pemimpin pembelajaran, guru juga merupakan pemimpin dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki sekolah. Oleh karena itu, seorang guru juga harus mampu memetakan aset atau modal yang dimiliki sekolah, untuk kemudian mengelolanya sedemikian rupa untuk pencapaian tujuan pendidikan agar mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin. Dalam pengelolaan aset sekolah, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking).   Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. 

Hasil analisis terhadap 7 kelompok modal menurut Green dan Haines di SDN 2 Banaran menunjukkan, modal yang sudah dikelola dengan baik adalah modal finansial, sedangkan modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal politik, modal lingkungan/ alam, maupun modal agama/ budaya meskipun belum optimal, bukan berarti modal-modal tersebut tidak dimiliki atau sama sekali belum dikelola. Keenam modal tersebut sudah dikelola hanya pengelolaanya belum optimal.

Hal-hal unik dan menarik yang menjadikan SDN 2 Banaran lain dari yang lain antara lain adalah potensi dalam bidang kriya anyam. Telah lebih dari satu kali siswa SDN 2 Banaran mewakili kabupaten Temnggung dalam lomba kriya anyam tingkat provinsi. Selain itu, nama SDN 2 Banaran juga cukup harup dalam bidang pramuka di tingkat kecamatan Gemawang. Selain tidak pernah basen dari 6 besar, kami juga pernah mewakili kecamatan hingga ke tingkat kabupaten. Keunikan lain adalah dukungan komite dan orang tua terhadap program sekolah. Dalam beberapa kegiatan orang tua dan komite, tidak segan untuk turut bergotong-royong demi suksesnya kegiatan yang dilaksanakan sekolah. Keunikan-keunikan tersebut juga merupakan merupakan modal dalam upaya peningkatan kulitas sekolah. 

Mempelajari Modul 3.2 dalam Pendidikan Guru Penggerak memberi saya pencerahan mengenai pengelolaan modal/aset sekolah. Jika sebelumnya dalam pengeloaan modal kami lebih banyak melakukan pendekatan berbasis masalah. Melalui modul tersebut, kami mendapatkan wawasan mengenai konsep yang bertolak belakang. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran paradigma dalam diri saya. Saya mulai berfikir, demi peningkatan kualitas sekolah pada umumnya dan peningkatan layanan terhadap perserta didik, akan lebih memberi manfaat jika seluruh komponen sekolah memfokuskan diri pada potensi-potensi yang sudah dimiliki. Bertolak dari hal tersebut kemudian potensi-potensi yang ada semakin dikembangkan sehingga pada gilirannya dapat menutupi kekurangan yang ada, dan memberi dampak yang positif bagi sekolah sebagai sebuah komunitas.

Dibandingkan dengan dengan pemikiran saya sebelumnya yang lebih banyak melakukan pendekatan berbasis masalah, saya yakin pendekatan berbasis aset dapat membawa energi positif bagi organisasi. Jika sebelumnya dalam rapat-rrapat lebih banyak dibahas masalah-masalah yang melelahkan bagi jika, dengan pendekatan berbasis aset apa yang dibahas adalah kelebihan dan hal-hal positif yang akan menimbulkan semangat untuk “berbuat lebih” bagi kemajuan diri dan organisasi.


Peran Penting Guru Sebagai Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya

 Koneksi Antar Materi Modul 3.2

PERAN PENTING GURU SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN  
DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA


Guru Sebagai Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya

Sekolah merupakan sebuah institusi pendidikan, yang bertujuan menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi siswa-siswinya, mengembangkan potensi dan kekuatan yang dimilikinya agar siswa dapat meraih kebahagiaan dan kesuksesan, juga menjadi anggota masyarakat yang cakap dan berkarakter. Sebagai sebuah komunitas, dalam mencapai tujuannya, senantiasa terjadi interaksi antara berbagai komponen di dalam sekolah. Komponen sekolah sendiri, dapat dibedakan menjadi komponen manusia, dan faktor-faktor pendukung. Sumber daya manusia dan faktor pendukung berupa keuangan maupun sarana dan prasarana merupakan aset atau modal utama bagi sekolah. Baik komponen yang berupa sumber daya manusia, maupun komponen  pendukung seperti sarana dan prasarana atau keuangan diharapkan mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis, agar tujuan sekolah dapat tercapai. 

Diantara keseluruhan modal/aset sekolah, manusia, terutama guru, memegang peran kunci yang menentukan keberhasilan sekolah. Guru sebagai manusia dengan bekal cipta, rasa, dan karsa yang dikaruniakan Tuhan, memiliki kemampuan mengelola segala sumber daya yang dimiliki untuk sebaik-baik kepentingan muridnya. Hal tersebut merupakan bagian dari peran guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, seorang guru juga dituntut mampu mengelola seluruh sarana dan prasarana maupun dana yang dimiliki untuk mengembangkan potensi siswa semaksimal mungkin, baik di dalam kelas, di dalam sekolah, maupun dalam lingkungan yang lebih luas yakni di dalam masyarakat sekitar sekolah. 


Gambar    1  Peran penting guru sebagai pengelola sumber daya pembelajaran


Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, aset atau modal utama dikelompokkan menjadi 7 (tujuh), yaitu: modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya. Diantara ketujuh modal tersebut, modal manusia, modal fisik dan finansial merupakan komponen yang terpenting di sekolah. Modal manusia atau sumber daya manusia yang berkualitas, sangat penting. Dengan segenap potensi yang dimiliki, manusia dapat mengoptimalkan pengelolaan dan pengembangan potensi-potensi yang lain, apalagi jika didukung modal fisik (sarana dan prasarana) dan modal finansial yang memadai.  

Gambar    2  Aset Utama Komunitas

Dalam pengelolaan dan pengembangan aset, ada beberapa pendekatan yang dapat dipilih. Pengelolaan aset secara konvensional lebih banyak menggunakan pendekatan berbasis defisit, namun dewasa ini Asset-Based Community Development (ABCD) dipercaya lebih mampu membawa dampak positif dibandingkan pendekatan konvensional. Sebagai sebuah kerangka kerja yang dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010) merupakan kritik terhadap pendekatan konvensional yang menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain.

Asset-Based Community Development (ABCD) atau Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir positif mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif. Jika pendekatan tersebut diadaptasi ke dalam kelas, untuk menjadikan siswa lebih produktif, maka yang dilakukan adalah berfokus pada kelebihan atau potensi-potensi yang dimiliki murid, dan bukan pada kekurangan-kekurangan yang mereka miliki. Murid diajak untuk mengoptimalkan kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki, agar dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan di masa yang akan datang. 


Gambar    3  Berfikir berbasis aset vs berfikir berbasis defisit


Hubungan PKBA dan Konsep Ki Hajar Dewantara

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) sangat relevan dengan konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, dimana tujuan pendidikan menurut KI Hajar adalah untuk mengembangkan kodrat alam murid semaksimal mungkin. Kodrat alam atau potensi, bakat dan kecenderungan murid merupakan aset yang dimiliki murid. Sangat mengagumkan, bagaimana Ki Hajar Dewantara beberapa dekade yang lalu telah menerapkan pengembangan berbasis aset. Dalam mendidik murid, Bapak Pendidikan Indonesia tersebut menekankan agar guru mendukung tumbuh kembangnya potensi yang dimiliki anak melalui sistem momong, among, dan ngemong. Dimana murid tidak dipandang sebagai objek pendidikan, melainkan subjek yang dibimbing dan diarahkan untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi dalam dirinya.


