This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Suatu Hari ketika Pergi Mengaji



Tina tak henti-hentinya memandangi sepeda barunya. Warnanya biru muda, dengan keranjang yang cantik di depan setang. Di ujung setang ada pita kecil berwarna putih, biru, dan merah yang selalu melambai-lambai saat sepedanya bergerak. Di bagian belakang sepeda Tina juga ada boncengannya. Kemudian, sebuah bel yang cantik menempel di bagian setang membuat sepeda baru Tina nampak sempurna. Sepeda yang sempurna seperti impian Tina sejak dulu.
“Kriiing, kriiing, kriiiing,” Tina membunyikan bel sepedanya. Suaranya nyaring sekali.
Tina sangat bahagia. Senyum mengembang di wajahnya. Sudah lama Tina ingin punya sepeda, dan akhirnya orang tua Tina membelikan sepeda baru untuknya. Kebetulan hasil panen kopi tahun ini cukup melimpah. Jadi orang tua Tina memiliki kelebihan rejeki untuk membeli sepeda.
Tina mencoba menaiki sepeda barunya. Ia bersepeda mengelilingi halaman dengan sepeda barunya. Beberapa kali Tina membunyikan bel sepedanya kembali.
“Kriiing, kriiing, kriiiing,” suara bel sepeda itu membuat Tina lebih bersemangat mengayuh sepedanya. Meskipun belum pernah memiliki sepeda sendiri, sebelumnya Tina sudah belajar naik sepeda dengan sepeda milik sepupunya, karena itu ia sudah mahir naik sepeda.
Saking asyiknya bermain dengan sepeda barunya. Tina tidak menyadari Ririn temannya datang. Ririn adalah tetangga Tina. Rumah Ririn hanya selisih dua rumah dari rumah Tina. Selain bertetangga, Ririn dan Tina juga teman sekelas. Mereka berdua duduk sebangku.
Usia Tina dan Ririn hanya selisih dua bulan, tapi tubuh Ririn jauh lebih tinggi dan lebih besar dari Tina. Tubuh Ririn memang cukup bongsor. Bahkan tinggi Tina hanya sepundak Ririn. Ririn juga anak yang paling tinggi dan paling gendut di kelasnya.  Tapi meskipun cukup gendut, Ririn termasuk anak yang lincah. Ia juga periang dan baik hati.
“Sepadamu baru ya Tin?” tanya Ririn saat melihat Tina dengan sepeda barunya.
“Iya Rin. Bagus kan?” jawab Tina.
“Iya, bagus sekali. Mahal ya Tin?” tanya Ririn.
“Tidak kok. Ini bukan sepeda merek terkenal yang mahal,” Jawab Tina.
“Tapi bagus kok Tin. Aku juga mau punya sepeda seperti ini. Aku pinjam ya Tin.”
“Tapi…,” Tina ragu untuk meminjamkan sepeda barunya pada Ririn. Tina belum pernah melihat Ririn naik sepeda. Tina khawatir kalau Ririn jatuh dari sepeda, dan membuat sepeda barunya rusak.
Melihat Tina agak ragu-ragu, Ririn mencoba meyakinkan Tina. “Aku sudah bisa naik sepda kok Tin,” kata Ririn. “Tidak usah khawatir. Sepeda kamu, pasti aman,” ucap Ririn lagi.
“Benar Rin? Ya sudah, tapi hati-hati ya!” pesan Tina kepada Ririn sahabatnya, sebelum memberikan sepedanya untuk dipinjam.
“Iya. Aku pasti hati-hati kok,” sekali lagi Ririn mencoba meyakinkan Tina.
Ririn ternyata memang sudah pintar naik sepeda. Beberapa kali ia berputar di halaman rumah Tina yang luas itu dengan lincahnya.
Setelah beberapa kali mengitari halaman, Ririn berhenti di depan Tina “Ayo kubonceng Tin,” kata Ririn kepada Tina.
“Oke. Siapa takut?” Tina setuju dengan usul sahabatnya. Mereka berdua pun berboncengan naik sepeda, tidak hanya di halaman rumah Tina, tapi juga disepanjang jalan kampung mereka.
Mereka bersepeda sambil tertawa-tawa. Ririn senang, bisa ikut main sepeda. Sepeda baru lagi. Tina juga senang, bisa berkeliling naik sepeda tanpa harus lelah mengayuh. Selain itu, Tina merasa sangat senang, bisa membuat sahabatnya bahagia.
Saat Tina dan Ririn asyik bersepeda, dari arah masjid terdengar suara adzan Asar. Selain mengingatkan waktu sholat, suara adzan di kampung Tina juga jadi pengingat anak-anak di kampung Tina untuk pergi mengaji. Biasanya TPQ dimulai setelah shalat Asar berjamaah di masjid.
“Eh sudah adzan Tin, ayo kita siap-siap pergi mengaji,” Kata Ririn kepada Tina.
“Iya. Ayo!” jawab Tina
“Tin, nanti kita pergi mengaji pakai sepedamu ya! Kita boncengan lagi,” usul Ririn.
“Boleh… boleh…,” ternyata Tina juga setuju dengan usul Ririn. Ririn dan Tina kemudian pulang ke rumah masing-masing.
Selesai mandi dan menyiapkan segala sesuatu yang digunakan saat belajar mengaji, Ririn menghampiri Tina di rumahnya. Saat Ririn tiba di rumah Tina, Tina sudah siap dengan sepedanya di depan rumah.
“Sudah siap Tin? Ayo berangkat!” sapa Ririn saat bertemu Tina kembali.
“Ayo,” jawab Tina dengan penuh semangat.
Di hari Sabtu yang cerah itu, Ririn kembali memboncengkan Tina saat berangkat mengaji. Jarak rumah Ririn dan Tina lumayan jauh dari masjid. Setidaknya dibutuhkan waktu dua puluh menit jika berjalan kaki. Sebagian jalan yang mereka lewati cukup landai, namun sebagian jalan yang lain agak menanjak.
Beberapa menit berlalu, tanpa terasa Ririn dan Tina sudah hampir sampai masjid, tapi Ririn sudah merasa kelelahan. Napasnya jadi tersengal-sengal saat melewati jalan yang menanjak. Ia menghentikan laju sepedanya sebentar.
“Kamu capai ya Rin?” Tina bertanya, saat melihat Ririn seperti kelelahan. “Kita gantian saja Rin. Biar aku yang di depan,” usul Tina emudian.
“Kamu tahu saja Tin. Ya sudah, kita gantian. Aku memang lelah sekali,” jawab Ririn.
Ririn dan Tina saling bergantian. Tina yang mengayuh sepeda, sedangkan Ririn membonceng di belakang.
Tina mengayuh pedal sepeda barunya sekuat tenaga.  Jalan yang agak menanjak, ditambah beban yang cukup berat dari badan Ririn yang diboncengkannya, membuat apa yang Tina lakukan tidak mudah.
Baru lima kali mengayuh pedal sepedanya, Tina kehilangan keseimbangan. Sepeda Tina dan dua penumpangnya mundur ke belakang.
“Aaaaaaaa,” Tina dan Ririn spontan berteriak. Karena panik, Tina bahkan tidak ingat untuk mengerem sepedanya. Sepeda Tina terus mundur ke belakang, kemudian tergelincir ke sisi jalan, dan ambruk. Tubuh Tina dan Ririn juga ikut terjerembab ke tanah bersama sepeda yang mereka naiki. Untung saja mereka tidak sampai terperosok ke dalam selokan.
Tina meringis merasakan perih di tangan dan kakinya yang lecet-lecet. Ia kemudian melihat keadaan Ririn. Keadaan Ririn ternyata juga tidak jauh berbeda. Ririn dan Tina saling pandang kemudian kompak tertawa terbahak-bahak.
“Kamu tidak apa-apa Rin?” tanya Tina setelah tawanya reda.
“Tidak apa-apa Tin. Cuma lecet-lecet sedikit. Ayo bangun! Nanti keburu ada orang yang melihat kita. Bisa malu kita,” ucap Ririn. Ririn khawatir ada orang yang lewat dan melihat mereka. Ia takut mereka akan mentertawai Tina dan Ririn.
Tina dan Ririn segera bangun. Mereka mengusap-usap baju dan badan mereka yang kotor karena debu jalan. Secepat mungkin mereka memberdirikan sepeda Tina. Dan melanjutkan perjalanan ke TPQ.
Dari pada jatuh lagi, Tina dan Ririn memilih untuk menuntun sepedanya di tanjakan. Mereka berdua masih saja tertawa-tawa hingga sampai ke masjid. Ririn dan Tina merasa geli dengan kekonyolan mereka sendiri. Mereka juga merasa beruntung memiliki teman yang baik, bisa saling berbagi dan saling membantu. Bahkan saat mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti saat terjatuh dari sepeda tadi, mereka tetap bisa tertawa bahagia.

