This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Koneksi Antar Materi. Show all posts
Showing posts with label Koneksi Antar Materi. Show all posts

Bagaimana Seorang Pemimpin Pembelajaran Mengejawantahkan Patrap Triloka

Bagaimana Seorang Pemimpin Pembelajaran  Mengejawantahkan Patrap Triloka
Bagaimana Seorang Pemimpin Pembelajaran  Mengejawantahkan Patrap Triloka



 

Tugas 3.1.a.8. Koneksi Antar materi Modul 3.1  Pelatihan Guru Penggerak: “Bagaimana Seorang Pemimpin Pembelajaran  Mengejawantahkan Patrap Triloka”


Peran Penting Guru Sebagai Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya

 Koneksi Antar Materi Modul 3.2

PERAN PENTING GURU SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN  
DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA


Guru Sebagai Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya

Sekolah merupakan sebuah institusi pendidikan, yang bertujuan menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi siswa-siswinya, mengembangkan potensi dan kekuatan yang dimilikinya agar siswa dapat meraih kebahagiaan dan kesuksesan, juga menjadi anggota masyarakat yang cakap dan berkarakter. Sebagai sebuah komunitas, dalam mencapai tujuannya, senantiasa terjadi interaksi antara berbagai komponen di dalam sekolah. Komponen sekolah sendiri, dapat dibedakan menjadi komponen manusia, dan faktor-faktor pendukung. Sumber daya manusia dan faktor pendukung berupa keuangan maupun sarana dan prasarana merupakan aset atau modal utama bagi sekolah. Baik komponen yang berupa sumber daya manusia, maupun komponen  pendukung seperti sarana dan prasarana atau keuangan diharapkan mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis, agar tujuan sekolah dapat tercapai. 

Diantara keseluruhan modal/aset sekolah, manusia, terutama guru, memegang peran kunci yang menentukan keberhasilan sekolah. Guru sebagai manusia dengan bekal cipta, rasa, dan karsa yang dikaruniakan Tuhan, memiliki kemampuan mengelola segala sumber daya yang dimiliki untuk sebaik-baik kepentingan muridnya. Hal tersebut merupakan bagian dari peran guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, seorang guru juga dituntut mampu mengelola seluruh sarana dan prasarana maupun dana yang dimiliki untuk mengembangkan potensi siswa semaksimal mungkin, baik di dalam kelas, di dalam sekolah, maupun dalam lingkungan yang lebih luas yakni di dalam masyarakat sekitar sekolah. 


Gambar    1  Peran penting guru sebagai pengelola sumber daya pembelajaran


Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, aset atau modal utama dikelompokkan menjadi 7 (tujuh), yaitu: modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya. Diantara ketujuh modal tersebut, modal manusia, modal fisik dan finansial merupakan komponen yang terpenting di sekolah. Modal manusia atau sumber daya manusia yang berkualitas, sangat penting. Dengan segenap potensi yang dimiliki, manusia dapat mengoptimalkan pengelolaan dan pengembangan potensi-potensi yang lain, apalagi jika didukung modal fisik (sarana dan prasarana) dan modal finansial yang memadai.  

Gambar    2  Aset Utama Komunitas

Dalam pengelolaan dan pengembangan aset, ada beberapa pendekatan yang dapat dipilih. Pengelolaan aset secara konvensional lebih banyak menggunakan pendekatan berbasis defisit, namun dewasa ini Asset-Based Community Development (ABCD) dipercaya lebih mampu membawa dampak positif dibandingkan pendekatan konvensional. Sebagai sebuah kerangka kerja yang dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010) merupakan kritik terhadap pendekatan konvensional yang menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain.

Asset-Based Community Development (ABCD) atau Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir positif mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif. Jika pendekatan tersebut diadaptasi ke dalam kelas, untuk menjadikan siswa lebih produktif, maka yang dilakukan adalah berfokus pada kelebihan atau potensi-potensi yang dimiliki murid, dan bukan pada kekurangan-kekurangan yang mereka miliki. Murid diajak untuk mengoptimalkan kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki, agar dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan di masa yang akan datang. 


Gambar    3  Berfikir berbasis aset vs berfikir berbasis defisit


Hubungan PKBA dan Konsep Ki Hajar Dewantara

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) sangat relevan dengan konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, dimana tujuan pendidikan menurut KI Hajar adalah untuk mengembangkan kodrat alam murid semaksimal mungkin. Kodrat alam atau potensi, bakat dan kecenderungan murid merupakan aset yang dimiliki murid. Sangat mengagumkan, bagaimana Ki Hajar Dewantara beberapa dekade yang lalu telah menerapkan pengembangan berbasis aset. Dalam mendidik murid, Bapak Pendidikan Indonesia tersebut menekankan agar guru mendukung tumbuh kembangnya potensi yang dimiliki anak melalui sistem momong, among, dan ngemong. Dimana murid tidak dipandang sebagai objek pendidikan, melainkan subjek yang dibimbing dan diarahkan untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi dalam dirinya.