Hubungan Inkuiri Apresiatif, BAGJA dan PKBA

Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara tidak terbatas pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan, namun yang justru sangat penting menurut beliau adalah pengembangan karakter atau budi pekerti. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengembangkan budaya positif di sekolah, agar kebiasaan baik yang dibudayakan tersebut berkembang menjadi karakter. Dalam pengembangan budaya positif di sekolah, salah satu pendekatan yang disarankan adalah BAGJA. BAGJA yang menggunakan paradigma inkuiri apresiatif, pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan. Inkuiri apresiatif melalui pendekatan dan langkah-langkah BAGJA juga menggunakan prinsip psikologi positif, yang berfokus pada kekuatan. Jadi BAGJA memiliki persamaan dengan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA). Pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Oleh karena itu, langkah-langkah BAGJA dapat diterapkan dalam upaya pengembangan komunitas melalui Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA).


Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) dalam Kerangka Diferensiasi

Salah satu langkah penting Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) adalah pemetaan aset. Dalam proses pemetaan komunitas sekolah menginventarisir seluruh aset/ modal yang dimiliki termasuk modal manusia. Modal manusia yang dimiliki sekolah antara lain guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, murid, orang tua dan tokoh masyarakat, serta pengawas sekolah. Masing-masing komponen tentu memiliki potensi yang berbeda-beda, dengan bentuk dukungan yang juga beragam bentuknya bagi sekolah. Proses pemetaan modal yang dimiliki sekolah, sesungguhnya juga merupakan pemetaan diferensiasi dari semua komponen modal yang dimiliki. 

Dari proses pemetaan, selanjutnya melalui tahapan BAGJA, digali mimpi bersama mengenai kondisi ideal yang diharapkan atau akan diwujudkan. Mimpi yang dirumuskan bersama tersebut tentu adalah kondisi yang dapat mengakomodasi keberagaman yang ada, diupayakan bersama, dan diharapkan dapat membawa kebaikan bagi semua pihak.


Mewujudkan Pembelajaran Sosial Emosional dan Berdiferensiasi melalui Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) 

Dalam pembelajaran sosial emosional dan berdiferensiasi, selain pengkondisian kegiatan pembelajaran, aspek-aspek emosi dan interaksi sosial di kelas dan sekolah, hal yang tidak kalah penting adalah pengaturan lingkungan belajar serta sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pembelajaran tersebut. Namun demikian, kondisi riil di sekolah tidak selalu ideal. Tidak semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan tersedia. Selain itu aspek emosi dan interaksi sosial juga tidak selalu seideal yang diharapkan. Namun demikian kekurangan-kekurangan tersebut tidak harus selalu menjadi hambatan. Melalui Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA), komunitas sekolah dapat mengupayakan kondisi ideal yang diharapkan atau setidaknya mendekati kondisi tersebut. Bersama-sama seluruh komponen sekolah dapat menggali potensi-potensi yang ada, yang dapat diberdayakan untuk membawa sekolah ke arah yang lebih baik.


Hubungan PKBA dan Coaching

Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) melalui langkah BAGJA merupakan  pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan. Pendekatan tersebut melibatkan seluruh komponen dalam komunitas. Dalam praktek di sekolah, guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran tidak harus menjadi penentu segala kegiatan dan keputusan. Akan lebih berdampak pada peningkatan potensi murid, bila dalam kegiatan yang dilaksanakan guru bertindak sebagai coach yang menggali dan mengembangkan kekuatan peserta didik melalui pertanyaan-pertanyaan pembimbing, sehingga guru dapat memaksimalkan potensinya sendiri. Guru dapat mengambil peran ing madya mangun karsa dan tutwuri handayani, sehingga murid dapat meraih keberhasilan dan menemukan solusi dengan kemampuannya sendiri.


Guru Sebagai Pemimpin Pembelajaran dan Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Dalam setiap program dan kegiatan sekolah, termasuk dalam PKBA masalah, tantangan, dan hambatan sering kali muncul. Meskipun program telah dirancang dengan matang, pengorganisasian seluruh komponen telah dilakukan dengan usaha maksimal, terkadang ada saja hal-hal tidak terduga terjadi. Terkadang guru juga dihadapkan situasi-situasi sulit, baik terkait bujukan moral, maupun dilema etika. Dalam menghadapi situasi-situasi tersebut, kemampuan guru dalam mengambil keputusan diuji. Seorang pemimpin pembelajaran yang baik harus mampu mengambil keputusan dengan bijak, mempertimbangkan sisi positif dan negatif dari setiap keputusan dengan matang. Mempergunakan 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, dapat membantu guru sehingga ia dapat memutuskan pilihan mana yang lebih baik dalam keberpihakan kepada murid. 


Modul 3.2 dan Dampaknya 

Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, saya lebih banyak berpikir dengan berorientasi pada defisit, baik dalam menjalankan tugas di sekolah maupun dalam kehidupan pribadi saya. Saya lebih banyak melihat apa yang kurang, permasalahan, dan hal-hal yang perlu diperbaiki, baru kemudian berusaha menemukan solusi dari permasalahan-permasalahan tersebut, dalam mengupayakan perbaikan. 

Mempelajari modul 2.3 sedikit banyak merubah paradigma saya. Saya mulai berfikir, jika berfokus pada kelebihan, potensi, serta hal-hal positif lainnya, dan mengabaikan masalah-masalah yang ada, mungkin akan membawa dampak yang lebih baik. Berpikir mengenai kelebihan akan memberi lebih banyak energi positif dan semangat untuk lebih maju, dibandingkan berpikir sebaliknya.  Melakukan perubahan atas kebiasaan yang sudah mendarah daging tentu tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Sedikit demi sedikit saya akan mencoba merubah cara berpikir saya dan saya berharap hal tersebut akan membawa dampak yang baik bagi diri saya sendiri maupun murid-murid saya di masa yang akan datang.



Menuju Merdeka Belajar

 

Menuju Merdeka Belajar
Menuju Merdeka Belajar

 

Beberapa hal yang diharapkan oleh Kemendikbud pada para pendidik, khususnya guru penggerak kelak adalah meningkatnya kompetensi guru dan kepala sekolah. Guru dan kepala sekolah diharapkan menjadi SDM unggul yang berkompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila, sehingga mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang berdaya dan berkomitmen dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar murid. Dengan demikian, transformasi pendidikan menuju merdeka belajar yang dicita-citakan dapat terwujud. 

Untuk dapat mewujudkan, transformasi pendidikan menuju merdeka belajar, Guru penggerak diharapkan memiliki empat kompetensi, yakni kemampuan mengembangkan diri dan orang lain, kemampuan mengelola pembelajaran yang berpusat pada anak, kemampuan manajemen memimpin sekolah serta kemampuan manajemen pengembangan sekolah. Dengan menguasai keempat kompetensi tersebut, guru penggerak diharapkan dapat menjadi agen perubahan dari lingkungan terdekatnya, yang kemudian dapat menginspirasi orang lain untuk turut bergabung dan pada akhirnya dapat menimbulkan gerakan perubahan yang masif dan nyata.