Tangis Ella


"Bu, Ella menangiiiisss," seru Kiki, Eli dan Dila dari depan ruang guru dengan kompaknya. 
Bu Aishah baru beberapa detik yang lalu masuk ke ruangan  itu, terlihat menarik napas dengan berat, sebelum kembali menghembuskannya dan menjawab, "Ya, ibu segera kesana." 
Setelah mendengar jawaban wali kelasnya, ketiga siswi kelas 5 SD Insan Mulia itu, segera berlari-lari kecil di koridor sekolah ke arah ruangan kelas mereka. Tak lama kemudian Bu Aisha pun menyusul murid-muridnya.
Di depan ruang kelas lima, terlihat Ella sedang duduk di lantai, dekat rak sepatu, sambil memeluk kedua lututnya. Wajahnya dibenamkan diantara kedua lutut itu. Suara tangisan siswi kelas lima yang bertubuh mungil itu terdengar jelas di halaman sekolah yang mulai sepi.
"Sudah, jangan nangis lagi, Bu guru sudah datang tuh," ucap Kiki, menghibur temannya, begitu  Bu Aishah tiba di hadapan mereka.
"Kenapa nangis nduk?" tanya Bu Aishah sambil sedikit membungkuk dan mengelus rambut siswinya itu.
Sesaat, Ella menengadah, melihat ke arah Bu Aisha dengan wajah sembabnya. Bukannya menjawab, tangis gadis kecil itu malah semakin kencang.
"Ehhh, kok malah tambah kencang nangisnya? Kenapa? Temanmu ada yang nakal lagi?" tanya Bu Aishah sambil duduk di samping Ella. Gadis cilik berseragam putih merah itu hanya mengangguk di sela tangisnya.
"Sepatumu hilang lagi?" tebak Bu Aishah kemudian.
Ella menjawab pertanyaan bu gurunya dengan sebuah anggukan.
Bu Aisha bisa menebak dengan tepat, karena kejadian itu bukan yang pertama kali terjadi. Memang hampir setiap hari, Ella menangis di sekolah. Bahkan dalam seminggu ini, entah sudah berapa kali Ella menangis. Beberapa hari yang lalu, ia menangis karena bukunya ada yang tertingal di rumah. Di lain hari siswi termuda di kelasnya itu menangis karena tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan Bu Aishah, tapi yang paling sering, ia menangis karena diusili teman-temannya.
Entah mengapa beberapa siswa kelas lima suka sekali menjahili Ella. Pernah suatu hari mereka menyembunyikan tas Ella, saat ia ke luar kelas saat istirahat. Pernah juga, mereka mengolok-oloknya sebagai anak yang cengeng. Beberapa kali anak-anak yang jahil itu juga menyembunyikan sepatu Ella saat akan pulang sekolah seperti kejadian hari ini. Setiap hal-hal seperti itu terjadi, Ella selalu menangis.
"Kalian tahu, siapa yang menyembunyikan sepatu Ella?" tanya Bu Aishah kepada Kiki, Eli dan Dila, yang sejak tadi berdiri mengelilingi Ella dan Bu  Aishah.
"Tidak Bu," jawab Eli singkat.
"Paling juga anak-anak cowok Bu," timpal Dila.
"Sudah-sudah, jangan menangis lagi! Sekarang kita sama-sama cari sepatumu. Besok ibu cari tahu siapa yang sudah menyembunyikan sepatumu. Nanti biar ibu hukum mereka seperti biasanya," kata  Bu Aishah pada Ella sambil merangkul siswinya itu. Mendengar kata-kata itu, Ella kembali menatap ke arah gurunya. Tangisnya mulai sedikit reda.
"Kamu tahu tidak Ella, anak yang jahil itu, senang sekali kalau yang dijahili marah-marah, sedih, atau menangis seperti yang kamu lakukan sekarang. Dan mereka jadi ingin menjahili kamu lagi di lain waktu. Karena itu, kalau mereka jahil lagi, kamu jangan menangis. Biar mereka kapok. Pasti nanti mereka tidak menjahili kamu lagi," lanjut  Bu Aishah.
Mendengar kata-kata gurunya, Ella terlihat seperti heran. Begitu juga ketiga temannya. "Masa sih Bu?" tanya Kiki penasaran.
"Kalau kalian tidak percaya, kita buktikan saja. Mulai sekarang, kalau ada yang menjahili atau mengolok-olok kamu Ella, kamu pura-pura tidak marah atau sedih, apalagi menangis. Ingat saja hal-hal lain yang menyenangkan. Masa kamu mau membuat anak-anak yang jahil itu senang sih? Nggak mau kan?" nasehat  Bu Aishah kemudian.
"Tiiii, tidak Bu," ucap Ella, sambil menyeka pipinya sendiri, yang basah oleh air mata.
"Ya sudah, sekarng kita cari saja sepatumu, supaya kalian bisa segera pulang ke rumah. Hari sudah siang. Teman-teman kalian juga sudah pulang semua sepertinya," ajak Bu Aishah.
"Ya Bu," jawab Ella.
"Eli, Kiki, dan kamu juga Dila, kalian bantu Ella ya!" pinta Bu Aisha kepada siswi-siswinya.
"Ya Bu. Siap laksanakan," jawab ketiga siswi kelas lima itu kompak.
Ella, dibantu Bu Aishah dan ketiga temannya pun memulai pencarian. Setelah beberapa saat mencari di sekitar ruangan kelas lima, akhirnya sepatu Ella berhasil ditemukan di tengah daun-daun pohon Bougenville yang berada di halaman kelas. Keempat siswi kelas lima itu pun akhirnya bisa pulang ke rumah masing-masing
*****
Setelah kejadian itu, Ella mencoba mempraktekkan apa yang dinasehatkan wali kelasnya. Ella selalu berusaha tidak menangis setiap ada teman sekelas yang menjahilinya. Ternyata apa yang dikatakan Bu Aishah benar. Semakin lama, semakin jarang ada siswa kelas lima yang menjahili Ella. Ella pun hampir tidak pernah lagi pulang sekolah dengan mata yang sembab.