Hubungan Inkuiri Apresiatif, BAGJA dan PKBA

Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara tidak terbatas pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan, namun yang justru sangat penting menurut beliau adalah pengembangan karakter atau budi pekerti. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengembangkan budaya positif di sekolah, agar kebiasaan baik yang dibudayakan tersebut berkembang menjadi karakter. Dalam pengembangan budaya positif di sekolah, salah satu pendekatan yang disarankan adalah BAGJA. BAGJA yang menggunakan paradigma inkuiri apresiatif, pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan. Inkuiri apresiatif melalui pendekatan dan langkah-langkah BAGJA juga menggunakan prinsip psikologi positif, yang berfokus pada kekuatan. Jadi BAGJA memiliki persamaan dengan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA). Pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Oleh karena itu, langkah-langkah BAGJA dapat diterapkan dalam upaya pengembangan komunitas melalui Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA).


Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) dalam Kerangka Diferensiasi

Salah satu langkah penting Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) adalah pemetaan aset. Dalam proses pemetaan komunitas sekolah menginventarisir seluruh aset/ modal yang dimiliki termasuk modal manusia. Modal manusia yang dimiliki sekolah antara lain guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, murid, orang tua dan tokoh masyarakat, serta pengawas sekolah. Masing-masing komponen tentu memiliki potensi yang berbeda-beda, dengan bentuk dukungan yang juga beragam bentuknya bagi sekolah. Proses pemetaan modal yang dimiliki sekolah, sesungguhnya juga merupakan pemetaan diferensiasi dari semua komponen modal yang dimiliki. 

Dari proses pemetaan, selanjutnya melalui tahapan BAGJA, digali mimpi bersama mengenai kondisi ideal yang diharapkan atau akan diwujudkan. Mimpi yang dirumuskan bersama tersebut tentu adalah kondisi yang dapat mengakomodasi keberagaman yang ada, diupayakan bersama, dan diharapkan dapat membawa kebaikan bagi semua pihak.


Mewujudkan Pembelajaran Sosial Emosional dan Berdiferensiasi melalui Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) 

Dalam pembelajaran sosial emosional dan berdiferensiasi, selain pengkondisian kegiatan pembelajaran, aspek-aspek emosi dan interaksi sosial di kelas dan sekolah, hal yang tidak kalah penting adalah pengaturan lingkungan belajar serta sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pembelajaran tersebut. Namun demikian, kondisi riil di sekolah tidak selalu ideal. Tidak semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan tersedia. Selain itu aspek emosi dan interaksi sosial juga tidak selalu seideal yang diharapkan. Namun demikian kekurangan-kekurangan tersebut tidak harus selalu menjadi hambatan. Melalui Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA), komunitas sekolah dapat mengupayakan kondisi ideal yang diharapkan atau setidaknya mendekati kondisi tersebut. Bersama-sama seluruh komponen sekolah dapat menggali potensi-potensi yang ada, yang dapat diberdayakan untuk membawa sekolah ke arah yang lebih baik.


Hubungan PKBA dan Coaching

Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) melalui langkah BAGJA merupakan  pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan. Pendekatan tersebut melibatkan seluruh komponen dalam komunitas. Dalam praktek di sekolah, guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran tidak harus menjadi penentu segala kegiatan dan keputusan. Akan lebih berdampak pada peningkatan potensi murid, bila dalam kegiatan yang dilaksanakan guru bertindak sebagai coach yang menggali dan mengembangkan kekuatan peserta didik melalui pertanyaan-pertanyaan pembimbing, sehingga guru dapat memaksimalkan potensinya sendiri. Guru dapat mengambil peran ing madya mangun karsa dan tutwuri handayani, sehingga murid dapat meraih keberhasilan dan menemukan solusi dengan kemampuannya sendiri.