Guru penggerak adalah SDM unggul yang berkompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. Ada beberapa nilai yang perlu ada pada diri setiap guru penggerak agar dirinya dapat menginspirasi. Nilai-nilai tersebut adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Seorang guru penggerak harus mandiri, tidak hanya bisa menunggu perintah untuk melakukan suatu yang memang perlu untuk dilakukan. Ia adalah seseorang yang mampu merefleksi diri dan menemukan kekurangan serta kelebihannya, untuk dijadikan acuan dalam berinovasi, berupaya merubah keadaan ke arah yang lebih baik. Guru penggerak juga harus bersedia dan mampu berkolaborasi dengan rekan sejawat, wali murid, juga masyarakat sekitar demi mewujudkan sebaik-baik hajat anak didiknya.

Nilai-nilai guru penggerak, dapat dipelajari dari konsep-konsep yang dikembangkan KI Hajar Dewantara. Pemikiran tokoh pendidikan Indonesia yang visioner tersebut perlu digali lebih dalam, agar dapat dijadikan acuan. Tentu saja masa hidup KI Hajar Dewantara, jauh berbeda dengan masa kini, namun demikian banyak nilai-nilai positif yang ternyata masih sangat relevan. Konsep beliau tentang merdeka belajar, pembelajaran yang berpusat pada anak, juga pembelajaran yang diselaraskan dengan kodrat alam dan kodrat zaman adalah beberapa contohnya. Oleh karena itulah, sangat tepat jika menggali dan mempraktekkan pemikiran-pemikiran KHD dalam bidang pendidikan menjadi salah satu tahap pendidikan guru penggerak.


Aksi Nyata Modul 3.3 Program yang Berdampak pada Murid

 

PENGUATAN KARAKTER DAN PENGETAHUAN KEBAHASAAN
MELALUI PROGRAM “YOUTUBER CERDAS DAN BERKARAKTER”

 

Aksi Nyata Modul 3.3 Program yang Berdampak pada Murid


A.  Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Upaya mewujudkan tujuan tersebut tidak akan lepas dari tokoh utama pendidikan, yaitu para pendidik. Upaya para pendidik dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas belajar lah yang menjadi harapan bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Banyak pendidik di lembaga-lembaga pendidikan masing-masing telah mengembangkan sistem dan pendekatan dalam proses belajar mengajar, visi dan misi yang harus diperjuangkan, kurikulum, bahan ajar berupa buku-buku, majalah, dan sebagainya, gedung-gedung tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan lengkap dengan sarana prasarananya, tradisi dan etos keilmuan yang dikembangkan, sumber dana dan kualitas lulusan yang dihasilkan. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan sebagai tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, artinya pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Manusia merdeka merupakan tujuan pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Pendapat Ki Hajar Dewantara lainnya, seorang pendidik hendaknya mendidik anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Mendidik sesuai kodrat alam berarti mendidik anak sesuai kodrat dasar Kodrat anak  sebagai makhluk hidup yang merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan dengan jagad raya ciptaan Illahi lainnya di bumi ini. Dimana manusia harus senantiasa mengatur dan menempatkan diri dalam hubungan yang harmonis dengan alam dan lingkungan sekitar. Keharmonisan hubungan tersebut akan mendukung tercapainya kesejahteraan kehidupan bersama (Koranto, 2018). Ki Hajar Dewantara juga mengungkapkan, “agar supaya kita dapa memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya” (Dewantara, 1977, p. 15).  Menurut beliau, kita boleh mengikuti perkembangan zaman asalkan kita tetap bersikap  selektif.

Salah satu tantangan zaman yang dihadapi anak-anak pada saat ini adalah pesatnya perkembangan teknologi serta arus informasi. Kemajuan bidang teknolgi dan informasi yang merupakan aspek penting dalam globalisai mendorong masyarakat dunia menjadi masyarakat pengetahuan dan informasi (Suryadi, 2020). Membekali anak dengan literasi teknologi adalah hal yang sangat penting, namun kita juga perlu waspada akan dampak negatifnya. Salah satu damapak negatif dari derasnya arus informasi adalah masuknya budaya atau gaya hidup asing yang menyebabkan tergantikannya budaya lokal. Tidak hanya di perkotaan, bahkan anak-anak pedesaan seperti siswa SDN 2 Banaran juga mengalami hal yang sama. Dewasa ini sebagian besar tokoh publik yang menjadi panutan anak adalah para artis dan pembuat konten (content creator) di berbagai media sosial. Sangat disayangkan, apa yang ditampilkan para pembuat konten tidak selalu positif. Tidak mengherankan jika banyak anak yang tercerabut dari akar budayanya. Mereka tidak mengenal apalagi bangga dengan budaya bangsa Indonesia yang luhur dan syarat dengan nilai. Dalam sudut pandang ketahanan nasional, ketidaktahuan generasi muda akan budaya bangsanya sendiri juga merupakan ancaman. Jika anak bangsa tidak mengenal budayanya sendiri, maka akan lebih sulit untuk memupuk rasa cinta tanah air dalam diri mereka. Hal tersebut tentu sangat berbahaya. Hampir mustahil mewujudkan cita-cita nasional Bangsa Indonesia jika sumber daya manusianya tidak memiliki nasionalisme yang tinggi.

Salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang luhur, namun hampir tidak dikenal lagi oleh generasi muda adalah peribahasa. Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang menyatakan suatu maksud, keadaan sesorang, atau hal yang mengungkapkan kelakuan, perbuatan atau hal mengenai diri seseorang (Bangsawan, 2018).  Peribahasa telah menjadi salah satu sarana enkulturisasi dalam proses penanaman nilai-nilai adat dari waktu-ke waktu, di dalamnya terdapat berbagai pesan moral yang dapat membimbing seseorang agar menjadi insan yang berbudi pekerti luhur. Sayang sekali jika budaya bangsa yang luhur tersebut terkikis habis dari bangsa Indonesia.

Salah satu upaya yang dilakukan penulis untuk melestarikan peribahasa sebagai salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang luhur adalah dengan melaksanakan program “Youtuber Cerdas dan Berkarakter”. Program “Youtuber Cerdas dan Berkarakter” merupakan sebuah program yang diharapkan dapat menjadi kegiatan penguatan karakter yang membuat siswa lebih mengenal dan mencintai budaya bangsa Indonesia, sekaligus menjadi pembelajaran literasi teknologi dan literasi kebahasaan bagi siswa SDN 2 Banaran pada khususnya dan generasi muda Indonesia pada umumnya.

Uraian tentang pelaksanaan dan hasil dari program tersebut dapat dibaca pada file di bawah ini:


Untuk tampilan yang lebih nyaman dibaca, Anda juga dapat mengakses DISINI

Hasil aksi nyata yang dilaksanakan adalah berupa video yang diunggah pada kanal Youtube sekolah, SDN 2 Banaran. Yuk kita saksikan bersama. Jangan lupa like, share dan subscribe ya!