Contoh Pantun Nasihat tentang Budi Pekerti

Contoh Pantun Nasihat tentang Budi Pekerti
Contoh Pantun Nasihat tentang Budi Pekerti

Budi pekerti yang luhur merupakan salah satu unsur budaya ketimuran. Pendidikan budi pekerti sebagai salah satu usaha pembentuk moral, perilaku, dan akhlaq yang baik dan bijak berdasarkan paduan akal dan perasaan yang baik juga terpuji akan dapat menghindarkan diri dari perilaku tercela yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Dahulu kala bangsa kita dikenal dengan keramahan dan kesopanan, namun kini krisis moral telah melanda sebagian generasi kita. Berbagai pengaruh negatif membuat kita lupa jati diri bangsa kita yang sebenarnya. Melalui pantun kita bisa mengingatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita bagaimana sikap dan perilaku yang baik. Berikut ini beberapa contohnya.


Berlari-lari mengejar kancil
Kancil berlari ke dalam gua
Rajin belajar selagi kecil
kan bijaksana  di masa tua

Burung pipit burung tekukur,
Hinggap di atas dahan akasia
Bila hati sabar dan syukur
Niscaya hidupmu kan bahagia

Sakit jari tertusuk peniti,
Peniti dipasang di baju yang baru
Kepada yang tua menghormati,
Pada yang muda menyayangi selalu

Bantal letak di atas dipan
Dipan dihias dengan kelambu
Bila kamu anak yang sopan
Pasti disayang ayah dan ibu

Kain sutera kain katun
Dijahit menjadi baju pesta
Anak yang sopan serta santun
Selalu menjaga kata-kata

Untuk apa pula saya bawa gitar
Bila akhirnya jatuh ke sungai
Kata yang menyakiti hati dan kasar
Membuat dirimu tak dihargai

Daun kelapa hanyut melayang
Pada akhirnya tersangkut di tepi
Siapa pula yang tak kan sayang
Pada anak yang sopan juga rapi

Ada angsa ada pula bebek
Dimasak di dalam periuk kecil
Miskin kaya cantik atau jelek
Kepada semua haruslah adil

Semangka pepaya mangga dan duku
Aneka warna aneka rasa
Berbeda agama berbeda suku
Harus selalu bertenggang rasa

Hari senin setelah hari minggu
Waktunya untuk bertemu relasi
Saling menghormati dan tak mengganggu
Itulah makna dari toleransi

Tak perlu jauh ke pangandaran
Untuk membeli lupis dan bubur
Tidak menutupi kebenaran
Baru namanya orang yang jujur