Guru Sebagai Pemimpin Pembelajaran dan Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Dalam setiap program dan kegiatan sekolah, termasuk dalam PKBA masalah, tantangan, dan hambatan sering kali muncul. Meskipun program telah dirancang dengan matang, pengorganisasian seluruh komponen telah dilakukan dengan usaha maksimal, terkadang ada saja hal-hal tidak terduga terjadi. Terkadang guru juga dihadapkan situasi-situasi sulit, baik terkait bujukan moral, maupun dilema etika. Dalam menghadapi situasi-situasi tersebut, kemampuan guru dalam mengambil keputusan diuji. Seorang pemimpin pembelajaran yang baik harus mampu mengambil keputusan dengan bijak, mempertimbangkan sisi positif dan negatif dari setiap keputusan dengan matang. Mempergunakan 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, dapat membantu guru sehingga ia dapat memutuskan pilihan mana yang lebih baik dalam keberpihakan kepada murid. 


Modul 3.2 dan Dampaknya 

Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, saya lebih banyak berpikir dengan berorientasi pada defisit, baik dalam menjalankan tugas di sekolah maupun dalam kehidupan pribadi saya. Saya lebih banyak melihat apa yang kurang, permasalahan, dan hal-hal yang perlu diperbaiki, baru kemudian berusaha menemukan solusi dari permasalahan-permasalahan tersebut, dalam mengupayakan perbaikan. 

Mempelajari modul 2.3 sedikit banyak merubah paradigma saya. Saya mulai berfikir, jika berfokus pada kelebihan, potensi, serta hal-hal positif lainnya, dan mengabaikan masalah-masalah yang ada, mungkin akan membawa dampak yang lebih baik. Berpikir mengenai kelebihan akan memberi lebih banyak energi positif dan semangat untuk lebih maju, dibandingkan berpikir sebaliknya.  Melakukan perubahan atas kebiasaan yang sudah mendarah daging tentu tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Sedikit demi sedikit saya akan mencoba merubah cara berpikir saya dan saya berharap hal tersebut akan membawa dampak yang baik bagi diri saya sendiri maupun murid-murid saya di masa yang akan datang.



Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara



Alhamdulilah, di masa pandemi ini, saya berkesempatan menjadi peserta program Pendidikan Guru Penggerak yang diluncurkan kemdikbud dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia dengan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik.

Sebelum mengikuti PGP dan mempelajari modul 1.1 khususnya pada materi “Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara” dalam pembelajaran saya banyak dipengaruhi pendapat Dale dan Piaget. Saya merasa sepaham dengan Piaget yang mengatakan bahwa dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Juga pendapat bahwa pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial sehingga jika anak tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Selama ini, saya lebih banyak melihat dan menilai pembelajaran dari sisi kognitif, namun meskipun sepakat dalam hal tersebut, saya kurang sependapat pada pendapat Piaget bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik semata, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Sebagai individu yang berkembang di lingkungan yang cukup religius, saya merasa pendapat tersebut agak bertentangan dengan kepercayaan saya akan campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia. Saya percaya bahwa Tuhan, menciptakan alam semesta dengan keteraturan (hukum alam), namun demikian jika Dia berkehendak, sangat mudah bagi Tuhan untuk membuat sesuat di luar hukum alam tersebut.

Dari Dale saya menjadi percaya pentingnya media dan aktivitas yang tinggi dalam pembelajaran. Hal tersebut juga yang melatarbelakangi saya mencoba mengembangkan beberapa media pembelajaran dan mempraktekkan berbagai strategi pembelajaran yang berbeda. Namun demikian dalam praktek nyata di kelas, saya menemukan tidak sepenuhnya teori-teori tersebut bisa memberi dampak yang diharapkan. Dengan pemanfaatan media dan strategi pembelajaran yang sama, sering kali menimbulkan hasil belajar yang sangat bervariasi pada setiap siswa. Pada siswa yang sama pun terkadang hasil belajar berbeda, ketika ada faktor psikologis yang mempengaruhi.

Setelah mempelajari Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, saya mendapatkan banyak tambahan wawasan. Salah satu yang cukup membekas di benak saya adalah mengenai pentingnya peran keluarga dalam proses pembelajaran, juga pembelajaran yang berazaskan kekeluargaan (asah, asih, asuh). Saya sangat terkesan mendengar kisah Ki Hajar yang dibagikan Ki Priyo Dwiarso pada salah satu sesi Video Confrence mengenai bagaimana sikap beliau pada para siswa. Ki Hajar mencetuskan sistem among yang berazaskan kekeluargaan agar anak tidak merasa tercerabut dari perasaan kasih sayang keluarga yang ikhlas suci dari orang tua. Peran orang tua tersebut diharapkan dapat digantikan guru di sekolah.