Video Kelompok 1




Video Kelompok 2


Video Kelompok 3


Video Kelompok 4



Aksi Nyata Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Aksi Nyata Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

MENGASAH KEMAMPUAN MENGELOLA SUMBER DAYA SEKOLAH MELALUI PENGEMBANGAN PROYEK “LAB TERBUKA” DI SDN 2 BANARAN

 

Aksi Nyata Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Latar Belakang

Selain perannya sebagai pemimpin pembelajaran, guru juga diharapkan dapat menjadi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki sekolah. Oleh karena itu, seorang guru juga harus mampu memetakan aset atau modal yang dimiliki sekolah, untuk kemudian mengelolanya sedemikian rupa untuk pencapaian tujuan pendidikan agar mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin. Dalam pengelolaan aset sekolah, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking).  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Hasil analisis terhadap 7 kelompok modal menurut Green dan Haines di SDN 2 Banaran menunjukkan, modal yang sudah dikelola dengan baik adalah modal finansial, sedangkan modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal politik, modal lingkungan/ alam, maupun modal agama/ budaya meskipun belum optimal, bukan berarti modal-modal tersebut tidak dimiliki atau sama sekali belum dikelola. Keenam modal tersebut sudah dikelola hanya pengelolaanya belum optimal.

Modal manusia yang dimiliki SDN 2 Banaran terdiri atas kepala sekolah, guru dan karyawan, siswa, orang tua siswa, komite sekolah, serta warga sekitar yang hampir selalu memberikan dukungan yang cukup baik pada kegiatan-kegiatan sekolah. Modal tersebut merupakan potensi yang patut disyukuri, karena dalam kontteks sekolah sebagai sebuah institusi pendidikan, manusia dengan bekal cipta, rasa, dan karsa yang dikaruniakan Tuhan, memiliki kemampuan mengelola segala sumber daya yang dimiliki untuk sebaik-baik kepentingan muridnya. Modal utama tersebut di atas pula, yang kemudian banyak berperan dalam pengembangan dan pengelolaan proyek “Lab Terbuka”.

Proyek “Lab Terbuka” merupakan sebuah proyek yang dilaksanakan dengan tujuan, menjadikan kelas dan lingkungan sekolah menjadi tempat yang lebih menyenangkan, sekaligus dapat menjadi sumber belajar tambahan dimana murid dapat melakukan pengamatan, pengujian, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dengan asyik dan menyenangkan.

Uraian mengenai pelaksanaan, hasil serta kesan dan pembelajaran selama pelaksanaan program dapat dilihat di bawah ini:



Penjelasan lebih lanjut mengenai program Lab Terbuka dapat disimak pada video di bawah ini:


Aksi Nyata Modul 3.1 Guru Penggerak



Dalam modul 3.1 program Guru Penggerak, Calon Guru Penggerak(CGP) mempelajari materi "Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran". Di dalam modul tersebut, CGP mempelajari "Dilema Etika" dan "prinsip-prinsip pengambilan keputusan" serta "9 Langkah pengambilan dan pengujian keputusan".

Materi yang telah dipelajari tersebut selanjutnya diaplikasikan dalam "Aksi Nyata", untuk memberi dampak langsung materi yang dipelajari pada murid. Uraian mengenai aksi nyata yang saya laksanakan, dapat di baca pada artikel berikut:

Artikel dalam format pdf dapat Anda baca pada DISINI 


Terima kasih sudah singgah di blog saya. Mohon kritik dan saran anda terkait aksi nyata di atas, ya!!!!


Pendekatan RULER dalam Pembelajaran Sosial-Emosional

Pendekatan RULER dalam Pembelajaran Sosial-Emosional
RULER, 5 Kunci Kecerdasan Emosi

Kompetensi inti Ketrampilan Sosial Emosional (KSE) dapat diajarkan dengan banyak cara dan lintas pengaturan. Pengajaran SEL sering berfokus pada kecerdasan emosional anak-anak. Tujuan utamanya adalah mengajari anak-anak untuk memahami dan menghargai diri sendiri dan orang lain. Ini secara alami mengarah pada perilaku yang lebih positif yang mendorong penerimaan sosial dan persahabatan. Keterampilan tersebut bersama-sama sering disebut sebagai perilaku prososial.

Anda dapat menggunakan instruksi eksplisit untuk menguraikan tujuan pembelajaran untuk kegiatan khusus SEL dan menjelaskan keterampilan SEL kepada siswa, diajarkan melalui kegiatan rutin dengan mengambiol waktu di luar jam pelajaran (misalnya sebelum atau sesuadah pembelajaran biasa). Anda juga dapat mengintegrasikannya dalam pembelajaran yang menjadi muatan kurikulum. Tetapi pembelajaran sosial-emosional dapat dilaksanakan lebih dari sekedar pelajaran sehari-hari. Anda dapat memberikan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan ini sebagai protokol di kelas atau area konten mana pun, pada momen-momen tertentu, dimana pembelajaran sosial emosional sangat pas untuk dilaksanakan, misalnya saat terjadi konflik di sekolah, saat peringatan hari keluarga, hari kesetiakawanan sosial, dsb.

Iklim sekolah yang positif merupakan bagian integral dari keberhasilan lingkungan pendidikan apa pun. Kami memahami pentingnya, tetapi apa sebenarnya yang kami maksud ketika kami mengatakan budaya sekolah yang positif?

Budaya sekolah yang positif dapat didefinisikan sebagai "Komunitas tempat setiap anggota sekolah (siswa, guru, pemimpin, dan orang tua) dapat tumbuh, beradaptasi, terhubung, dan bersama-sama menghadapi tantangan hidup karena mereka merasa dilihat, didukung, dan dihargai".

Menciptakan budaya dan iklim sekolah yang positif di mana setiap anggota merasa seperti definisi di atas merupakan pekerjaan yang menantang. Hal tersebut akan selalu menjadi proses yang berkelanjutan, dan ada banyak cara untuk mendorong iklim sekolah yang positif. Menerapkan program pembelajaran emosional sosial universal memastikan bahwa landasan yang kuat ada. Dengan memberi siswa dan guru keterampilan untuk mengembangkan hubungan yang kuat, menciptakan sekolah yang aman, dan membangun lingkungan belajar yang mendukung.

Menjadikan SEL sebagai bagian dari budaya sekolah - di seluruh kelas dan sepanjang hari - adalah bagian besar dari upaya seluruh sekolah untuk meningkatkan kesejahteraan siswa. Penekanan seluruh sekolah sering diterapkan sebagai bagian dari intervensi dan dukungan perilaku positif ( Positive Behavioral Interventions and Supports atau disingkat PBIS). Upaya PBIS berkisar kesejahteraan sosial-emosional juga dapat membantu mengurangi perundungan (bullying) dan membangun komunitas.

Sekolah yang berbeda menggunakan pendekatan SEL yang berbeda. Tetapi ada beberapa program atau pendekatan SEL berbasis bukti yang mungkin sudah Anda kenal. Ini termasuk Ruang Kelas Responsif, Lingkaran Terbuka (Open circle), dan RULER (Recognizing, Understanding, Labeling, Expressing, and Regulating emotion) yang berarti mengenali, memahami, memberi label, mengekspresikan, dan mengatur emosi. 