Sepatu untuk Faza

Cerita pendek anak Sepatu untuk Faza
Cernak Sepatu untuk Faza


Waktu menunjukkan pukul 13.15. Meskipun hari ini masih liburan kenaikan kelas, Faza sudah berdandan rapi. Setelah menunaikan sholat dzuhur, Faza segera makan siang. Sayur asem, tempe goreng dan goreng ikan asin sudah disiapkan Bunda di meja makan. Ayah, Bunda, dan Mala, adik Faza sudah makan lebih dulu. Tadi Faza ingin lebih dahulu menyelesaikan tugasnya membersihkan halaman belakang, sehingga sedikit terlambat makan siang.
Faza terlihat terburu-buru menghabiskan makan siangnya. Dia bersemangat sekali siang ini. “Makannya pelan-pelan dong Faza, kamu bisa tersedak kalau makan sambil terburu-buru seperti itu,” Seru Bunda yang mengamati tingkah Faza dari tadi.
"Hehe iya Bun.... Faza buru-buru nih" Jawab Faza sambil nyengir konyol.
"Iya.... Bunda tahu. Kamu pasti ingin segera membeli sepatu impianmu bukan? Tapi tidak perlu tergesa-gesa seperti itu juga kan sayang.... Ini kan baru jam satu". Kata Bunda dengan lembut.
"Bukan baru jam satu Bunda sayang...., tapi sudah jam satu Bunda.... Jam satu lebih lima belas menit malahan,” Jawab Faza.
"Idih.... anak Bunda yang ganteng, paling bisa deh....,”. Kata Bunda gemas, sambil mengacak-acak rambut Faza.
"Ah Bunda.... rambut Faza jadi berantakan lagi nih,” Kata Faza sambil merapikan kembali rambutnya dengan jari-jarinya. "Bunda tahu kan, berapa lama Faza menunggu hari ini?" lanjut Faza.
"Iya.... iya.... maaf ya sayang. Bunda ikut senang dan bangga kok, akhirnya Kamu berhasil juga, mengumpulkan uang untuk membeli sepatu yang Kamu inginkan. Tapi, saat makan tetap tidak boleh tergesa-gesa. Makanan harus dikunyah dengan baik agar tidak mengganggu pencernaan" kata Bunda menasehati.
“Iya Bun.... maaf. Terima kasih sudah diingatkan”
“Nah gitu dong. Itu baru namanya anak Bunda..,”
Setelah menyelesaikan makan siang dan mencuci piringnya sendiri. Faza segera berpamitan. “Faza berangkat sekarang ya Bun..,” kata Faza sambil mencium tangan Bundanya.
“Hati-hati di jalan ya sayang,” Jawab Bunda.
setelah berpamitan, Faza mengambil sepedanya di garasi. “Assalamualaikum..,” seru Faza saat mulai meninggalkan rumah dengan sepeda kesayangannya.
*****
Sinar mentari masih garang, meskipun adzan dhuhur sudah sejam yang lalu berkumandang. Pohon-pohon Akasia di sepanjang jalan komplek perumahan yang biasanya menghalau sinar matahari, sudah kehilangan hampir semua daunnya seiring hadirnya kemarau. Suasana terasa panas dan gersang, tapi hal tersebut bukan halangan bagi Faza. Kedua kakinya terasa ringan mengayuh pedal sepeda, seringan angin kemarau menerbangkan debu. Jarak dua kilo meter menuju toko “Gym” , toko peralatan olah raga langganannya terasa begitu dekat.
Hari ini setelah menyisihkan uang saku selama kurang lebih tiga bulan, ditambah beberapa puluh ribu yang dihasilkan Faza sebagai upah membersihkan halaman, tabungan Faza sudah genap Rp 200.000,00. Artinya sepatu bola baru yang diimpikan Faza sebentar lagi bisa menjadi miliknya.
Meskipun orang tua Faza bukan orang kaya, sebenarnya membelikan sepasang sepatu bola bukanlah hal yang berat. Tetapi bagi Faza, mendapatkan sesuatu dari hasil jerih payahnya sendiri jauh lebih membanggakan. Sejak kecil Faza sudah terbiasa menabung untuk membeli barang-barang yang diinginkannya. Memang membutuhkan kesabaran. Tahun lalu Faza bahkan harus menabung hingga selama setahun  penuh untuk membeli sepeda kesayangannya. Tapi justru perjuangan panjang dalam mendapatkan sepeda tersebut yang membuat Faza lebih menyayangi sepedanya. Tanpa perlu diingatkan Faza selalu rajin merawat dan membersihkan sepedanya.
Tiada terasa hampir dua pertiga perjalanan sudah terlewati, setelah belok kanan di  pertigaan dekat pabrik tahu, Toko “Gym” sudah bisa terlihat. Faza memperkencang laju sepedanya, tiba-tiba...
“Gubrak..,” Sebuah kecelakaan terjadi tepat di pertigaan di depan Faza. Sebuah gerobak tukang batagor tertabrak sepeda motor. Si pengendara motor yang ugal-ugalan telah menerobos lampu merah dan menabrak gerobak batagor hingga ambruk. Barang dagangan si Bapak penjual Batagor berserakan di jalan. Bapak penjual batagor sendiri jatuh tersungkur di aspal, sayangnya selain ugal-ugalan si pengendara motor juga tidak bertanggung jawab. Dia terus melaju tanpa memperdulikan korban.
Jalanan saat itu cukup sepi. Tak ada orang yang lewat dijalan itu selain Faza, Bapak penjual Batagor dan si pengendara motor. Untunglah Bapak penjual batagor tidak mengalami luka serius. Hanya kaki dan tangan si Bapak yang terlihat mengalami luka lecet.
Faza segera turun dari sepedanya. Faza membantu Bapak penjual batagor berdiri. “Bapak tidak apa-apa?” tanya Faza.
“Bapak tidak apa-apa nak. Hanya lecet-lecet,” Jawab Si Bapak.
Bapak penjual batagor menghampiri gerobaknya. Sebagian kaca pada gerobak itu pecah. Bahan-bahan serta peralatan untuk membuat batagor juga berserakan di aspal yang panas. Dari banyaknya bahan-bahan batagor itu, Faza menduga Si bapak baru akan mulai berjualan, jadi belum banyak barang dagangannya yang terjual. Faza merasa iba sekali.
Faza kemudian membantu Bapak penjual batagor mengangkat gerobak batagor. Saat itulah, tiba-tiba sebuah kantung kresek hitam jatuh dari bagian belakang gerobak. Setelah berhasil mendirikan gerobak batagor, Bapak penjual Batagor mendorong gerobaknya ke pinggir jalan. Bapak penjual batagor kemudian duduk beristirahat di bawah pohon Kersen di pinggir jalan.
Faza mengambil kantung kresek yang tadi jatuh dari gerobak. Faza penasaran, benda apa yang ada di dalamnya. “Ini apa ya Pak?” tanya Faza sambil duduk di sebelah Bapak penjual batagor
“Ogh.... itu sepatu anak Bapak. Tadinya Bapak ada rencana, setelah selesai berjualan hari ini, Bapak mau membelikan Iwan anak Bapak sepatu baru. Karena sepatu itu sudah tidak layak pakai. Bagian depannya sudah berlubang. Sebentar lagi kan liburan selesai, kasihan Si Iwan, kalau bersekolah memakai sepatu yang sudah berlubang. Tapi sepertinya Iwan harus sedikit lebih bersabar lagi...,”
“Maksud Bapak?”