Dalam sistem among, KHD lebih mengedepankan pedagogi. Peran guru layaknya seorang pengasuh (fasilitator) yang membimbing dan mengasuh anak didiknya dengan ikhlas, sesuai minat dan bakat anak yang diasuh. Untuk itu, guru harus dapat mencermati minat, bakat dan kemampuan masing-masing siswa agar jiwa sang anak tetap merdeka lahir batin dalam belajar. Dengan kata lain, sistem among itu bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan.

Menurut KHD dalam mendidik seorang guru harus dapat membaca kodrat alam siswa. Meskipun kodrat alam tersebut terus maju, seiring olah budaya manusia, ada beberapa kodrat alam yang dapat dimanfaatkan dalam KBM. Salah satu kodrat alam anak menurut beliau adalah tenteram dan nyaman di alam kekeluargaan, maka sistem among membawa suasana kehangatan keluarga dalam KBM. Selain itu, kodrat alam yang juga dimiliki anak adalah bermain. Kodrat alam tersebut perlu difasilitasi dengan muatan dolanan anak dan simulasi. Dengan membaca dan memfasilitasi kodrat alam anak, guru dapat mengembangkan minat dan bakat anak, sehingga anak lebih aktif encari tahu, dibadingkan menunggu diberi tahu.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa Ki Hajar Dewantara Sang Bapak Pendidikan Indonesia melihat manusia lebih pada sisi psikologisnya. Menurut beliau manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.



Menurut KHD, guru hendaknya memiliki kepribadian dan kerohanian yang bermutu, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan. Guru juga diharapkan dapat menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Bisa dikatakan bahwa menurut KHD, yang diutamakan dari seorang pendidik adalah fungsinya sebagai model atau figur keteladanan bagi siswa, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Nama Ki Hajar Dewantara sendiri memiliki kaitan erat dengan pendapat di atas. Nama tersebut mengandung makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, dan keutamaan. Seorang pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

Semboyan “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” sesungguhnya mengandung makna yang mendalam. “Tut wuri handayani” yang maknanya “Dari belakang memberikan dorongan dan arahan”, sedangkan “Ing madya mangun karsa” yang artinya “Di tengah menciptakan prakarsa dan ide”, dan “Ing ngarsa sung tulada” yang artinya “Di depan memberi teladan atau contoh tindakan baik” menggambarkan peran ganda guru dalam mendidik. Guru harus bisa membaca keadaan, kapan ia harus berperan sebagai seorang panutan yang memiliki peran dominan dalam memberikan teladan, kapan ia harus membersamai siswa dan berada ditengah-tengah mereka untuk menciptakan prakarsa dan ide, dan kapan harus berada di belakan para siswa dan memberikan dorongan dan arahan.

 Ki Hajar Dewantara juga pernah melontarkan konsep belajar 3 dinding. Sebuah konsep pendidikan mencerminkan tidak adanya batas atau jarak antara pembelajaran di kelas dengan realita di masyarakat.  Belajar bukan sekedar teori dan praktek disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Dengan demikian diharapkan para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak di masyarakat setelah lulus dari sekolah.

Pandangan lain Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan adalah bahwa pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam arti bahwa menjadi manusia yang mandiri agar tidak tergantung kepada orang lain baik lahir maupun batin. Namun demikian kemerdekaan disini tidak berarti kebebasan tanpa batas, melainkan bebas yang mejaga tertib dan damainya hidup bermasyarakat. Sistem among melarang hukuman dan pemaksaan dalam KBM karena akan menghambat pertumbuhan jiwa merdeka sang anak. Namun demikian, pemberian sanksi dibolehkan, selama sifatnya seimbang, netral dan adil.

Pengetahuan mengenai Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, merupakan informasi berharga yang bisa saya bawa kembali ke kelas saya. Sistem among berazaskan kekeluargaan dengan “asah, asih, dan asuh” mengingatkan saya kembali akan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Banyaknya beban kurikulum, tuntutan pengembangan karir, administrasi, dan banyak masalah lain sepertinya cukup menghabiskan energi keikhlasan dalam diri saya selama ini. Mugkin inilah saatnya untuk kembali “merdeka”. Kembali meluruskan niat, kembali membenahi diri agar menjadi pribadi yang bermutu kepribadian dan kerohaniannya, sehingga dapat menjadi sosok teladan bagi siswa.

Selain langkah di atas, dari pandangan KHD mengenai bagaimana memfasilitasi kodrat alam anak dalam KBM, saya ingin mencoba menerapkan pembelajaran bermuatan dolanan anak. Dengan langkah tersebut siswa lebih menikmati proses belajarnya, belajar berbagai karakter posittif, juga dapat mencapai hasil belajar yang diamanahkan kurikulum. dengan  kata lain anak juga akan "Merdeka Belajar"

 

“Merdeka!!!!”