Apakah program RULER hanya untuk siswa atau apakah orang dewasa berpartisipasi dan mendapat manfaat juga?

Salah satu aspek RULER yang membedakannya dari inisiatif berbasis sekolah lainnya adalah fokus pertama pada pengembangan orang dewasa di sekolah, baik secara pribadi maupun profesional, sehingga mereka dapat menjadi panutan dan pelaksana yang berpengetahuan luas dari instruksi berbasis keterampilan bagi siswa. Kami tahu dari penelitian bahwa pendidik dan pemimpin dengan kecerdasan emosional yang lebih tinggi menunjukkan lebih banyak empati dan kepekaan yang lebih besar terhadap kebutuhan orang lain, mengembangkan tim yang berkinerja lebih tinggi, menerima peringkat kinerja yang lebih tinggi, mengalami lebih sedikit stres dan kelelahan, dan membangun iklim emosional yang lebih hangat dan lebih mendukung di sekolah. Ketika siswa dan orang dewasa di sekolah mengembangkan kecerdasan emosional mereka, mereka berkontribusi pada iklim sekolah yang positif bagi semua orang di komunitas. Pendekatan RULER memandu pembelajaran dan praktik keterampilan ini, dimulai dengan para pemimpin dan pendidik dan berkembang ke staf sekolah lainnya, siswa, dan keluarga mereka.


Mari selami. Bisakah Anda menjelaskan pendekatan RULER?

RULER adalah singkatan dari lima keterampilan kecerdasan emosional:

  • Mengenali emosi dalam diri sendiri dan orang lain
  • Memahami penyebab dan konsekuensi emosi
  • Memberi label emosi dengan kosakata yang bernuansa
  • Mengekspresikan emosi sesuai dengan norma budaya dan konteks sosial
  • Mengatur emosi dengan strategi yang membantu

Penelitian menunjukkan bahwa kelima keterampilan ini terkait dengan berbagai hasil kehidupan yang penting, termasuk kinerja akademis dan tempat kerja yang lebih baik, hubungan yang lebih baik, keterampilan kepemimpinan yang ditingkatkan, kecemasan dan depresi yang lebih sedikit, keterampilan resolusi konflik yang lebih baik, dan kesejahteraan yang lebih baik.

RULER juga merupakan nama pendekatan berbasis bukti untuk pembelajaran sosial dan emosional yang mendukung seluruh komunitas sekolah dalam:

  • Memahami nilai emosi
  • Membangun keterampilan kecerdasan emosional
  • Menciptakan dan memelihara iklim emosional yang positif

RULER melatih pemimpin sekolah, fakultas, dan staf, serta siswa dan anggota keluarga mereka, untuk mengelola berbagai perasaan mereka sehingga mereka dapat membuat keputusan yang lebih tepat, membentuk dan memelihara hubungan yang saling mendukung, mencapai pertumbuhan dan kesejahteraan pribadi, dan mencapai keduanya akademik dan kesuksesan hidup.

7 Tantangan Pembelajaran Sosial Emosional

 

7 Tantangan Pembelajaran  Sosial Emosional
7 Tantangan Pembelajaran  Sosial Emosional

Pembelajaran sosial emosional  membantu siswa dan orang dewasa mengembangkan keterampilan kunci dalam lima kompetensi inti pembelajaran emosional sosial sebagaimana didefinisikan oleh Collaborative of Academic, Social and Emotional Learning (CASEL): kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan hubungan dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Saat siswa dan guru bekerja sama untuk memperkuat keterampilan belajar sosial dan emosional ini, budaya sekolah akan meningkat.

Berikut adalah 7 tantangan dan kekhawatiran yang mungkin sering dihadapi beserta uraian bagaimana program pembelajaran emosional sosial secara universal akan membantu sekolah mengatasi tantangan ini dan meningkatkan budaya sekolah mereka:


Tantangan: Kurangnya komunikasi dan percakapan yang jujur.

Solusi: SEL membentuk kesepahaman dan mengembangkan keterampilan komunikasi.

Program pembelajaran sosial emosional yang kuat harus membantu komunitas sekolah mengembangkan bahasa yang sama untuk bersandar saat mendiskusikan emosi, tantangan, dan konflik. Bahasa yang sama membantu kita menavigasi percakapan yang sulit dan meminta pertanggungjawaban satu sama lain dengan cara yang tidak terlalu mengancam. Ketika kita dapat berbicara tentang emosi kita dan menyelesaikan konflik dengan sukses, kita meningkatkan kemampuan kita untuk bekerja sama.


Tantangan: Kurangnya pemahaman.

Solusi: SEL membangun dan memperkuat empati.

Pembelajaran emosional sosial memberi kita kesempatan untuk lebih memahami satu sama lain. SEL menawarkan peluang untuk hubungan otentik antara siswa, staf, dan pemimpin sekolah. Saat komunitas sekolah mulai berbagi pengalaman pribadi satu sama lain, kita akan mulai lebih memahami apa yang dibawa oleh rekan kerja dan rekan kerja kita, dalam benak mereka setiap hari. Komunitas sekolah akan mulai menyadari bahwa kita semua memiliki tantangan yang sedang kita tangani serta momen kebanggaan untuk dirayakan. Melihat persamaan dan perbedaan antara satu sama lain mengembangkan empati, menumbuhkan komunitas yang lebih kuat, dan berkontribusi pada budaya sekolah yang mendukung.


Tantangan: Kurangnya kolaborasi.

Solusi: SEL membantu individu agar mampu bekerja sama dalam berbagai kelompok.

Pembelajaran emosional sosial membangun dan memperkuat komunikasi dasar, kolaborasi dan keterampilan kepemimpinan yang membantu siswa dan orang dewasa berhasil bekerja bersama dalam lingkungan kelompok. Lebih penting lagi, SEL membantu komunitas kita mengenali perbedaan, menghormati keragaman, dan mengembangkan empati satu sama lain. Ini berarti bahwa individu akan berhasil menavigasi hubungan kerja dengan orang-orang yang mungkin memiliki pendapat, sudut pandang, atau kepercayaan yang berbeda. Ketika semua anggota tim dapat bekerja sama, terlepas dari perbedaan mereka, komunitas sekolah akan dapat bekerja sama dengan lebih kohesif.


Tantangan: Kurangnya tujuan.

Solusi: SEL menciptakan waktu dan ruang untuk koneksi otentik.

Pembelajaran emosional sosial membantu siswa dan guru mengembangkan kesadaran diri, mengenali kekuatan, dan menciptakan tujuan untuk masa depan. Program SEL harus memberikan waktu untuk refleksi diri bagi siswa dan orang dewasa untuk mengidentifikasi minat mereka dan menciptakan tujuan untuk membantu mereka memenuhi tujuan mereka. Dengan memberi siswa dan orang dewasa waktu untuk terhubung secara otentik dengan diri mereka sendiri, kita membantu mereka membangun tujuan yang lebih kuat. Dengan memberi mereka waktu untuk terhubung secara otentik satu sama lain, kita memberi mereka kesempatan untuk saling mendukung dan menciptakan visi bersama untuk kemajuan di masa depan.