“Iya nak. Hari ini kan barang dagangan bapak tidak bisa dijual lagi. Jangankan untung, modal untuk jualan besok juga tidak ada lagi. Jadi uang Bapak yang sedianya akan digunakan untuk membelikan Iwan sepatu baru, akan Bapak pakai untuk membeli modal jualan batagor besok, juga untuk memperbaiki gerobak Bapak yang rusak itu,”
“Ogh... begitu...,” Faza mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Boleh saya lihat sepatunya Pak?” tanya Faza kemuadian.
“Buka saja nak!” jawab Bapak penjual batagor.
Faza membuka bungkusan yang dibungkus kantung plastik hitam di tangannya. Sepasang sepatu hitam dengan nomor 38 ada di dalamnya. Seperti kata Bapak penjual batagor, bagian depan sepatu tersebut sudah berluang. Faza bertambah iba, pada Bapak penjual batagor dan anaknya. Mungkin anak Bapak penjual batagor seumuran dengan Faza, karena ukuran sepatu mereka sama. Saat melihat sepatu itu, tiba-tiba Faza punya ide.
“Kalau boleh tahu, nama Bapak siapa?”
“Nama Bapak Maman Nak,”
“Nama saya Faza Pak,”
“Bapak tunggu disini sebentar ya!” kata Faza. Ia kemudian mengayuh sepedanya, meninggalkan Pak Maman. Pak Maman merasa sedikit bingung dengan sikap Faza, tapi memang Pak Maman yang masih merasa kaget dengan peristiwa yang dialaminya, masih ingin beristirahat sebentar sebelum pulang ke rumahnya, jadi Pak Maman menuruti permintaan Faza.
Sekitar lima belas menit kemudian, Faza kembali ke tempat pak Maman beristirahat, dengan sebuah tas plastik di tangannya. “Ini untuk anak Pak Maman,” Kata Faza sambil mengulurkan tas plastik di tangannya.
Pak Maman menerima tas itu. Pak Maman kemudian membuka tas yang diberikan Faza. Saat mengetahui apa isi tas plastik itu, mata Pak Maman berkaca-kaca. “Apa ini nak? Dari mana Kamu dapatkan sepatu ini?”.
“Tenang saja Pak, Faza membeli sepatu itu dengan uang hasil tabungan Faza. Tadinya saya ingin menggunakan uang tabungan itu untuk membeli sepatu bola, tapi karena anak Bapak lebih membutuhkannya dibanding saya, saya belikan sepatu untuk anak Bapak. Saya bisa menabung lagi dan membeli sepatu bola itu di lain waktu. Lagi pula sepatu bola saya yang lama juga masih bisa dipakai kok Pak,”
Mendengar penjelasan Faza, Pak Maman meneteskan air mata. Pak Maman terharu sekali atas kebaikan hati Faza. “Te...terima kasih sekali nak. Kamu sungguh baik hati. Semoga Allah Yang Maha Kuasa membalas kebaikanmu nak,” Kata Pak Maman sambil memegang kedua tangan Faza.
“Sama-sama Pak Maman. Terima kasih doanya. Kalau begitu, saya permisi dulu ya Pak, sebentar lagi waktu ashar, saya harus segera pulang. Kalau tidak Bunda saya bisa khawatir”
“Sekali lagi, Bapak mengucapkan banyak terima kasih nak,”
“Ya Pak. Saya pulang dulu ya. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Meskipun tidak jadi membeli sepatu baru yang telah lama diimpikannya, Faza merasa bahagia. Ia bahagia karena telah membantu Pak Maman. Hari ini Faza belajar ternyata membuat orang lain bahagia akan membuat dirinya bahagia juga, bahkan lebih bahagia dibandingkan saat dia mendapatkan apa yang ia inginkan.
*****
Liburan telah usai. Hari ini hari pertama Faza di kelas lima. Faza bersemangat sekali berangkat ke sekolah. Waktu libur yang cukup lama, membuat Faza mulai merindukan suasana sekolah. Beberapa teman Faza memang tinggal tidak jauh dari rumah Faza, jadi walaupun libur sekolah, mereka tetap dapat bermain bersama, namun rumah beberapa teman Faza yang lainnya cukup jauh, sehingga mereka hampir tidak pernah bertemu selama liburan. Hari pertama sekolah sangat menyenangkan, apalagi hari ini belum mulai pelajaran. waktu terasa cepat sekali berlalu. Tiba saatnya pulang sekolah.
Seperti biasanya, Faza berangkat dan pulang sekolah dengan bersepeda. Sesampainya di rumah, Faza segera memasukkan sepedanya ke garasi, kemudian masuk ke dalam rumah. Dari dalam rumah terdengar suara Bunda dan Mala. Sepertinya mereka berada di dapur. Mala pulang lebih awal, karena ia masih TK.
“Assalamualaikum. Bunda, Faza pulang,”
“Waalaikum salam. Bunda di dapur sayang,” sahut Bunda.
Faza menyusul Bunda ke dapur. Rupanya Bunda sedang menyiapkan makan siang. “Bunda masak apa hari ini?” tanya Faza sambil mencium tangan Bunda.
“Bunda masak sayur sop dan ayam goreng. Ayo lekas ganti baju dan sholat sayang, setelah itu kita makan bersama-sama,” kata Bunda.
“Baik Bun,”  Jawab Faza sambil berjalan menuju Kamar.
Baru beberapa langkah Faza berjalan menuju kamar, tiba-tiba Bunda memanggil. “Tunggu Faza!” kata Bunda tiba-tiba. “Bunda lupa, Ada paket untukmu. Bunda letakkan di meja ruang tengah,”
“Paket? Dari siapa Bunda?” tanya Faza penasaran.
“Kamu lihat saja sendiri. Nanti Kamu pasti tahu,” jawab Bunda.
Faza segera berjalan menuju ruang tengah. Sebuah kotak terbungkus kertas warna coklat ada di atas meja. Setelah diamati, ternyata pada pembungkus paket itu tidak tertulis, siapa pengirim paket itu. Faza penasaran. Digoyang-goyangkannya kotak itu. Duk...duk..duk.... Seperti ada benda yang agak berat bergerak-gerak di dalamnya. Faza jadi semakin penasaran.
Faza segera mengambil gunting. Dengan hati-hati dibukanya kertas pembungkus kertas itu. Ternyata isi paket itu adalah sepasang sepatu bola. Sepatu bola merek terkenal, yang bahkan Faza tidak pernah berharap bisa membelinya karena terlalu mahal untuknya. Selain sepasang sepatu di dalam kotak tersebut juga terdapat sebuah amplop. Dari surat di dalam amplop tersebut, Faza tahu kalau yang mengirim sepetu tersebut adalah Om Farhan. Om Farhan adalah adik Bunda yang tinggal di Jakarta. Rupanya Om Farhan mengetahui dari Eyang, kalau Faza kemarin meraih rangking satu di kelasnya. Om Farhan mengirimkan sepatu itu sebagai hadiah untuk Faza. Om Farhan juga berpesan agar Faza semakin rajin belajar.
Namanya rezeki memang tidak akan kemana. Faza tidak jadi membeli sepatu dengan uangnya sendiri, malah mendapatkan sepatu yang lebih bagus dengan cuma-cuma. Faza jadi teringat salah satu nasehat Bunda. Bunda pernah berkata, setiap perbuatan baik akan dibalas Allah dengan berlipat ganda. Baru sekarang Faza jadi lebih mengerti maksud perkataan Bunda itu.

Pecahnya Kaca Perpustakaan



Cerpen Anak Pecahnya Kaca Perpustakaan
Cerita Anak Pecahnya Kaca Perpustakaan
Siang hampir mencapai puncaknya. Sinar matahari terasa semakin membakar kulit. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat siswa kelas 5A dan  kelas 6B yang tengah bertanding sepak bola di lapangan olah raga SD Cendikia Mulia dalam pertandingan olah raga antar kelas. Teman-teman sekelas mereka, berkerumun di sekeliling lapangan memberikan semangat. Pertandingan akan berakhir dalam beberapa menit, kedudukan sementara 2-1 untuk tim kelas 6B. Berulang kali kedua tim nyaris menggawangkan bola, namun karena pertahanan yang tangguh, semuanya kandas. Suasana menjadi riuh rentak setiap terjadi pergelutan seru di sekitar gawang.
Kegembiraan yang sama tidak dirasakan Adam. Adam hanya duduk di bawah pohon di tepi lapangan, iseng mempermainkan sebuah batu dengan kaki kanannya. Hatinya kesal. Seharusnya hari ini Adamlah yang menjadi bintang lapangan. Sebagai penyerang dia sudah banyak berperan dalam membawa tim kelas 5A ke babak final, namun karena cidera yang dia alami pada pertandingan terakhir melawan tim kelas 5B, ia harus absen dari pertandingan. Memang kaki Adam tidak terluka, tapi kondisinya tetap tidak memungkinkan untuk bertanding. Dan yang lebih menyebalkan, di saat seperti ini tidak ada seorangpun yang berada di sampingnya. Padahal dialah yang mengantarkan tim kelas 5A menuju kemenangan.
“Semua ini gara-gara Rico...,” gerutu Adam dalam hati. Matanya melirik tajam ke arah gedung perpustakaan di belakangnya. Di sana Rico tengah berdiri sambil menikmati segelas Milkshake di bawah jendela bagian belakang perpustakaan sekolah, tangan kirinya memegang pemukul untuk permainan kasti, memang kelas 5B baru saja menyelesaikan final pertandingan kasti dengan kelas 6A. Kemarin saat pertandingan antara kelas 5A dan kelas 5B, Adam dan Rico berebut bola di depan gawang, hingga akhirnya  Adam terjatuh dan tangannya terkilir.
Meskipun sama-sama siswa kelas 5, tubuh Rico jauh lebih besar dibandingkan Adam, bahkan diantara semua siswa kelas 5, tubuh Rico-lah yang paling tinggi dan kekar. Hal itu tidak mengherankan karena Rico pernah tinggal kelas. Kulitnya yang hitam dan matanya yang tajam, membuat penampilan Rico terlihat sangar. Rico juga termasuk anak yang sering berbuat ulah, membolos, membuat kegaduhan di kelas, tidak mengerjakan PR, juga kebiasaannya berbohong sering kali membuat Rico dipanggil ke ruang guru. Adam bahkan pernah mendengar, kabar burung yang mengatakan, jika sekali lagi Rico berbuat ulah, dia akan dikeluarkan dari sekolah. Adam berpikir pasti sekolah mereka pasti akan lebih aman jika Rico benar-benar dikeluarkan dari sekolah. Hati Adam sedikit mendendam, Rico memang tidak sengaja mencederai Adam, tapi tetap saja dia berpikir, karena peristiwa itu Adam tidak dapat bertanding di babak final. Tetapi Adam terlalu takut untuk melawan Rico, karena itu, Adam hanya bisa menggerutu dalam hati.
“ Ayo...ayo... ayo...,”. teriak para supporter di lapangan bola membuyarkan lamunan Adam. Lima menit lagi pertandingan berakhir, terjadi pergumulan seru kembali di depan gawang kelas 6B. Dafa, striker kelas 5A, di hadang Huda dari tim kelas 6B. Setelah pergumulan seru, akhirnya Dafa berhasil mencuri kesempatan menendang bola. Bola pun menggelinding cepat kearah kanan gawang. Ilham sang penjaga gawang bergegas mengejar bola, tapi tubuhnya terpelanting ke tanah. Bola tak terkejar...Tapi.... bola justru membentuk tiang gawang, kemudian terpental menjauhi gawang. Aaaahhhh....teriak Adam kesal. Seandainya saja dia yang menendang bola, mungkin hasilnya akan berbeda. Reflek badannya berputar dan kakinya menendang batu yang sejak tadi dipermainkannya.
Bersamaan dengan bunyi peluit terakhir, praaaangg.... tiba-tiba kaca perpustakaan yang berada tepat di belakang Rico, pecah berantakan. Semua mata menoleh ke arah Rico. semua orang mengira Rico yang memecahkan kaca tersebut. Semua orang, kecuali Adam.