Tantangan: Kurangnya dukungan.

Solusi: SEL memberikan dukungan universal untuk semua dan membantu guru mengidentifikasi siswa yang membutuhkan dukungan tambahan secara lebih proaktif.

Program pembelajaran emosional sosial universal memastikan bahwa semua siswa menerima dukungan SEL dasar. Seringkali, SEL dan dukungan kesehatan mental telah hidup dalam cabang tingkat 2 dan 3 dari model MTSS dan siswa yang diidentifikasi berdasarkan masalah akademik atau perilaku menerima intervensi. Penelitian telah membuktikan bahwa semua siswa membutuhkan dan mendapatkan manfaat dari SEL. Dengan menyediakan waktu dan ruang bagi siswa dan guru untuk memeriksa diri mereka sendiri dan dengan satu sama lain, guru dapat lebih proaktif mengidentifikasi siswa yang mungkin membutuhkan dukungan tingkat 2 atau 3. Selain itu, siswa dan orang dewasa akan lebih nyaman mengenali emosi dan pemicu stres mereka, mengidentifikasi kapan mereka membutuhkan bantuan, dan meminta dukungan ini sesuai kebutuhan. Dengan memberikan dukungan universal, kami memastikan semua siswa dilihat, didengar, dan didukung.


Tantangan: Kurangnya pengambilan risiko.

Solusi: SEL mendorong pengambilan risiko dan membantu individu mengatasi ketakutan akan kegagalan.

Kesalahan menciptakan peluang untuk belajar. Agar siswa kami tumbuh dan berkembang, kami harus mendorong mereka untuk mengambil risiko. Agar sekolah kita berkembang, kita harus memberdayakan orang dewasa kita untuk mengambil risiko juga. Emoti sosial

Pembelajaran sosial-emosional membantu individu mengatasi rasa takut mereka akan kegagalan dengan mengembangkan mindset berkembang, strategi manajemen emosional, dan keterampilan menetapkan tujuan. Ketika anggota komunitas sekolah memiliki keterampilan untuk merasa nyaman dan percaya diri dalam mengambil risiko, budaya sekolah yang mendukung tumbuh kembang akan terus berkembang.


Tantangan: Kurangnya hubungan yang mendukung.

Solusi: SEL membangun hubungan yang lebih kuat dan lebih dalam.

Pada intinya, pembelajaran sosial emosional adalah tentang hubungan - hubungan yang kita miliki dengan diri kita sendiri, dan hubungan yang kita miliki dengan orang-orang di sekitar kita. Kelima kompetensi inti SEL secara langsung berkontribusi pada pengembangan hubungan intra-pribadi dan interpersonal yang sehat. Kesadaran diri dan manajemen diri berdampak langsung pada hubungan kita dengan diri kita sendiri. Kesadaran sosial dan keterampilan hubungan secara alami memengaruhi kemampuan kita untuk memupuk dan mempertahankan hubungan otentik dengan orang lain. Ketika siswa dan orang dewasa mengembangkan keterampilan ini, mereka akan lebih mampu menjaga hubungan yang otentik. Saat mereka membentuk hubungan yang lebih bermakna satu sama lain, budaya di sekolah akan terus meningkat. Dengan membuka waktu dan ruang untuk terhubung secara otentik satu sama lain, memahami tantangan satu sama lain, dan saling mendukung - kami memperdalam hubungan di seluruh komunitas sekolah kami.

Manfaat Mengajar Mindfulness di Kelas

Manfaat Mengajar Mindfulness di Kelas
 Manfaat Mengajar Mindfulness di Kelas


Mempromosikan Mindfulness di kelas bukan hanya cara untuk menenangkan siswa karena pendidikan kesadaran memiliki banyak manfaat lain bagi mereka. Berikut beberapa manfaat mindfulness untuk anak-anak menurut APA (American Psychological Association):

  • Mengurangi pemikiran berlebihan
  • Mengurangi tingkat stres dan kecemasan
  • Meningkatkan memori kerja
  • Meningkatkan fokus
  • Reaktivitas yang kurang emosional (lebih logis)
  • Ketenangan
  • Fleksibilitas kognitif
  • Hubungan sosial yang lebih baik
  • Peningkatan sistem kekebalan
  • Peningkatan kesejahteraan
  • Peningkatan kecepatan pemrosesan informasi
  • Task Effort menurun
  • Empati
  • Kasih sayang
  • Meningkatkan kesadaran emosi
  • Meningkatkan kesadaran diri

Seperti yang Anda lihat, Mindfulness memiliki banyak manfaat mental, psikologis, sosial, dan fisik. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mulai mengajarkan Mindfulness bagi siswa .

Sumber: https://www.mentalup.co/blog/mindfulness-activities-in-the-classroom

25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 5



 21. Perayaan yang dipimpin siswa

Keterampilan SEL: Kesadaran sosial, keterampilan hubungan, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Bahan: Perlengkapan pesta, rubrik, contoh

Biarkan siswa Anda mengeluarkan tenaga dan bekerja sama untuk merencanakan pesta kelas! Ubah perayaan menjadi kesempatan untuk mengajarkan tanggung jawab, penganggaran, manajemen waktu, kerja tim, dan banyak lagi.

Sediakan bagi siswa rubrik untuk menguraikan ekspektasi, batasan waktu yang jelas, dan anggaran (meskipun anggaran itu $ 0,00).

Tantang mereka untuk:

  • Pilih tema
  • Kirim undangan
  • Pilih tanggal dan waktu yang sesuai
  • Hiasi ruang kelas
  • Rencanakan dan jalankan aktivitas yang akan dinikmati seluruh kelas
  • Atur pengaturan dan bersihkan setelahnya
  • Anda mungkin akan terkejut dengan ide-ide yang mereka hasilkan!

Sangat penting bagi siswa sekolah menengah untuk menguasai komunikasi yang efektif dan membangun hubungan dengan orang-orang di luar kelas, baik mereka yang akan kuliah atau langsung bekerja.


22. Pertemuan kelas

Keterampilan SEL: Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, keterampilan hubungan

Bahan: Tidak ada

Buat ruang untuk komunitas dan tanggung jawab di kelas sekolah menengah Anda dan adakan pertemuan kelas setiap minggu atau setiap bulan.

Tantang siswa untuk membawa ide-ide yang membuat kelas menjadi lebih baik, melibatkan semua siswa dalam kegiatan dan memecahkan masalah.

Anda dapat menggunakan ini sebagai ruang untuk mengumpulkan umpan balik siswa, menyelesaikan perselisihan, merencanakan acara kelas, atau bahkan hanya berbagi!

Mungkin perlu sedikit bagi siswa untuk terbuka, tetapi hasilnya akan sepadan. Pertimbangkan untuk menggunakan Formulir Google atau kotak saran di kelas Anda, kemudian berikan umpan balik sebagai kelompok dan kembangkan solusi bersama.


23. Presentasi minat

Keterampilan SEL: Kesadaran diri

Bahan: Jadwalkan presentasi, petunjuk ide jika diperlukan

Setiap siswa sangat menyukai sesuatu - kartun, sepak bola, merajut, gitar bass, apa saja!

Manfaatkan hasrat itu untuk pengalaman belajar yang lebih melibatkan! Minta siswa untuk menemukan aplikasi dunia nyata yang mereka sukai untuk apa yang Anda pelajari di kelas.

Beberapa ide termasuk:

  • Baseball dan statistik
  • Fashion dan perubahan iklim
  • Fisika nyanyian opera
  • Deret Fibonacci di alam dan seni

Siswa akan memiliki kesempatan untuk terhubung dengan teman sekelas mereka secara lebih pribadi dan menemukan cara untuk berhubungan dengan materi kelas.


24. Egg Drop

Keterampilan SEL: Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, keterampilan hubungan

Bahan: Telur mentah, kertas, styrofoam, kain, sedotan, dan bahan lain yang menurut Anda mungkin dibutuhkan siswa - poin bonus untuk menggunakan bahan daur ulang!

Meskipun siswa dari segala usia mungkin akan merespons dengan baik aktivitas ini, tidak ada yang lebih menyatukan sekelompok remaja selain menjatuhkan barang dari tempat tinggi dan melihat apa yang terjadi.

Tantang siswa untuk membangun struktur yang akan menopang telur mentah yang halus saat dijatuhkan dari atas tangga (atau dari atas gedung sekolah, jika memungkinkan).

Mereka harus bekerja sama dalam tim untuk membangun perlindungan yang efektif untuk telur mereka, dan menggunakan strategi resolusi konflik untuk bekerja secara efektif.

Setelah itu, mintalah siswa untuk merenungkan bagaimana tim mereka bekerja sama. Jika mereka tidak berhasil, apa yang dapat mereka lakukan secara berbeda? Jika mereka berhasil, mengapa?


25. Bangun komunitas dengan kerja tim

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan, kesadaran sosial

Bahan: Rubrik, perlengkapan proyek

Mempelajari cara bekerja secara efektif dengan orang lain adalah keterampilan terpenting yang dapat dikuasai siswa sekolah menengah saat mereka pergi ke dunia nyata.

Untungnya, ada banyak strategi pengajaran berbeda yang menekankan kolaborasi dan kerja sama:

Gunakan pembelajaran kooperatif untuk mengajari siswa dasar-dasar kerja kelompok

Luncurkan pembelajaran berbasis proyek di kelas Anda untuk memanfaatkan antusiasme siswa dan mendorong semangat penemuan dan kerja sama

Tetapkan proyek pembelajaran layanan untuk menunjukkan kepada siswa manfaat memberi kembali kepada komunitas mereka, sambil juga menghubungkannya ke pelajaran di kelas


Sumber: https://www.prodigygame.com/main-en/blog/social-emotional-learning-activities/

25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 4

 


16. Pertanyaan pagi

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan, kesadaran sosial

Bahan: Daftar pertanyaan yang sesuai dengan siswa Anda!

Coba pertanyaan seperti:

  • Apa liburan favoritmu?
  • Jika Anda adalah seekor binatang, Anda akan menjadi apa?
  • Jika Anda bisa pergi ke mana saja untuk berlibur, kemana Anda akan pergi?

Pertanyaan pagi juga mudah diadaptasi untuk pembelajaran online, dan dapat membantu siswa merasakan kebersamaan meskipun mereka tidak bersama teman sekelas secara langsung.


17. Mainkan game

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan

Bahan: Bervariasi berdasarkan game

Ada banyak alasan mengapa pembelajaran berbasis game sangat bagus untuk siswa, tetapi salah satu yang paling menarik adalah bahwa hal itu mengajari siswa cara bekerja sama, memecahkan masalah, dan menemukan solusi - saat mereka belajar.

Sekolah dasar adalah waktu yang tepat untuk mengajari siswa dasar-dasar pengambilan giliran dan pengaturan emosi. 


18. Penulisan jurnal

Keterampilan SEL: Kesadaran diri

Bahan: Buku catatan dan pena, petunjuk penjurnalan

Menulis jurnal adalah cara yang bagus bagi siswa sekolah menengah (ke atas!) Untuk memproses informasi, memahami emosi mereka, dan merefleksikan pelajaran.

Beri siswa waktu reguler setiap minggu untuk membuat jurnal. Berikan petunjuk seperti:

  • Apa yang kamu syukuri hari ini?
  • Apa arti perduli pada diri sendiri untukmu?
  • Apa hobimu? Mengapa?
  • Siap orang terdekatmu, yang membuat kamu merasa percaya diri?

Untuk mendorong refleksi siswa, pertimbangkan untuk menilai hanya satu atau dua entri yang siswa pilih untuk ditunjukkan kepada Anda dari jurnal.


19. Waktunya berdebat

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan, manajemen diri, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Bahan: Pertanyaan debat terkait pelajaran Anda

Debat adalah cara yang bagus untuk mengajar siswa sekolah menengah bagaimana merumuskan argumen, secara aktif mendengarkan dan dengan hormat tidak setuju dengan teman-teman mereka.

Selain itu, mudah untuk memasukkannya ke dalam pelajaran Anda!

Pilih topik debat seputar novel yang baru saja selesai kelas Anda, peristiwa terkini, atau hal lain yang disukai siswa Anda.

Bagilah menjadi beberapa tim, lalu mintalah siswa membuat argumen terstruktur dan menanggapi teman sekelas mereka. Ini juga cara yang bagus bagi siswa untuk melatih keterampilan berbicara di depan umum!


20. Kutipan hari ini

Keterampilan SEL: Kesadaran diri, keterampilan hubungan

Bahan: Daftar kutipan yang relevan (lihat daftar kutipan guru kami!)

Minta siswa Anda untuk menanggapi kutipan penting tentang topik atau masalah tertentu dan tantang mereka untuk memikirkan emosi pembicara, mendorong empati dan pemikiran kritis.

Pilih kutipan dan letakkan di papan tulis. Baik dalam kelompok kecil, tanggapan penjurnalan individu atau diskusi seluruh kelas, tanyakan kepada siswa:

  • Emosi apa yang dialami pembicara?
  • Emosi apa yang kamu rasakan dari kutipan ini?
  • Informasi atau pandangan apa yang dirujuk kutipan tersebut?
Sumber: https://www.prodigygame.com/main-en/blog/social-emotional-learning-activities/

Bagaimana Anda mempraktikkan Mindfulness di kelas?


Menerapkan praktik mindfulness di kelas, baik harian atau mingguan tidak harus memakan waktu atau rumit. Intinya bukanlah menambahkan lebih banyak stres untuk Anda, tetapi belajar bagaimana mengelola stres saat itu muncul. Berikut adalah beberapa latihan cepat dan mudah yang dapat Anda tambahkan ke dalam kelas hari ini:

Latihan pernapasan - Sebelum meminta siswa memulai tes atau kuis, atur pengatur waktu selama satu menit dan praktikkan pernapasan penuh perhatian. Bersama siswa, tarik napas dalam hitungan dua dan embuskan hingga hitungan kedua.