Setelah kejadian itu, Pak Anton mengumumkan melalui pengeras suara, bahwa para siswa diperintahkan masuk ke kelas masing-masing, sedang Rico dibawa ke ruang guru. Meskipun tidak mengaku bahwa ia yang menyebabkan pecahnya kaca ruang perpustakaan, namun Rico juga tidak dapat membuktikan kalau bukan dia pelakunya. Banyak yang tidak mempercayai perkataan Rico, karena mereka tahu Rico sering berbohong, apalagi saat itu Rico memang sedang membawa pemukul kasti. Semua anak tak berhenti membicarakan nasib Rico, hingga bel pulang berbunyi. Beberapa anak berkata, mungkin saja Rico akan dikeluarkan dari sekolah.
Sepanjang perjalanan pulang, Adam terus memikirkan apa yang baru saja terjadi, Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Adam terlalu takut untuk mengakui kesalahannya sendiri. Selain takut dirinya akan dihukum, Adam ingin membiarkan Rico di anggap bersalah, sebagai pembalasan atas perbuatan Rico padanya kemarin. Tapi hati kecilnya berkata, ini tak adil untuk Rico. Mungkin Rico akan dikeluarkan dari sekolah, karena satu hal yang bukan benar-benar kesalahannya.
Hingga larut malam, Adam tidak  bisa tidur. Tok.. tok, tok, “ Kamu belum tidur sayang?” Terdengar suara mama dari arah pintu. “ Belum Ma..,”. jawab Adam singkat.
Mama Adam membuka pintu, lalu duduk di sebelah Adam. “Anak mama kenapa sih? Sejak tadi siang mama perhatikan, seperti ada yang kamu pikirkan. Coba cerita sama mama, mungkin Mama bisa bantu!” Adam tidak segera menjawab pertanyaan mamanya. Dilingkarkannya kedua tangannya di pinggang mamanya. Mama Adam memeluk anaknya penuh kasih sayang. Memeluk pinggang mamanya selalu bisa membuat Adam merasa tenang.
Setelah perasaannya tenang, Adam mulai menceritakan masalah yang mengganggu pikirannya. Mama mendengarkan cerita Adam dengan penuh perhatian. Sesekali Mama mengangguk-anggukkan kepalanya. Mama Adam tersenyum lembut saat Adam mengakhiri ceritanya.
“Sayang..., Mama senang kamu mau cerita sama Mama. Kalau menurut Mama, sebaiknya kamu berkata jujur. Kamu tahu kenapa? Karena setiap hal yang kita lakukan di dunia ini, harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Dan kamu ingat kan? Setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan oleh Tuhan, tapi kalau kamu mencelakakan Rico, apa kira-kira balasannya?” Ucap mama Adam dengan lembut.
Adam tertegun, merenungkan pertanyaan mamanya. “ Tapi Adam takut Maa..,”.
“ Kenapa harus takut. Adam kan sudah besar, perlu belajar untuk menjadi pria yang bertanggung jawab. Orang yang bertanggung jawab itu, harus siap menanggung segala akibat atas perbuatannya bukan? “ ucap mama sambil tersenyum.
Adam tidak menjawab, tangannya semakin erat memeluk mamanya. “Dengar Sayang..,” kata mama Adam kemudian. “ Kalau kamu tidak berkata jujur, kamu nantinya akan dihantui rasa bersalah. Coba kamu renungkan, bagaimana nasib Rico selanjutnya, kalau dia benar-benar dikeluarkan dari sekolah?”
“ Jadi Adam harus jujur ya Ma?” tanya Adam. “Ya iya dong sayang.... Coba Kamu bayangkan, kalau misalnya Kamu yang ada di posisinya Rico! Kamu harus menerima hukuman, padahal bukan Kamu yang memecahkan kaca itu. Kamu mau tidak?” tanya Mama Adam.
“Iya Ma, Mama benar. Besok Adam akan menceritakan yang sebenarnya sama Pak Ilyas. Adam akan menerima hukuman apapun yang diberikan Pak Ilyas Ma,”
“ Nah begitu, baru anak Mama... Mama bangga, Kamu belajar bertanggung jawab atas apa yang sudah Kamu lakukan. Perlu Mama antar sayang?”
“ Nggak usah Ma, Adam kan sudah besar”
“Wah... Mama semakin bangga sama kamu, sayang... “ Ucap Mama Adam sambil mengecup kening anak kesayangannya. “Ya sudah, sekarang kamu tidur, supaya besok tidak bangun kesiangan”. Ucap mama mengakhiri percakapan. Adam akhirnya dapat tidur dengan tenang.
Keesokan harinya, Adam benar-benar menghadap Pak Ilyas dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ternyata berkata jujur tak sesulit yang dibayangkan. Hukuman berat yang selama ini ditakutkan Adam juga tak menjadi kenyataan. Adam hanya disuruh mengganti kaca yang pecah dan membantu membersihkan ruang perpustakaan selama satu minggu. Pak Ilyas memaklumi, karena hal tersebut terjadi, bukan karena faktor kesengajaan. Bahkan Adam mendapatkan teman baru sekarang. Rico yang merasa sangat berterima kasih, karena kejujuran Adam, kini menjadi sahabat barunya.