Diskusikan emosi - Luangkan waktu sebentar di awal setiap kelas untuk meminta siswa melakukan pemeriksaan emosi. Ini bisa menjadi saat yang tenang bagi siswa untuk berpikir atau membuat jurnal untuk diri mereka sendiri. Atau, ini bisa menjadi kesempatan bagi siswa untuk menyuarakan perasaannya dengan lantang.

Berikan tempat untuk siswa yang stres - Kosongkan sebagian ruang kelas Anda untuk menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk memiliki waktu sejenak untuk diri mereka sendiri. Jika Anda melihat siswa terlihat kesal atau kewalahan, tawarkan mereka waktu di tempat tersebut. Untuk anak-anak kecil, ini bahkan bisa menjadi tenda bermain atau area semi-pribadi lainnya.

Jurnal rasa syukur - Sisihkan waktu 5 menit sekali seminggu bagi siswa untuk membuat jurnal tentang hal-hal yang mereka syukuri.

Perkenalkan perhatian - Bawa latihan pernapasan ke tingkat berikutnya dengan membimbing siswa melalui latihan kesadaran singkat.

Bicarakan tentang manfaat perhatian penuh - Membahas manfaat perhatian penuh dan bahkan berbagi pengalaman dari kehidupan Anda sendiri akan membantu siswa mengadopsi praktik mereka sendiri.

Konsistensi adalah kuncinya, jadi jadikan perhatian sebagai bagian dari rutinitas kelas harian Anda!

Kesadaran adalah kualitas yang kita semua miliki dan dapat ditingkatkan melalui latihan. Sebagai pendidik, penting untuk mengajarkan siswa cara untuk menyeimbangkan tingkat stres mereka dan mempelajari nilai merawat kesehatan mental dan emosional mereka setiap hari.

25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 3

Pada artikel sebelumnya, 25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 1 dan 25 Inspirasi Aktivitas Pembelajaran Sosial Emosional-Part 2 telah dibahas 10 aktivitas pembelajaran sosial emosional beserta ketampilan SEL yang terkait. kali ini saya akan memaparkan 5 aktivitas lain yang mungkin dapat menjadi insprirasi bagi Anda.


11. Sudut Ketenangan

Keterampilan SEL: Kesadaran diri, manajemen diri

Bahan: Aneka gelisah, perabot dan barang lainnya sesuai kebutuhan

Menjadi anak, bahkan pada usia taman kanak-kanak bisa menimbulkan stres - mereka menghadapi pengalaman baru, teman baru, dan lingkungan yang asing. Ciptakan sudut yang tenang untuk membantu siswa menghadapi emosi yang sulit. Sudut ketenangan dapat terlihat berbeda di setiap kelas. Sebagai inspirasi, beberapa hal yang mungkin bisa ditambahkan pada "Sudut Ketenangan" misalnya: Buku, Fidgets (Mainan yang membantu mengatasi stres, seperti slime, squisy, rubiks, dsb), Tempat duduk fleksibel (misalnya arpet, stool, dsb), Stoples penenang, dsb.

Stoples penenang


Arahkan siswa ke sudut ketenangan ketika mereka membutuhkan waktu tenang sendirian, dan dorong siswa untuk memperhatikan emosi mereka sendiri dan menggunakan sumber daya mereka sendiri.


12. Dorong pembicaraan diri yang positif

Ucapan positif


Keterampilan SEL: Kesadaran diri, pengaturan diri

Bahan: Hanya sikap positif!

Familier kah Anda dengan ungkapan-ungkapan berikut?

"Ini terlalu sulit."

“Kurasa ini cukup bagus, tidak perlu susah-susah .” 

"Semua orang lebih baik dalam hal ini daripada aku!"

Sebagai seorang guru, Anda memiliki kesempatan dan peran penting untuk membangun siswa dan memengaruhi cara mereka berpikir tentang diri mereka sendiri. Koreksi siswa dengan lembut ketika Anda mendengar self-talk negatif sepanjang hari, dan gunakan itu sebagai kesempatan untuk menyarankan pemikiran yang baik, seperti:

"Saya akan bekerja keras dan melakukan ini dengan benar."

“Saya bisa melakukan lebih baik.”

“Bagaimana teman sekelas saya memecahkan masalah ini?”

Terapkan ini untuk diri Anda sendiri, juga - jika Anda membuat kesalahan, jangan mencaci diri sendiri. Gunakan itu sebagai kesempatan untuk mendemonstrasikan pembicaraan diri yang positif dan coba lagi.


13. Bingo Minat



Contoh kartu Bingo >DOWNLOAD DISINI

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan

Bahan: Kartu Bingo dengan deskripsi

Bangun koneksi antar siswa dengan permainan bingo yang menyenangkan! Bagikan kartu kepada siswa dan minta mereka untuk menemukan teman sekelas yang cocok dengan deskripsi di setiap kotak.

Gunakan kartu bingo seperti pada contoh di atas untuk menyesuaikan set kartu bingo Anda dengan deskripsi seperti:

  • Bermain sepakbola
  • Suka bayam
  • Memiliki dua atau lebih saudara kandung
  • Lebih menyukai kucing daripada anjing
  • Berbicara lebih dari satu bahasa
  • Lebih suka pancake dari pada wafel
  • Rasa es krim favoritnya adalah coklat

Dan apa pun yang dapat Anda pikirkan! Tidak hanya memperkenalkan siswa pada berbagai latar belakang dan pengalaman, ini juga merupakan pengalaman di sekolah yang luar biasa.


14. Lakukan tindakan kebaikan secara acak

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan, kesadaran sosial
Bahan: Daftar  ide tindakan kebaikan acak!

Promosikan tindakan kebaikan secara acak di kelas Anda untuk membangun budaya sekolah yang positif dan membantu siswa mengembangkan empati.

Beberapa ide yang dapat Anda pertimbangkan adalah:
  • Bicaralah dengan teman sekelas yang terlihat kesepian
  • Pinjamkan buku atau film favorit Anda kepada teman
  • Tulis catatan terima kasih untuk petugas kebersihan sekolah
  • Buka pintu untuk orang di belakang Anda
  • Sumbangkan handuk dan selimut tua ke penampungan hewan setempat
  • Siswa akan mempelajari nilai bersikap baik kepada orang lain dan membangun hubungan di dalam dan di luar kelas!

15. Menulis cerita bersama

Keterampilan SEL: Keterampilan hubungan, kesadaran sosial
Bahan: Kartu dengan petunjuk tertulis atau visual

Bagikan kartu petunjuk dengan berisi teks atau gambar. Mulailah cerita dengan "Pada suatu ketika", lalu lanjutkan ke siswa berikutnya. Siswa harus menggunakan petunjuk pada kartu dan keterampilan kesadaran sosial mereka untuk bekerja sama dan membangun cerita yang menarik.

Dokumentasikan cerita yang dihasilkan siswa! Setelah itu, ajukan pertanyaan seperti
  • Bagaimana perasaan Anda dari cerita itu?
  • Apa bagian cerita yang paling membahagiakan?
  • Apa bagian cerita yang paling menyedihkan?
Itu tadi 5 ide tambahan untuk pembelajaran Sosial Emosional di kelas Anda

Artikel terkait:

Sumber :https://www.prodigygame.com/main-en/blog/social-emotional-learning-activities/