Cerita di atas adalah salah satu cerpen dalam buku kumpulan cerpen yang saya tulis dan diterbitkan pada tahun 2017. Terima kasih sudah membaca. Mohon kritik dan sarannya ya !!

Buku Terjebak di Sarang Penjahat

Judul: Terjebak di sarang penjahat, kumpulan cerpen anak
Penerbit: Penerbit Haekal Inti Pustaka
Pengarang: penulis, Asih Pujiariani ; editor, Nur Hadi ; penyunting, Siti Rofiatun
Tahun: 2018
ISBN: 978-602-61676-4-4

Pelajaran Berharga untuk Mia


Cerpen Anak Pelajaran Berharga untuk Mia

Mia adalah siswi kelas lima yang rajin dan pintar, hampir setiap ulangan semester ia mendapatkan nilai yang paling tinggi dibandingkan teman-temannya. Meskipun rajin dan pintar, Mia punya satu sifat buruk, yaitu sedikit sok kuasa. Mia selalu merasa paling pintar dan paling benar diantara teman-temannya, sehingga jika ada tugas kelompok Mia yang akan membagi tugas dan mengatur teman-temannya dalam mengerjakan tugas. Terkadang bahkan Mia mengerjakan sendiri, semua tugas yang seharusnya dikerjakan secara berkelompok.
Sebenarnya sifat Mia tersebut tidak selalu merugikan teman-temannya. Ada saatnya cara Mia mengatur teman-temannya, membuat tugas kelompok yang diberikan Bu Guru cepat selesai, tetapi yang kadang-kadang juga teman-teman sekelompok Mia jadi tidak memahami materi yang diberikan Bu Guru. Padahal Bu Guru memberikan tugas kelompok agar setiap anggota kelompok dapat saling membantu dalam belajar.
Jika teman-teman Mia memberikan usul saat diskusi kelompok, Mia lebih sering mengabaikan atau menyanggah usul tersebut. Mia berfikir, ia yang paling pintar, jadi pasti selalu lebih benar dibanding teman-temannya. Kadang-kadang Mia malah marah jika ada temannya ada yang mengajukan usul yang tidak sesuai dengan pendapat Mia sendiri. Kalau sudah begitu, teman-teman Mia lebih memilih untuk mengalah.
Kali ini Bu Aryani, yang mengajar kelas lima, memberikan tugas untuk membuat dialog dan memperagakannya di depan kelas. Tugas tersebut harus dikerjakan secara berkelompok. Dalam tugas tesebut Mia satu kelompok dengan Dea, Maya, dan Caca.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Bu guru mengenai tugas dalam pelajaran IPA tersebut, Mia meminta teman-temannya berkumpul di rumahnya sepulang sekolah. Mia meminta mereka datang tepat pukul satu siang. “Nanti Kita berkumpul di rumahku tepat jam satu siang ya! Awas jangan telat!” kata Mia tanpa meminta pendapat teman-temannya lebih dahulu.
“Tapi Mia, aku tidak...,” kata Dea dengan ragu-ragu.
“Kamu kenapa? Kamu nggak mau? Ya sudah, tidak usah satu kelompok denganku saja,” Potong Mia. Ia bahkan tidak mau mendengarkan kata-kata Dea hingga selesai.
“Bukan begitu Mia, kalau ....,” belum lagi Dea menyelesaikan kat-katanya Mia kembali memotong perkataan Dea.
“Sudah... sudah! Pokoknya aku tidak mau ada alasan apapun. Kalau siapapun diantara Kalian tidak datang tepat jam satu siang, Kalian tidak usah satu kelompok denganku,” Kata Mia dengan nada yang meninggi. “Awas ya, jangan sampai telat!” lanjut Mia.
Melihat Mia yang sudah mulai marah-marah, Dea, Maya dan Caca tidak berani bicara lagi. Mereka sudah faham tabiat Mia. Kalau sudah mulai marah seperti itu, kata-kata siapapun tidak akan didengarkan oleh Mia.
Siang itu, tak satupun teman sekelompok Mia datang ke rumahnya. Mia merasa kesal sekali. Ia marah karena teman-temannya mengabaikan kata-katanya.
Keesokan harinya Mia mendiamkan teman-temannya. Mia masih marah karena kejadian  hari sebelumya. Bahkan Mia masih mendiamkan teman-temannya hingga seminggu kemudian. Mia lebih memilih untuk menyelesaikan tugasnya sendiri. Ia berpikir, tanpa bantuan teman-temannyapun Mia dapat menyelesaikan semua tugas dengan baik, karena ia pintar. Mia berpikir teman-temanya yang rugi, karena tidak jadi teman satu kelompok Mia.
Akhirnya tibalah hari pengumpulan tugas. Kelompok Mia mendapatkan giliran yang pertama untuk maju ke depan kelas. “Baiklah, sekarang Kita persilahkan kelompok Cut Nyak Dien untuk memperagakan dialog yang telah dibuat. Silahkan Dea, Mia, Maya dan Caca”. Kata Bu Aryani
Mendengar perintah Bu Aryani, Mia jadi kaget. Karena marah, Mia jadi lupa, kalau setiap kelompok juga harus memperagakan dialog yang dibuat di depan kelas. Bagaimana mungkin Mia dan teman kelompoknya memperagakan dialog tersebut di depan kelas, karena Mia sendirilah yang membuat dialog itu, sedangkan teman-temannya tidak tau sedikitpun isi dialog tersebut.
“Ayo Mia, .... Dea...! Kok diam saja? Jangan katakan kalau kalian belum siap!” kata Bu Aryani, ketika tak satupun anggota kelompok Cut Nyak Dien maju ke depan kelas.
Dea, Maya dan Caca hanya saling pandang dengan wajah sedikit tertunduk. Semetara itu wajah Mia mulai memerah. Mia merasa marah sekaligus malu. Marah karena Mia menganggap teman-temannya tidak bisa diajak bekerja sama, sehingga Mia tidak dapat menyelesaikan tugas dari Bu Aryani dengan baik. Malu karena Mia tidak melaksanakan tugas dengan baik, juga malu karena karena ketahuan tidak kompak dengan teman-temannya.
“Mia... Dea.... Caca.... Maya.... ada apa? Apakah kalian belum menyelesaikan tugas dari Ibu?” tanya Bu Aryani sambil mendekat ke arah bangku mereka berempat.
“Sudah Buat kok Bu,” Jawab Mia masih dengan wajah tertunduk. Mia kemudian menyerahkan naskah dialog yang sudah dibuatnya pada Bu Aryani.
Bu Aryani membaca naskah dialog yang diberikan oleh Mia. “Bagus kok! Terus kenapa, dari tadi kok belum maju juga? Apakah kalian tidak mengerjakannya bersama-sama?”  tanya Bu Aryani lagi.
“Iya Bu, habis mereka tidak mau ikut mengerjakan,” Jawab Mia.
Mendengar kata-kata Mia, Caca segera menyahut “ Bohong Bu, Mia sendiri yang tidak mau sekelompok dengan Kami. Jadi kami bertiga membuat sendiri, tanpa Mia. Ini Bu, dialog yang Kami buat,” kata Caca sambil menyerahkan hasil kerjanya bersama Maya dan Dea.
“Betul Bu! Mia bilang kalau Kami tidak bisa datang tepat jam satu ke rumahnya, kami tidak boleh satu kelompok dengan Mia. Padahal hari itu Saya dan Caca ada latihan taekwondo, sedangkan Maya hari itu harus pergi ke rumah neneknya bersama kedua orang tuanya,” tambah Dea.
“Kok Kamu nggak bilang sebelumnya?” jawab Mia. Mia semakin emosi karena merasa dipojokkan.
“Bukan Kami yang tidak mau bilang, tapi Kamu yang tidak mau mendengarkan alasan Kami,” Jawab Caca.
Mia kemudian teringat percakapannya dengan teman-temannya seminggu yang lalu. Mia mulai menyadari kesalahannya. Ternyata semua ini terjadi karena sikapnya yang selalu mau menang sendiri. Mia sadar, seharusnya ia mau mendengarkan alasan teman-temanya waktu itu.
Bu Aryani kemudian menengahi perselisihan antara Mia dan teman-temannya. Mereka diberi kesempatan untuk bersama-sama memperbaiki dialog yang sudah dibuat agar dapat diperagakan bersama-sama.
Bu Aryani juga menasehari Mia agar memperbaiki sikapnya. Sikap sombong dan sok kuasa pada akhirnya akan merugikan Mia sendiri. Bu Aryani juga meminta Mia dan teman-temannya untuk saling memaafkan. Kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga untuk Mia. 



Cerita di atas adalah salah satu cerpen dalam buku kumpulan cerpen yang saya tulis dan diterbitkan pada tahun 2017. Terima kasih sudah membaca. Mohon kritik dan sarannya ya !!

Judul: Terjebak di sarang penjahat, kumpulan cerpen anakPenerbit: Penerbit Haekal Inti PustakaPengarang: penulis, Asih Pujiariani ; editor, Nur Hadi ; penyunting, Siti RofiatunTahun: 2018ISBN: 978-602-61676-4-4